<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>إرفان حبيبي</title>
	<atom:link href="http://irfanview.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irfanview.wordpress.com</link>
	<description>Gado-Gado Pemikiran Islam</description>
	<lastBuildDate>Sat, 28 Jan 2012 05:01:37 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irfanview.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>إرفان حبيبي</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irfanview.wordpress.com/osd.xml" title="إرفان حبيبي" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irfanview.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Dosen Itu (Rata2) Baik</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 29 Aug 2009 08:41:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[Kalau dulu ditanya siapa yang paling saya takuti (setelah tuhan) saya akan jawab dosen.  Saking takutnya sama dosen saya jarang datang ke prodi. Kalaupun perlu ke sana saya akan datang dengan mengendap-endap, melirik kanan kiri menghindari dosen. Alasannya saya takut dimarahi oleh dosen. Saya punya banyak dosa terhadap dosen. Dosanya ini sebenarnya seperti lingkaran setan. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=11&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-13" title="ngajar" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/ngajar.jpg?w=218&#038;h=300" alt="ngajar" width="218" height="300" />Kalau dulu ditanya siapa yang paling saya takuti (setelah tuhan) saya akan jawab dosen.  Saking takutnya sama dosen saya jarang datang ke prodi. Kalaupun perlu ke sana saya akan datang dengan mengendap-endap, melirik kanan kiri menghindari dosen.</p>
<p>Alasannya saya takut dimarahi oleh dosen. Saya punya banyak dosa terhadap dosen. Dosanya ini sebenarnya seperti lingkaran setan. <em>Start up</em>-nya adalah saya stres dengan kuliah. Karena stres saya meninggalkan kewajiban tertentu dari perkuliahan. Karena kewajiban tersebut saya tinggalkan saya takut dimarahi dosen. Karena takut dimarahi dosen saya menghindari dosen tersebut. Karena saya menghindari dosen tersebut perkuliahan saya terganggu. Dan akhirnya bertambah lah stres saya. Sehingga semakin lama saya menunda menyelesaikannya semakin menjadi-jadi stres tersebut.<span id="more-11"></span></p>
<p>Setelah ikut training Siaware saya sadar bahwa lari tidaklah akan menyelesaikan masalah. Satu-satunya cara menyelesaikannya adalah dengan menghadapinya. Setiap pilihan ada konsekuensinya. Lari dari dosen ada konsekuensinya, menghadap dosen juga ada konsekuensinya. Konsekuensi paling besar adalah dimarahi atau mungkin saja dipersulit. Tetapi lari dari dosen konsekuensinya masalah akan semakin panjang. Karena itu, saya tidak peduli lagi bila harus dimarahi. Ini konsekuensi yang harus saya ambil.</p>
<p>Ketika Siaware saya membuat komitmen 36 jam untuk menemui beberapa dosen. Memang saya tidak berhasil menyelesaikannya dalam 36 jam karena sakit. Tetapi niat saya sudah bulat. Saya ingin hidup saya terus berlanjut.</p>
<p>Saya temui dosen yang menurut saya paling baik lebih dahulu. Sebenarnya beliau dosen yang paling saya takut temui karena dosa saya paling besar kepada beliau. Ternyata beliau memang orang baik. Sikap saya tentu mengecewakan beliau tetapi beliau tetap mencemaskan saya. Ketika saya menemuinya dan meminta maaf beliau malah mengatakan bahwa bila saya tidak menemuinya beliau yang akan mencari saya. Beliau yang akan terlebih dahulu memaafkan saya agar saya tidak memiliki beban untuk menemui beliau lagi. Lebih dari itu beliau meminta saya untuk selalu datang menemuinya sebulan sekali untuk melaporkan perkembangan kuliah saya.</p>
<p>Dosen berikutnya saya temui beberapa hari setelahnya. Awalnya saya ragu juga. Walau kata orang-orang beliau orang baik tapi sepertinya orangnya dingin. Ketika bertemu, beliau bertanya kemana saja saya. “Dibawa Saifudin ya?” tanyanya bercanda. Dan tidak ada sesuatu yang buruk terjadi.</p>
<p>Dosen terakhir yang saya temui sebenarnya tidak ada dosa saya kepadanya. Yang ada adalah saya menyia-nyiakan kesempatan yang beliau berikan. Tahun lalu di akhir semester saya mendapat nilai T. Harusnya saya tidak lulus karena sering bolos. Beliau mengatakan bila saya menemui beliau saat itu nilai saya maih bisa diperbaiki. Ketika saya menemui beliau, beliau malah berniat membantu saya. Saya diminta untuk seminggu sekali datang ke labnya untuk berlatih soal-soal.</p>
