Bisakah Media Massa Dipercaya?
Penyerbuan Israel ke Jalur Gaza yang lalu menyisakan pertanyaan bagi media massa. Bisakah media massa, baik cetak maupun elektronik, dipercaya? Pertanyaan ini muncul karena banyak orang merasa melihat dengan jelas keberpihakan media massa pada kasus tersebut. Pada kasus tersebut terlihat kebanyakan media massa Indonesia, yang merujuk media Arab, kentara mendukung Palestina. Sedangkan media Barat kebanyakan mendukung Israel.
Apakah media berpihak? Kemungkinan ini cukup besar. Bahkan tidak dapat dipungkiri setiap media tampaknya memiliki keberpihakannya masing-masing. Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong media massa berpihak, yaitu: faktor pemilik media, faktor pengiklan, dan faktor penguasa. Jika salah satu saja faktor di atas memiliki kecenderungan tertentu, media akan terdorong untuk berpihak.
Namun demikian, hampir mustahil jika media massa sampai berbohong. Apalagi jika dituduhkan pada media massa besar. Mereka dengan pengabdian cukup panjang telah menjadi besar di mata masyarakat. Dalam era informasi sekarang, kebohongan atau keteledoran dalam membuat berita sangat mudah diketahui. Tentu yang dipertaruhkan tidak sebanding dengan citra yang dibangun. Alasan ini pula yang membuat masyarakat cenderung memilih media massa besar karena kemungkinan media ini berbohong hampir tidak ada.
Cukup mudah bagi media massa berpihak tanpa berbohong. Untuk kasus penyerbuan Israel ke Palestina misalnya, bukankah kejadiannya sama tetapi mengapa berita yang sampai kepada kita tidaklah sama? Kita harus menyadari media massa tidak dapat memuat seluruh fakta yang ada dengan halamannya yang terbatas.
Salah satu cara media massa berpihak dengan menyeleksi berita yang akan ditampilkan. Pada kasus di atas, media massa yang berpihak pada Israel biasanya lebih banyak menyajikan berita tentang bagaimana penderitaan penduduk Israel di bawah gempuran rudal yang diluncurkan pihak HAMAS. Begitu pula dengan media massa yang berpihak pada Palestina. Media tersebut akan menampilkan berita tentang jumlah korban dan penderitaan yang dialami di pihak Palestina yang terus menerus bertambah.
Media pun dapat menyeleksi narasumber dalam menyikapi suatu peristiwa. Media dapat memilih rujukan menteri pertahanan Israel jika pro-Israel atau Khaled Meshal jika pro-HAMAS ketika mencari jumlah korban di kedua belah pihak. Angka yang ditampilkan setiap media bisa berbeda tetapi tanpa harus berbohong.
Ada cara lain yang dipergunakan media massa yang berpihak, yaitu dengan pemilihan bahasa. Bahasa pada dasarnya tidaklah netral. Media yang mendukung perjuangan Palestina akan menyebut bom syahid pada aksi pengeboman yang mengorbankan nyawa pengebomnya. Sedangkan bagi yang kontra akan menyebutnya dengan istilah bom bunuh diri.
Menyikapi fakta demikian, kita harus cerdas dalam membaca media. Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran dari suatu peristiwa. Pertama, kita harus dapat memisahkan antara fakta dan opini. Fakta adalah realitas-realitas yang benar-benar terjadi. Sedangkan opini merupakan pendapat, perkiraan, analisis atau pandangan media massa atau rujukan yang digunakan media massa terhadap suatu fakta. Dan sebagai pembaca cerdas tidak boleh sampai terjebak opini media massa dan fokus hanya pada fakta yang terjadi.
Kedua, membaca lebih dari satu media untuk mendapat perbandingan. Salah satu cara menilai media berpihak dengan melihat porsi yang diberikan terhadap suatu berita tertentu. Jika suatu berita terus-menerus menggunakan suatu rujukan tertentu dan jumlahnya tidak berimbang dengan yang lain, dapat dipastikan media itu sedang berpihak. Kita perlu melakukan perbandingan dengan media lain untuk mendapat gambaran yang lebih jelas dari suatu peristiwa.
