<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>إرفان حبيبي</title>
	<atom:link href="http://irfanview.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://irfanview.wordpress.com</link>
	<description>Gado-Gado Pemikiran Islam</description>
	<lastBuildDate>Mon, 23 Jan 2012 15:31:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='irfanview.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>إرفان حبيبي</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://irfanview.wordpress.com/osd.xml" title="إرفان حبيبي" />
	<atom:link rel='hub' href='http://irfanview.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Bisakah Media Massa Dipercaya?</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 04 Mar 2009 09:57:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[opiniku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[  Penyerbuan Israel ke Jalur Gaza yang lalu menyisakan pertanyaan bagi media massa. Bisakah media massa, baik cetak maupun elektronik, dipercaya? Pertanyaan ini muncul karena banyak orang merasa melihat dengan jelas keberpihakan media massa pada kasus tersebut. Pada kasus tersebut terlihat kebanyakan media massa Indonesia, yang merujuk media Arab, kentara mendukung Palestina. Sedangkan media Barat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=151&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p class="MsoTitle" style="text-align:justify;">Penyerbuan Israel ke Jalur Gaza yang lalu menyisakan pertanyaan bagi media massa. Bisakah media massa, baik cetak maupun elektronik, dipercaya? Pertanyaan ini muncul karena banyak orang merasa melihat dengan jelas keberpihakan media massa pada kasus tersebut. Pada kasus tersebut terlihat kebanyakan media massa Indonesia, yang merujuk media Arab, kentara mendukung Palestina. Sedangkan media Barat kebanyakan mendukung Israel.<span id="more-151"></span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apakah media berpihak? Kemungkinan ini cukup besar. Bahkan tidak dapat dipungkiri setiap media tampaknya memiliki keberpihakannya masing-masing. Setidaknya ada tiga faktor yang mendorong media massa berpihak, yaitu: faktor pemilik media, faktor pengiklan, dan faktor penguasa. Jika salah satu saja faktor di atas memiliki kecenderungan tertentu, media akan terdorong untuk berpihak.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun demikian, hampir mustahil jika media massa sampai berbohong. Apalagi jika dituduhkan pada media massa besar. Mereka dengan pengabdian cukup panjang telah menjadi besar di mata masyarakat. Dalam era informasi sekarang, kebohongan atau keteledoran dalam membuat berita sangat mudah diketahui. Tentu yang dipertaruhkan tidak sebanding dengan citra yang dibangun. Alasan ini pula yang membuat masyarakat cenderung memilih media massa besar karena kemungkinan media ini berbohong hampir tidak ada.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Cukup mudah bagi media massa berpihak tanpa berbohong. Untuk kasus penyerbuan Israel ke Palestina misalnya, bukankah kejadiannya sama tetapi mengapa berita yang sampai kepada kita tidaklah sama? Kita harus menyadari media massa tidak dapat memuat seluruh fakta yang ada dengan halamannya yang terbatas. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Salah satu cara media massa berpihak dengan menyeleksi berita yang akan ditampilkan. Pada kasus di atas, media massa yang berpihak pada Israel biasanya lebih banyak menyajikan berita tentang bagaimana penderitaan penduduk Israel di bawah gempuran rudal yang diluncurkan pihak HAMAS. Begitu pula dengan media massa yang berpihak pada Palestina. Media tersebut akan menampilkan berita tentang jumlah korban dan penderitaan yang dialami di pihak Palestina yang terus menerus bertambah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Media pun dapat menyeleksi narasumber dalam menyikapi suatu peristiwa. Media dapat memilih rujukan menteri pertahanan Israel jika pro-Israel atau Khaled Meshal jika pro-HAMAS ketika mencari jumlah korban di kedua belah pihak. Angka yang ditampilkan setiap media bisa berbeda tetapi tanpa harus berbohong. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada cara lain yang dipergunakan media massa yang berpihak, yaitu dengan pemilihan bahasa. Bahasa pada dasarnya tidaklah netral. Media yang mendukung perjuangan Palestina akan menyebut bom syahid pada aksi pengeboman yang mengorbankan nyawa pengebomnya. Sedangkan bagi yang kontra akan menyebutnya dengan istilah bom bunuh diri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Menyikapi fakta demikian, kita harus cerdas dalam membaca media. Setidaknya ada dua hal yang dapat dilakukan untuk memperoleh gambaran yang mendekati kebenaran dari suatu peristiwa. Pertama, kita harus dapat memisahkan antara fakta dan opini. Fakta adalah realitas-realitas yang benar-benar terjadi. Sedangkan opini merupakan pendapat, perkiraan, analisis atau pandangan media massa atau rujukan yang digunakan media massa terhadap suatu fakta. Dan sebagai pembaca cerdas tidak boleh sampai terjebak opini media massa dan fokus hanya pada fakta yang terjadi.</span></p>