<p>Menurut ayah saya yang juga seorang dosen di PTN lain, problem saya merupakan problem yang umum terjadi pada mahasiswa yang belum lulus pada waktunya. Setelah ayah saya melihat perubahan saya pasca-Siaware, ayah saya menjadi lebih proaktif menghubungi mereka. Mungkin akhirnya ayah saya mengerti. Bahwa mahasiswa-mahasiswa tersebut bukan malas tetapi kehilangan motivasi. Saya juga melihat beberapa teman mahasiswa yang mengalami problem yang sama. Ada teman yang mengulang laboratorium sampai tiga kali. Padahal dosen penanggungjawabnya sudah memanggilnya untuk memberi perbaikan.</p>
<p>Mengetahui keadaan mahasiswa-mahasiswa tersebut membuat saya memberanikan diri berbagi cerita di atas. Saya sebenarnya malu untuk bercerita karena merasa hanya saya yang mengalami problem seperti ini. Semoga cerita di atas bisa membantu teman-teman atau siapapun yang punya problematika yang sama. Hadapilah ketakutan-ketakutan yang kita miliki. Katanya menurut penelitian, 90% dari ketakutan itu tidak beralasan dan hanya 4% yang terjadi.[] </p>
<br />Posted in Motivasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/11/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/11/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=11&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/29/dosen-itu-rata2-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/ngajar.jpg?w=218" medium="image">
			<media:title type="html">ngajar</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Dari Tikus</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 25 Aug 2009 01:56:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[berhasil]]></category>
		<category><![CDATA[kegagalan]]></category>
		<category><![CDATA[putus asa]]></category>
		<category><![CDATA[siaware]]></category>
		<category><![CDATA[sukses]]></category>
		<category><![CDATA[who moved my cheese]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=6</guid>
		<description><![CDATA[Ada satu cerita yang paling saya ingat dari training Siaware yang lalu. Cerita ini katanya diambil dari buku who moved my cheese. Saya sendiri belum baca buku tersebut. Cuman ceritanya cukup berharga untuk dibagikan kembali. Ceritanya kira-kira begini, ada sebuah keju yang diletakkan di lubang terakhir antara tiga lubang. Bagaimana kira-kira cara tikus untuk mengambil [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=163&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter size-medium wp-image-7" title="who-moved-my-cheese" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/who-moved-my-cheese.jpg?w=300&#038;h=225" alt="who-moved-my-cheese" width="300" height="225" />Ada satu cerita yang paling saya ingat dari training Siaware yang lalu. Cerita ini katanya diambil dari buku who moved my cheese. Saya sendiri belum baca buku tersebut. Cuman ceritanya cukup berharga untuk dibagikan kembali.</p>
<p>Ceritanya kira-kira begini, ada sebuah keju yang diletakkan di lubang terakhir antara tiga lubang. Bagaimana kira-kira cara tikus untuk mengambil keju tersebut? Pada hari pertama, ia akan memasuki lubang tersebut satu per satu. Ketika ia tidak menemukan keju di lubang pertama ia akan mencoba lubang kedua. Begitu terus sampai ia menemukan kejunya. Sampai akhirnya ia menemukan di lubang ketiga.<span id="more-163"></span></p>
<p>Apakah pada hari berikutnya ia akan melakukan hal yang sama dengan mencoba setiap lubang? Tentu tidak. Ia akan langsung menuju lubang ketiga yang diketahuinya ada keju. Begitu seterusnya untuk hari-hari berikutnya.</p>
<p>Apa yang akan tikus tersebut lakukan bila kita pindahkan kejunya ke lubang yang lain? Ketika mengetahui bahwa kejunya tidak ada di lubang ketiga, tikus tersebut tidak lantas putus asa. Ia akan mengerjakan kembali percobaannya pada hari pertama sampai akhirnya ia menemukan kejunya kembali.</p>
<p>Luar biasa. Ini sebenarnya pemikiran yang sederhana. Ketika kita menginginkan sesuatu seringkali kita berputus asa pada percobaan pertama. Atau ketika cara yang biasa kita lakukan pada masa kini ternyata tidak lagi membuahkan hasil. Kita merasa menjadi orang yang gagal. Padahal kita belum mencoba jalan kedua atau ketiga.</p>
<p>Putus asa bisa jadi alasan kita tidak berani mencoba cara lain. Kita lalu membayangkan bahwa kita memang orang yang akan selalu gagal. Padahal kegagalan sebenarnya hanyalah feedback atau informasi bahwa cara yang kita lakukan tidak tepat.</p>
<p>Coba bayangkan bila pada percobaan pertama tikus berputus asa di lubang pertama, ia tentu tidak akan mendapatkan kejunya. Atau ia berputus asa setelah mencoba lubang kedua tentu tikus itu sangat rugi karena ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan kejunya. Bisa jadi itu yang terjadi pada kita. Kita berhenti sesaat sebelum kita mengalami kesuksesan.</p>