Mas Bill Covard memaparkan dibuku elemen jurnalistik, bahwa media seharusnya selalu melakukan jurnalistik verifikasi, tapi melihat kondisi sekarang, begitu banyak kepentingan… sehingga sebuah idealisme media yang seharusnya menyampaikan kebenaran jadi terpinggirkan oleh kepentingan “oknum” tertentu.
—>>>media “berpihak?”
saya pikir, yah media kudu berpihak… memihak yg benar….
masalahnya siapa kah yang benar itu?
semua orang bisa mengklaim kebenaran.
saya pikir secara normatif apa yang ditulis di buku 9 elemen jurnalistik itu harus dipenuhi.
jika tidak walaupun tidak berbohong media bisa menyetir pikiran pembacanya.
kalo sy sii, lebih setuju, orang barat melakukan tadli siyasi/penyesatan opini lewat media masaa… jelas media masaa di tangan orang barat ga akan berpihak kpd kebenaran…
jd inget napoleon, dia lebih suka berhadapan dgn 3000 pasukan perang daripada berhadapan ma seorang jurnalis, karena si jurnalis td bs membolak-balikan perang yg sedang berkecamuk dgn penanya.. sedangkan pasukan tdk mampu berbuat demikian!
jurnalis ma media masaa ibarat dua sisi mata pedang keduanya tdk bsa dipisahkan..
tulisan diatas, sebenarnya ingin mengupas peran media masaa kah, media masaa yg berpihak ke orng barat kah, mengupas sang jurnalis kah??
kalo sy ngeliatnya option yg ke2, tp dari komentar2 nya, sepertinya membahas peran media..
sebenernya sii emang saling berhubungan jg..
gracias..
yang jadi catatan kan apa yang ditulis jurnalis itu ga semuanya bisa masuk media.
kalau yang saya tulis itu tentang media yang bisa di setir.
ga hanya dalam kasus islam vs barat.
berlaku juga di masalah lokal.
antar partai misalnya atau kalau ada kasus2 yang melibatkan kepentingan berbagai pihak
Simak terus update diskusi antara Hizbut Tahrir dan mantan Hizbut Tahrir, tentang Hizbut Tahrir dan da’wah khilafahnya di :
http://mantanht.wordpress.com
Semoga menambah wawasan kita bersama.
saya tidak tahu kenapa anda komentar ditulisan saya ini
mungkin lebih cocok di tentang blog
saya sudah baca beberapa tulisan anda
sayangnya saya merasa seperti nonton konflik di sinetron
konflik muncul gara2 terlalu cepat menyimpulkan sehingga terjadi salah paham
anda ga ngerti pemikiran ht tapi anda komentar
kalau anda ada di bandung saya undang anda untuk ketemu saya di mesjid salman itb (saya sering di sana)
saya akan berusaha menjawab semua salah paham anda sebisa saya
terakhir saya berharap niat anda ikhlas dalam membuat blog tersebut
sehingga yang dicari bukan masalah tapi memang jawaban
sepakat membawa berkat! buat Mr Irvan…
@ MantanHT??? (so what gitu lo… mantan??? bangga benar… Mantan…) sebenernya Mantan HT bikin blogs itu buat nyari kebenaran ato pembenaran sih??? ato bikin blogs mantanHt, buat bikin sensasi biar cepet tenar??? -anyway… just joke…
- abaikan saja… saya hanya shok dengan Mr MantanHT… (hari gini??? masih jaman ya… mantan…)
@ Mr Irvan
—>>>masalahnya siapa kah yang benar itu?
ok ok ok, kebenaran itu kan apa yg ditulis = realitas yg terjadi dilapangan bukan?
yg harus digarisbawahi dalam pemberitaan media itu ada sekitar 3 pendekatan dalam menyajikan berita:
1. the political-economy approach
2. organizational approach
3. cultural approach
kalo ingin menelusuri lebih jauh ttg 3 pedekatan media, silahkan baca buku “Semiotika komunikasi” karya Pa Alex Sobur halaman 111
ok terkait ” semua orang bisa mengklaim kebenaran.”
yah wajarlah Mas, toh sekarang emang zamannya The Clash of Civilizations, dalam dunia kapitalis siapa yg kuat dialah yg menang, bukan begitu?
nah untuk menangkal informasi2 yg salah kaprah… tentu saja kaum muslimin harus membuat media sendiri, misalnya seperti majalah al-wa’i ato tabloit media Umat
Wallahu a’lam…
damai Boz..