<p>Patut kita renungi pernyataan Thomas Alfa Edison ketika ditanya mengapa ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal. Edison menjawab, “Saya tidak pernah gagal, tetapi menemukan 9999 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena kehabisan percobaan yang gagal.”</p>
<p>Bukan saatnya lagi kita berputus asa atas kegagalan yang pernah kita lakukan. Sudah saatnya kita mencoba cara baru untuk meraih impian kita.[] </p>
<br />Posted in Motivasi  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/163/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/163/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=163&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/25/belajar-dari-tikus/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/who-moved-my-cheese.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">who-moved-my-cheese</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menulis Semudah Bercerita</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Aug 2009 10:19:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tulis Menulis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irpanhakim.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama ketika menjaga stand UNIK (Unit Jurnalistik) Salman. Ia mengeluh karena sulit sekali menulis. Baru satu kalimat ia tulis ia merasa bukan itu yang ingin ditulis. Karena itu, ia delet kembali apa yang sudah ia tulis. Permasalahan ini seringkali dihadapi oleh orang yang baru menulis. Sebenarnya [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=3&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;"><img class="size-medium wp-image-4 aligncenter" title="menulis" src="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/adel-belajar-ngetik-1.jpg?w=300&#038;h=225" alt="menulis" width="300" height="225" />Beberapa hari yang lalu saya bertemu dengan seorang sahabat lama ketika menjaga stand UNIK (Unit Jurnalistik) Salman. Ia mengeluh karena sulit sekali menulis. Baru satu kalimat ia tulis ia merasa bukan itu yang ingin ditulis. Karena itu, ia delet kembali apa yang sudah ia tulis. Permasalahan ini seringkali dihadapi oleh orang yang baru menulis.<span id="more-3"></span></p>
<p style="text-align:left;">Sebenarnya menulis itu mudah bila kita bercerita. Coba perhatikan diri kita ketika ngobrol tentang suatu hal. Kita lancar bercerita. Saat ini pun bila saya ajak tentu anda akan mudah bercerita tentang suatu hal. Obrolan tersebut bisa obrolan ringan atau obrolan serius. Mungkin itu perjalanan anda ke kampus atau tentang puasa yang sedang anda jalani.</p>
<p style="text-align:left;">Nah sekarang tinggal kita pindahkan saja obrolan kita dalam bentuk tulisan. Jangan anda ragu menuliskan ide anda walau mungkin anda berpikir apa yang akan ditulis adalah bagian penutup dari tulisan. Malah anda tidak perlu takut bila anda harus menangis atau memaki dalam tulisan tersebut. Yang penting tumpahkan semua yang ingin anda sampaikan.</p>
<p style="text-align:left;">Lalu apakah kita akan tampilkan tulisan amburadul tersebut? Tentu tidak. Tetap saja harus melalui proses editing. Hanya saja proses editingnya kita tunda setelah kita selesai “bercerita”.</p>
<p style="text-align:left;">Ada hal yang perlu diperhatikan. Sebaiknya editing tidak dilakukan segera setelah tulisan selesai. Biasanya kita merasa sayang terhadap hasil kerja kita sehingga ada bagian yang harus kita buang tapi kita merasa bagian tersebut sudah bagus padahal tidak nyambung. Bisa juga untuk meredakan emosi kita yang sedang meledak-ledak. Mungkin anda suatu ketika menulis protes anda kepada sebuah rumah sakit. Setelah emosi kita reda mungkin kita akan berpikir ulang untuk menerbitkan tulisan tersebut atau membuang bagian-bagian yang sensitif.</p>
<p style="text-align:left;">Selamat mencoba!</p>
<br />Posted in Tulis Menulis  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=3&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/08/24/menulis-semudah-bercerita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irpanhakim.files.wordpress.com/2009/08/adel-belajar-ngetik-1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">menulis</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bisakah Media Massa Dipercaya?</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 09:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[opiniku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[  Penyerbuan Israel ke Jalur Gaza yang lalu menyisakan pertanyaan bagi media massa. Bisakah media massa, baik cetak maupun elektronik, dipercaya? Pertanyaan ini muncul karena banyak orang merasa melihat dengan jelas keberpihakan media massa pada kasus tersebut. Pada kasus tersebut terlihat kebanyakan media massa Indonesia, yang merujuk media Arab, kentara mendukung Palestina. Sedangkan media Barat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=151&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;">Penyerbuan Israel ke Jalur Gaza yang lalu menyisakan pertanyaan bagi media massa. Bisakah media massa, baik cetak maupun elektronik, dipercaya? Pertanyaan ini muncul karena banyak orang merasa melihat dengan jelas keberpihakan media massa pada kasus tersebut. Pada kasus tersebut terlihat kebanyakan media massa Indonesia, yang merujuk media Arab, kentara mendukung Palestina. Sedangkan media Barat kebanyakan mendukung Israel.<span id="more-151"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah media berpihak? Kemungkinan ini cukup besar. Bahkan tidak dapat dipungkiri setiap media tampaknya memiliki keberpihakannya masing-masing. Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong media massa berpihak, yaitu: faktor pemilik media, faktor pengiklan, dan faktor penguasa. Jika salah satu saja faktor di atas memiliki kecenderungan tertentu, media akan terdorong untuk berpihak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun demikian, hampir mustahil jika media massa sampai berbohong. Apalagi jika dituduhkan pada media massa besar. Mereka dengan pengabdian cukup panjang telah menjadi besar di mata masyarakat. Dalam era informasi sekarang, kebohongan atau keteledoran dalam membuat berita sangat mudah diketahui. Tentu yang dipertaruhkan tidak sebanding dengan citra yang dibangun. Alasan ini pula yang membuat masyarakat cenderung memilih media massa besar karena kemungkinan media ini berbohong hampir tidak ada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cukup mudah bagi media massa berpihak tanpa berbohong. Untuk kasus penyerbuan Israel ke Palestina misalnya, bukankah kejadiannya sama tetapi mengapa berita yang sampai kepada kita tidaklah sama? Kita harus menyadari media massa tidak dapat memuat seluruh fakta yang ada dengan halamannya yang terbatas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu cara media massa berpihak dengan menyeleksi berita yang akan ditampilkan. Pada kasus di atas, media massa yang berpihak pada Israel biasanya lebih banyak menyajikan berita tentang bagaimana penderitaan penduduk Israel di bawah gempuran rudal yang diluncurkan pihak HAMAS. Begitu pula dengan media massa yang berpihak pada Palestina. Media tersebut akan menampilkan berita tentang jumlah korban dan penderitaan yang dialami di pihak Palestina yang terus menerus bertambah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Media pun dapat menyeleksi narasumber dalam menyikapi suatu peristiwa. Media dapat memilih rujukan menteri pertahanan Israel jika pro-Israel atau Khaled Meshal jika pro-HAMAS ketika mencari jumlah korban di kedua belah pihak. Angka yang ditampilkan setiap media bisa berbeda tetapi tanpa harus berbohong. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada cara lain yang dipergunakan media massa yang berpihak, yaitu dengan pemilihan bahasa. Bahasa pada dasarnya tidaklah netral. Media yang mendukung perjuangan Palestina akan menyebut bom syahid pada aksi pengeboman yang mengorbankan nyawa pengebomnya. Sedangkan bagi yang kontra akan menyebutnya dengan istilah bom bunuh diri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menyikapi fakta demikian, kita harus cerdas dalam membaca media. Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran dari suatu peristiwa. Pertama, kita harus dapat memisahkan antara fakta dan opini. Fakta adalah realitas-realitas yang benar-benar terjadi. Sedangkan opini merupakan pendapat, perkiraan, analisis atau pandangan media massa atau rujukan yang digunakan media massa terhadap suatu fakta. Dan sebagai pembaca cerdas tidak boleh sampai terjebak opini media massa dan fokus hanya pada fakta yang terjadi.</span></p>
<p><span>Kedua, membaca lebih dari satu media untuk mendapat perbandingan. Salah satu cara menilai media berpihak dengan melihat porsi yang diberikan terhadap suatu berita tertentu. Jika suatu berita terus-menerus menggunakan suatu rujukan tertentu dan jumlahnya tidak berimbang dengan yang lain, dapat dipastikan media itu sedang berpihak. Kita perlu melakukan perbandingan dengan media lain untuk mendapat gambaran yang lebih jelas dari suatu peristiwa.</span></p>