@ kk li amhar
ada beberapa poin yang akan saya tegaskan kembali yang sudah saya tulis di artikel di atas.
pertama, di barat ada banyak media yang berbeda banyaknya media ini menurut saya akan membuat media itu tidak akan menyengaja berbohong karena media lain akan mudah menjatuhkannya.
kedua, karena tidak bisa berbohong, media menyetir opini dengan menggunakan beberapa cara seperti: memilih berita, memilih narasumber, dan memilih bahasa.
ketiga, di tulisan ini saya sudah masukkan setidaknya dua solusi untuk mengetahui berita yang sesungguhnya. ada dua cara yang saya berikan, yaitu: membaca banyak sumber dan memisahkan antara fakta dan opini.
karena itu, menurut saya media islam lebih ditujukan untuk memberikan perspektif dari suatu kejadian. baik atau buruk sebuah tindakan menurut islam. dan bagaimana penyelesaiannya menurut islam.
bukan pada pemberitaan kejadiannya itu sendiri, walaupun sebenarnya tidak masalah. saya pikir media umat dan al waie sudah melakukan hal ini walau harus berhati-hati dalam pemberitaan. jangan sampai terjebak mengubah berita karena beralasan membela islam.
oh ya terakhir nama saya irfan, pakai f
makasih dah main ke blog ini
ho oh tul..
media Islam juga sering dikatakan terlalu berpihak dan tidak netral.. sering memasukan opini dalam pemberitaan..
jadi supaya objektif, tetap teliti seluruh media..
media Islam pun sering kali terkontaminasi dengan romantisme..
huehehehe..
mantanht ikut komen disini jugak y.. hmm curiga zombie, kekekekeke
btw, sebenernya tujuan pemberitaan media massa itu sendiri apa sih ka? lantas apa bedanya dengan media2 seperti jurnal ilmiah yang notabene adalah media2 yang mengedepankan fakta yang tentu tujuannya adalah membedah fakta tersebut, dan mengemukakan fakta apa adanya, tanpa ada penyitiran ke arah tertentu (kan jurnal ilmiah mah hasil temuan, klo hasilnya berbeda dengan teori yang diakui sekarang, bisa jadi beda, dan kemukakan penjelasan knp hal itu terjadi. klo hasilnya sama, berarti mendukung teorinya).. CMIIW
jadi maksud urang naon??…hehe
tujuannya ya bisnis lah
bisnis jualan informasi
ada bisnis informasi karena banyak orang yang butuh informasi
kaitan dengan jurnal ilmiah
pertama, faktanya adalah hal yang objektif
kedua, pemberitaan akan faktanya belum tentu mungkin kemasukan penafsiran dan opini begitupula dengan jurnal ilmiah.
fakta yang ditemukan itu objektif tetapi kesimpulanlah yang subjektif.
bisa jadi karena faktanya tidak lengkap dan alasan lainnya
kalau saya coba kaitkan dengan teori evolusi darwin
fakta2 yang ditemukan darwin itu objektif (kalo dia jujur)
tetapi kesimpulan bahwa makhluk hidup itu berevolusi itu yang subjektif
Simak terus update diskusi mantan HT dan aktifis HT di :
http://mantanht.wordpress.com
Barokallohufikum
^
perlu saya delet tidak inih?
halow
pak mantanht ini dapet apa sih
jawab permintaan saya aja ngga
delete ajah fan…merusak kenikmatan orang yang lagi baca komen2 yang sejalan.
Kalau misalkan dia mau ngasi komen yang setema baru kasih tempat. Kalau enggak mah, delete aja….gak ngasi informasi apa2 juga blognya kecuali kedengkian dan hasad.
komen saya, dua-duanya delete ajah fan….hehe….
masukan….
nama blog kamu itu sama kayak nama software ya?
kalau mereka sudah mendaftarkan TM kayaknya blog kamu harus siap2 pindah nama deh…..
Assalamua’alaikum..
Trimakasih pak mantanht, sudah membuka pikiran saya bahwa, sya semakin sadar.. semakin yakin..
bahwa pemikiran HT adalah pemikiran yg lebih rajih, lebih kuat…
hee..
klo p. mantanHT ngeyel wae.. nanti pasti ktemu juga d akhirat tho sapa sing bener.. gtu ja koq repot, lgian P.mantanHT pasti dakwahnya menyesatkan sana-sini.. gak mikirin ummat, gak mikirin saudara Qt d palestina.. gak mikirin aborsi semakin banyak, dak mikirin riba masih meraja lela.. demokrasi mash di terapkan, sumber daya alam kita masih saja..dicuri pihak asing, belum lagi bnyak hukum Allah yg ditinggalkan… eeee… mlh yg dipikirin hanya menyesatkan.. iy tho.. waduh2…
sy berdoa mudah2an ndk beliau segera sadar…. bahwa musuh utama saat ini bukan HT, tp musuh sebenarnya adalah Setan yg bekerja sama dgn org Barat utk menghancurkan Islam…
Allahu Akbar..3x
buat saudaraQ, saudara Seperjuangan Tetap Istiqomah, ummat sudah menunggu datangnya Khilafah..
Terus berdakwah dan berdakwah…
wah jadi makin kemana2 bahasan kita ini
setelah ini kalau ada yang tidak nyambung lagi saya delet ah
ndak tegas ni momod.. hajar ja mod..
btw supaya ga oot.. bagaimana kita mengecek kebenaran media?? mesti langsung investigasi dong..
kalo gitu kepercayaan kepada media pun hanyalah dzhan??
(bener2 cuman supaya g oot.. -_-)
nda mungkin ngecekin setiap kejadian diverifikasi langsung
ya anggap seperti hadits mutawatir
diriwayatkan oleh orang banyak yang tidak pernah bertemu
dan tidak mungkin ada niat untuk berbohong
memang tidak ada orang yang tidak berfihak bahkan seorang yang merasa dirinya independen. kalau saya sih tentu berfihak kepada hamas yang tidak bohong. anda boleh saja berfihak pada siapa saja
di sini tidak bicara saya berpihak sama siapa (kalau maksudnya ‘anda’ itu penulis)
justru yang mau saya sampaikan bagaimana membaca media yang berpihak
bagaimana mengetahui fakta yang paling akurat dari berbagai media yang ada
ujungnya, dengan mengetahui fakta yang paling akurat seseorang bisa menentukan kepada siapa ia akan berpihak
ini memang topik yg seru untuk dibahas.
setuju kata Irfan, bahwa untuk menemukan keberpihakn media dpt dilihat dari berbagai aspek, paling terkecil dan mudah utk dikenali lihat saja dari aspek linguistiknya. dari diksi, bentuk kalimat, urutan situasi dalam wacananya.
Dan aspek bahasa seperti yg pernah dikatakan seorang editor dan wartwan desk internasional salah satu media massa terkemuka (waktu sy wawancara utk skripsi) memang hal yang terpenting. Dia mengibaratkan bahwa jika konten adalah raja, maka bahasa adalah ratu.
jadi melihat dari aspek bhs mungkin bisa jd tahap awal utk melihat keberpihakan media.