<br />Posted in opiniku  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=151&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Sistem Pidana Islam</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 03:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kampanye syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Banyaknya partai Islam yang ikut pemilu tampaknya tidak disertai dengan ramainya kampanye syariat Islam. Apalagi sistem pidana Islam, tampaknya mustahil menjadi program unggulan parpol Islam dalam meraih suara. Mungkin karena memang sistem pidana biasanya menjadi kambing hitam jeleknya syariat Islam. Bayangan seseorang yang phobi-Islam ketika mendengar syariat Islam adalah rajam dan potong tangan. Menghindari pembahasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=146&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Banyaknya partai Islam yang ikut pemilu tampaknya tidak disertai dengan ramainya kampanye syariat Islam. Apalagi sistem pidana Islam, tampaknya mustahil menjadi program unggulan parpol Islam dalam meraih suara. Mungkin karena memang sistem pidana biasanya menjadi kambing hitam jeleknya syariat Islam. Bayangan seseorang yang phobi-Islam ketika mendengar syariat Islam adalah rajam dan potong tangan.<span id="more-146"></span></p>
<p class="MsoNormal">Menghindari pembahasan pidana Islam merupakan hal yang salah dalam mempromosikan syariat Islam. Setidaknya karena dua hal. <em>Pertama</em>, sistem pidana merupakan bagian integral dari <em>syumuliatul Islam.</em> <em>Kedua</em>, secara empirik sistem ini memiliki keunggulan yang bisa dibuktikan, meski negara Khilafah sebagai institusi penegaknya sudah hancur sejak tahun 1924.</p>
<p class="MsoNormal">Sistem pidana Islam sebenarnya tidak hanya berisi hukuman-hukuman (sanksi/uqubat). Selain sistem sanksi, sistem pidana Islam juga menetapkan sistem pembuktian dan sistem birokrasi peradilan. Dalam artikel ini hanya menyinggung sistem sanksi saja.</p>
<p class="MsoNormal">Ada dua kunci mengapa sistem pidana Islam bisa meraih keberhasilan seperti itu. Yang pertama, sistem pidana Islam bersama syariat Islam yang lainnya mampu mencegah terjadinya tindakan kriminal. Sistem pendidikan Islam yang menekankan pada kepribadian Islam akan mencegah orang untuk berbuat kriminal karena mereka akan takut kepada Allah. Sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan akan mencegah orang berbuat kriminal karena alasan ‘perut’. Sistem pidana Islam itu sendiri akan membuat orang takut berbuat kriminal karena sistem sanksinya yang keras. Namun tentu sistem sanksi yang keras tersebut tidak akan sembarangan terjadi karena memiliki sistem pembuktian yang ketat.</p>
<p class="MsoNormal">Yang kedua, sistem pidana Islam bila dijalankan akan menjadi penghapus dosa yang diperbuat karena merupakan tambahan persyaratan taubat. Perlu dicatat, perbuatan dosa dan tindak kriminal dalam Islam adalah hal yang sama. <span>Setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan akan dihukum oleh Allah di akhirat kelak. Namun uqubat di dunia akan menjadi penebus dosanya itu. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>“Kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak membuat-buat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan. Siapa saja yang menepatinya maka Allah akan menyediakan pahala; dan siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman itu akan menjadi penebus baginya. Dan siapa saja yang melangggarnya kemudian Allah menutupinya (tidak sempat dihukum di dunia), maka urusan itu diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah berkehendak, maka Dia akan memaafkannya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal">Hal ini lekat khususnya pada dua jenis sanksi, yaitu hudud dan jinayat. Sanksi hudud merupakan hak Allah sedangkan jinayat adalah hak korban atau ahli waris karena itu keduanya wajib dipenuhi jika ingin bertaubat.</p>
<p class="MsoNormal">Secara bahasa, <em>hudud</em> berarti sesuatu yang membatasi di antara dua hal. Secara syar‘i, <em>hudud </em>bermakna sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan (kadarnya) oleh syariat dan menjadi hak Allah. Dalam kasus <em>hudud</em> tidak diterima adanya pengampunan atau abolisi. Sebab, <em>hudud </em>adalah hak Allah Swt.</p>
<p class="MsoNormal">Sanksi hudud terbatas pada 8 perkara dan hukumannya yang secara umum diuraikan sebagai berikut. <em>Pertama</em>, zina (pelaku dirajam jika <em>muhshan</em>/telah menikah atau cambuk 100 kali jika <em>ghayr</em> <em>muhshan</em>/belum menikah); kedua, homoseksual/<em>liwath</em> (pelaku dibunuh); <em>ketiga</em>, qadzaf/menuduh berzina tanpa didukung 4 orang saksi (pelaku dicambuk 80 kali); <em>keempat</em>, minum khamar (pelaku dicambuk 40/80 kali); <em>kelima</em>, murtad yang tidak mau kembali masuk Islam (pelaku dibunuh); <em>keenam</em>, membegal/<em>hirabah</em> (pelaku dibunuh jika hanya membunuh dan tidak merampas; dibunuh dan disalib jika membunuh dan merampas harta; dipotong tangan dan kaki secara bersilang jika hanya merampas harta dan tidak membunuh; dibuang jika hanya meresahkan masyarakat); <em>ketujuh</em>, memberontak terhadap Negara/<em>bughat</em> (pelaku diperangi dengan perang yang bersifat edukatif, yakni agar pelakunya kembali taat pada Negara, bukan untuk dihancurkan); <em>kedelapan</em>, mencuri (pelaku dipotong tangannya hingga pergelangan tangan jika memang telah memenuhi syarat untuk dipotong).</p>
<p class="MsoNormal"><em>Jinayat</em> adalah penyerangan atas badan yang mewajibkan adanya <em>qishash</em> (balasan setimpal) atau <em>diyat</em> (denda). Jinayat ini merupakan hak bagi korban atau ahli waris. Dengan demikian, korban atau ahli waris boleh memilih antara <em>qishash</em> atau mengambil <em>diyat</em> atau bahkan menyedekahkan <em>diyat</em>nya kepada pelaku (memaafkan). Jinayat ini sebenarnya cukup kompleks derivasinya untuk dijabarkan di sini. Tetapi sebagai catatan jinayat ini tidak sekadar pada pembunuhan saja. Bahkan untuk satu gigi yang lepas saja berharga diyat 5 unta sedangkan tiap jari tangan atau kaki berharga diyat 10 unta.</p>
<p class="MsoNormal">Ada banyak lagi tindakan kriminal yang tidak termasuk pada hudud maupun jinayat. Karena itu, tindakan kriminal itu tidak memiliki hukum yang ditetapkan langsung oleh Allah. Perkara-perkara tersebut diatur dengan sistem sanksi ta’zir dan mukhalafat.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Ta’zir</em> yang menurut bahasa bermakna pencegahan (<em>al-man‘u</em>) diterapkan atas dosa selain dosa hudud dan jinayat seperti, meninggalkan shalat atau menghina orang lain. Secara umum, ta’zir berlaku pada pelanggaran terhadap kehormatan; pelanggaran terhadap kemuliaan; perbuatan yang merusak akal; pelanggaran terhadap harta; gangguan keamanan; subversi; pelanggaran yang berhubungan dengan agama.</p>
<p class="MsoNormal">Administrasi negara pada dasarnya adalah sesuatu yang mubah. Tetapi pelanggaran terhadap administrasi negara merupakan pelanggaran terhadap perintah Imam, sedangkan melanggar perintah imam yang tidak bertentangan dengan aturan Allah adalah dosa. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah yang berbunyi,</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Barangsiapa taat kepadaku maka ia taat kepada Allâh, barangsiapa bermaksiyat kepadaku maka ia bermaksiyat kepada Allâh, barangsiapa taat kepada amîrku, maka ia taat kepadaku, barangsiapa bermaksiyat kepada amîrku maka ia telah bermaksiyat kepadaku.”</em></p>
<p class="MsoNormal">Sanksi ini masuk pada bab mukhalafat. Karena serupa tapi tak sama ada ulama yang memisahkan antara ta’zir dan mukhalafat ada pula yang menyatakan mukhalafat bagian dari ta’zir.</p>
<p class="MsoNormal">Demikian sekilas sistem pidana dalam Islam. Memang belum lengkap rasanya tanpa penjelasan sistem pembuktian dan birokrasi peradilan dalam Islam. Namun setidaknya sudah cukup menggambarkan bahwa Islam sebagai ideologi telah memiliki sistem pidana yang akan menjamin terlaksananya syariat Islam dalam kehidupan bernegara. []</p>
<br />Posted in kampanye syariah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=146&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Leader dan Manager</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 02:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[seri kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang tidak bisa membedakan tugas pemimpin (leader) dan manajer. Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman organisasi, hal ini wajar. Antara leader dan manager memang memiliki lingkup pekerjaan yang sama, yaitu mengatur organisasi. Namun bila dalam praktik keduanya tidak bisa dibedakan, akibatnya akan fatal. Dalam organisasi kemahasiswaan, hal ini seringkali terjadi. Organisasi kemahasiswaan seringkali tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=135&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang tidak bisa membedakan tugas pemimpin (<em>leader</em>) dan manajer. Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman organisasi, hal ini wajar. Antara <em>leader</em> dan <em>manager</em> memang memiliki lingkup pekerjaan yang sama, yaitu mengatur organisasi. Namun bila dalam praktik keduanya tidak bisa dibedakan, akibatnya akan fatal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dalam organisasi kemahasiswaan, hal ini seringkali terjadi. Organisasi kemahasiswaan seringkali tidak berkembang karena ketuanya hanya berperan sebagai manajer bukan pemimpin. Sang ketua hanya memastikan kegiatan tradisi yang sudah berlangsung tahun-tahun sebelumnya, berjalan kembali tahun ini. Akibatnya, tidak ada perubahan yang berarti pada organisasi tersebut.<span id="more-135"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Manajemen adalah satu set proses yang akan menjaga sistem agar tetap berjalan dengan baik, sedangkan kepemimpinan adalah satu set proses yang akan membuat organisasi beradaptasi terhadap perubahan.</span><span lang="SV"> </span><span lang="SV">Karena itu, seorang manajer akan menghasilkan efisiensi yang tinggi pada organisasi, sedangkan seorang pemimpin akan membawa perubahan pada organisasi.</span></p>
<p><span lang="FI"><strong>Kisah Sukses McDonald’s</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dahulu, McDonald’s adalah sebuah restoran <em>drive-in</em> yang didirikan oleh dua orang kakak beradik bernama Dick dan Maurice. Bisnis mereka sudah cukup sukses pada waktu itu. Penjualan tahunannya mencapai $200.000 dan kedua kakak beradik ini membagi keuntungan $50.000 setiap tahunnya –<span> </span>jumlah sebanyak itu sudah bisa membuat mereka menjadi kaum elit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tahun 1948, kakak beradik Dick dan Maurice merasakan bahwa zaman sudah mulai berubah, dan untuk itu pula mereka harus memodifikasi usaha restorannya. Mereka mulai hanya melayani pelanggan yang datang memesan langsung, bukannya pesanan <em>drive-thru</em>, dan segalanya mereka efisienkan. Mereka mengurangi jumlah menu restorannya dan fokus pada hamburger. Mereka meniadakan peralatan makan yang biasa, dan menggantinya dengan peralatan makan berbahan kertas. Biaya produksi dan harga makanan sajian mereka pun menjadi berkurang. Kedua kakak beradik ini bahkan menciptakan apa yang mereka sebut dengan <em>Speedy Service System</em> (Sistem Layanan Cepat). Sasaran mereka adalah memenuhi pesanan pelanggan dalam waktu tiga puluh detik atau kurang. Mereka berhasil! Pada pertengahan tahun 1950-an, omzet tahunan McDonald’s mencapai $350.000 dan ketika itu, Dick serta Maurice berbagi keuntungan kira-kira $100.000 setiap tahunnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kesuksesan ini membuat mereka terpikir, bagaimana seandainya konsep McDonald’s dipasarkan sebagai sebuah waralaba? Gagasan waralaba restoran bukanlah barang baru ketika itu, malah sudah dikenal selama beberapa dekade. Bagi kakak beradik McDonald, ide waralaba ini kelihatannya sungguh menarik. Maka merekapun memulainya pada tahun 1952, dan mereka gagal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tahun 1954, kedua kakak beradik ini berjumpa dengan Ray Kroc. Kroc sudah mempunyai perusahaan sendiri, yang menjual mesin pembuat minuman <em>milk-shake</em>. Ia mendengar tentang kisah sukses restoran McDonald’s. Restoran kakak beradik Dick dan Maurice adalah salah satu pelanggan Kroc yang terbaik. Begitu ia mengunjungi restoran McDonald’s, ia mendapatkan visi tentang potensi restoran ini di masa mandatang. Dalam benaknya, ia bisa melihat restoran tersebut ada di berbagai negara, di seluruh penjuru dunia. Maka Kroc pun segera membuat kesepakatan dengan Dick dan Maurice, dan pada tahun 1955, ia membentuk McDonald’s System, Inc. (belakangan diubah namanya menjadi McDonald’s Corporation).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kroc segera membeli hak waralaba agar ia dapat menjadikannya sebuah model serta prototipe untuk menjual waralaba ini lagi. Ia membentuk sebuah tim dan membangun sebuah organisasi untuk menjadikan McDonald’s sebuah perusahaan berskala nasional. Ia merekrut dan mempekerjakan orang-orang yang paling cerdas yang dapat ia temukan, dan seiring perkembangan timnya<span>,</span> dalam jumlah maupun kapasitas kemampuannya, anggota tim yang baru direkrut dilatih dengan ketrampilan memimpin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pada mulanya, Kroc banyak berkorban. Walaupun usianya sudah pertengahan lima puluhan, ia bekerja lembur persis seperti ketika ia baru mulai berbisnis, tiga puluh tahun silam. Selama delapan tahun pertamanya bersama McDonald’s, Kroc tidak menerima upah. Bukan hanya itu, secara pribadi ia bahkan meminjam uang dari bank dengan jaminan asuransi jiwanya untuk menutup upah beberapa staf penting dalam timnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Namun pengorbanannya serta kepemimpinannya akhirnya membuahkan hasil. Pada 1961, Kroc membeli hak