Fan, udh baca buku Analisis Teks Media dari Eriyanto? menurut saya buku itu cukup bagus
pinjem donk! hehe
tulisannya pengen saya sempurnain
dan dikirimin kekoran kalo bisa
kalo aku ndak percaya sepenuhnya sama media massa… mbuh ya… ndak percaya aja… kalo sekedar fakta ada peristiwa ini itu kejadian ini itu ya masih bisa percaya lah… tapi kalo udah masuk ke bab yg lebih dalam lagi, misal menilai pihak itu begitu pihak ini begini, ndak percaya…
Media bagaikan pisau atau senjata, dia bisa membawa maslahat bagi umat tapi juga bisa membawa kerusakan, tergantung pada ideologi pengembannya.Bila media atau pers itu satu warna ideologinya, kalaupun terkesan saling serang itu hanya sebatas melemahkan bukan menghancurkan ideologi media itu sendiri. Bisa dilihat media masa Barat, mereka acap kali saling berpolemik dalam satu masalah namun tidak sampai pada konflik saling menyerang dan menghancurkan ideologi sekuler itu sendiri sebagai ideologi pers barat. Berbeda manakala pers barat berbicara tentang ideologi Islam, mereka pasti akan menyajikan berita dengan bahasa2 menyerang dan menghancurkan. Maka jadilah jurnalis yang ideologis dan jadikan ideologi Islam sebagai teropong bidik sasaran ketajaman pelor invesigasi dan tulisan Anda
mungkin bagi media massa, lebih mengejar lakunya berita atau kepentingan lain, menyajikan berita dipercaya, masih perlu dipertanyakan, apalagi berita perang.
Beberapa media massa terkemuka seperti CNN, BBC kan dikuasai oleh korpotokrasi. Hal-hal yang merugikan citranya akan disensor.
wah saya merasa tersanjung penulis favorit saya mau berkomentar di blog saya yang jarang apdet ini
semoga liburan kali ini saya bisa produktif menulis lagi
Sudah banyak dalam berbagai buku Yahudi diterangkan dengan jelas bahwa salah satu usaha mereka mengacaukan “dunia” adalah dengan menguasai media komunikasi. Pun dalam salah buku Pak Henry Ford yang menguak tentang kekhawatirannya mengenai perkembangan mereka di US pada dekade awal dapat dilihat dari kemampuan mereka dari media massa/ komunikasi ini. Malahan dalam Protokol Yahudi sendiri – bonus dari buku Pak Henry Ford yang kebetulan saya baca, terdapat chapter sendiri bahwa mereka akan melakukan penggerogotan dari berbagi aspek dengan media sbg sarana utama. Wah.
Mungkin media memang tidak berbohong tentang pemberitaannya, tapi media bisa saja salah karena sumber beritanya yang tidak benar. Membaca informasi pada saat ini lewat media-media besar yang kebanyakan memuat berita ‘mainstream’ tanpa komparasi dengan sudut pandang yang lain terlalu mensimplikasi masalah menurut saya. Dari situ keliatan jelas kalau media memiliki ‘preferensi’ terhadap sesuatu, bukan benar-benar memberikan kebenaran kepada pembaca. Karena kalau benar-benar ingin memberikan kebenaran akan butuh investigasi, crosscheck information, gak sekedar ngutip kalimat jurubicara a dan b.
Apalagi media-media besar kadang sudut pandangnya terlalu satu arah, padahal harusnya setiap pemberitaan membuka kesimpulan “kemungkinan yang lain”. Itu klo mau objektif, gak nyimpulin hanya dari satu sumber berita. Coba liat film state of play, keren tuh. Sedikit fakta saja yang disembunyikan bisa menghasilkan kesimpulan (cara pandang) yang sangat berbeda terhadap suatu kasus, walau fakta-fakta sebelumnya memang benar.
Sayangnya fakta keberpihakan media tidak bisa kita hindari. Bagusnya sekarang ada celah dimana komunikasi menjadi agak lebih flat (lewat teknologi internet), sehingga pembaca yang memiliki akses sumber berita lain dapat mencari di internet tuk komparasi. Salah satu yang terkenal mengenai kekuatan dunia web adalah situsnya jeff Ooi di malaysia, gak tau nih di indonesia bisa ciptain media oposisi gak ya, nusantaranews kah?