eksklusif terhadap McDonald’s dengan harga $2,7 juta, dan ia terus berusaha mengubahnya menjadi perusahaan berskala global. Antara tahun 1955 dan 1959, Kroc berhasil membuka 100 restoran. Empat tahun setelahnya, sudah berdiri 500 restoran McDonald’s. Hari ini, McDonald’s telah membuka lebih dari 21,000 outlet di tidak kurang dari 100 negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Apakah yang bisa kita pelajari dari cerita di atas? Kita tahu bahwa McDonald bersaudara berhasil membuat restorannya menjadi sangat efisien, dan meningkatkan penjualan serta labanya, tetapi mereka gagal membuat restoran tersebut berkembang. Adapun Ray Kroc, meskipun ia tidak terlibat dalam bisnis McDonald’s dari awal, dengan tangan dinginnya ia berhasil memimpin perusahaannya menjual waralaba McDonald’s ke berbagai pelosok sehingga menjadi restoran siap saji terbesar yang kita kenal sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Kita bisa mengatakan bahwa Dick dan Maurice bersaudara telah berhasil sebagai manajer McDonald’s dengan sistem yang mereka buat sedemikian efisien, tetapi Kroc-lah yang membesarkan McDonald’s dengan kepemimpinannya. Kroc mampu memilih orang-orang yang tepat untuk bergabung di dalam timnya. Kroc juga berkorban kepada bawahannya demi cita-citanya membesarkan McDonald’s. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">Membedakan Pemimpin dan Manajer!</span></strong></p>
<div style="text-align:left;">
<table class="MsoNormalTable" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="SV">PEMIMPIN</span></strong></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="SV">MANAJER</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="SV">Menentukan arah (visi)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menentukan visi bagi organisasi dan   strategi untuk meraih visi tersebut di masa depan</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Menyusun rencana dan anggaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menetapkan langkah detail dan rencana   kerja, serta menempatkan sumber daya untuk meraih visi yang telah ditetapkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Menyelaraskan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Menyampaikan arahan dengan perkataan dan   teladan agar anggota tim mengerti dan menerima visi dan strategi yang telah   ditetapkan</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Mengorganisasikan<em> </em>dan membagi tugas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menetapkan struktur organisasi dan   orang-orang yang mengisi berbagai posisi dalam struktur tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Membagikan tugas dan tanggung jawab.   Menetapkan peraturan dan prosedur sebagai petunjuk kerja. Menciptakan sistem   untuk memonitor pekerjaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Memberikan motivasi dan inspirasi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Memberikan semangat kepada bawahannya   agar bisa menyelesaikan masalah khususnya yang paling dasar yaitu kebutuhan   manusia</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Mengendalikan dan menyelesaikan masalah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Memonitor hasil, mengidentifikasi   penyimpangan dan menyelesaikan masalah yang terjadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="SV">Kepemimpinan Kolektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="FI">Baik pemimpin maupun manajer memiliki peran masing-masing. Dalam organisasi kemahasiswaan, biasanya yang berperan sebagai pemimpin adalah ketua organisasi sedangkan manajer adalah ketua bidang atau divisi di bawahnya. Ketua panitia kegiatan pun biasanya hanya berperan sebagai manajer. Mereka harus bisa memastikan tugas yang diberikan oleh sang pemimpin bisa terlaksana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="FI">Kondisi kemahasiswaan saat ini, dengan perkuliahan yang cukup padat dan batas waktu kuliah yang singkat, memungkinkan adanya kepemimpinan kolektif. Kepemimpinan kolektif? Maksudnya setiap orang di dalam organisasi mengambil peran sebagai pemimpin dalam porsinya masing-masing sesuai posisinya. Ketua organisasi akan menetapkan visi bersama di awal, lalu masing-masing ketua bidang atau divisi berinisiatif untuk menjadi pemimpin bagi divisi atau bidangnya masing-masing. Dengan pembagian kerja yang terkoordinasi dengan baik, akan terjadi kesinergisan dalam organisasi tersebut.[]</span></p>
<br />Posted in seri kepemimpinan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=135&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