<p><span>Kedua, membaca lebih dari satu media untuk mendapat perbandingan. Salah satu cara menilai media berpihak dengan melihat porsi yang diberikan terhadap suatu berita tertentu. Jika suatu berita terus-menerus menggunakan suatu rujukan tertentu dan jumlahnya tidak berimbang dengan yang lain, dapat dipastikan media itu sedang berpihak. Kita perlu melakukan perbandingan dengan media lain untuk mendapat gambaran yang lebih jelas dari suatu peristiwa.</span></p>
<br />Posted in opiniku  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/151/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/151/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=151&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/03/04/bisakah-media-massa-dipercaya/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Sekilas Sistem Pidana Islam</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 27 Feb 2009 03:33:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kampanye syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=146</guid>
		<description><![CDATA[Banyaknya partai Islam yang ikut pemilu tampaknya tidak disertai dengan ramainya kampanye syariat Islam. Apalagi sistem pidana Islam, tampaknya mustahil menjadi program unggulan parpol Islam dalam meraih suara. Mungkin karena memang sistem pidana biasanya menjadi kambing hitam jeleknya syariat Islam. Bayangan seseorang yang phobi-Islam ketika mendengar syariat Islam adalah rajam dan potong tangan. Menghindari pembahasan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=146&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Banyaknya partai Islam yang ikut pemilu tampaknya tidak disertai dengan ramainya kampanye syariat Islam. Apalagi sistem pidana Islam, tampaknya mustahil menjadi program unggulan parpol Islam dalam meraih suara. Mungkin karena memang sistem pidana biasanya menjadi kambing hitam jeleknya syariat Islam. Bayangan seseorang yang phobi-Islam ketika mendengar syariat Islam adalah rajam dan potong tangan.<span id="more-146"></span></p>
<p class="MsoNormal">Menghindari pembahasan pidana Islam merupakan hal yang salah dalam mempromosikan syariat Islam. Setidaknya karena dua hal. <em>Pertama</em>, sistem pidana merupakan bagian integral dari <em>syumuliatul Islam.</em> <em>Kedua</em>, secara empirik sistem ini memiliki keunggulan yang bisa dibuktikan, meski negara Khilafah sebagai institusi penegaknya sudah hancur sejak tahun 1924.</p>
<p class="MsoNormal">Sistem pidana Islam sebenarnya tidak hanya berisi hukuman-hukuman (sanksi/uqubat). Selain sistem sanksi, sistem pidana Islam juga menetapkan sistem pembuktian dan sistem birokrasi peradilan. Dalam artikel ini hanya menyinggung sistem sanksi saja.</p>
<p class="MsoNormal">Ada dua kunci mengapa sistem pidana Islam bisa meraih keberhasilan seperti itu. Yang pertama, sistem pidana Islam bersama syariat Islam yang lainnya mampu mencegah terjadinya tindakan kriminal. Sistem pendidikan Islam yang menekankan pada kepribadian Islam akan mencegah orang untuk berbuat kriminal karena mereka akan takut kepada Allah. Sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan akan mencegah orang berbuat kriminal karena alasan ‘perut’. Sistem pidana Islam itu sendiri akan membuat orang takut berbuat kriminal karena sistem sanksinya yang keras. Namun tentu sistem sanksi yang keras tersebut tidak akan sembarangan terjadi karena memiliki sistem pembuktian yang ketat.</p>
<p class="MsoNormal">Yang kedua, sistem pidana Islam bila dijalankan akan menjadi penghapus dosa yang diperbuat karena merupakan tambahan persyaratan taubat. Perlu dicatat, perbuatan dosa dan tindak kriminal dalam Islam adalah hal yang sama. <span>Setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan akan dihukum oleh Allah di akhirat kelak. Namun uqubat di dunia akan menjadi penebus dosanya itu. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>“Kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak membuat-buat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan. Siapa saja yang menepatinya maka Allah akan menyediakan pahala; dan siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman itu akan menjadi penebus baginya. Dan siapa saja yang melangggarnya kemudian Allah menutupinya (tidak sempat dihukum di dunia), maka urusan itu diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah berkehendak, maka Dia akan memaafkannya.”</span></em></p>
<p class="MsoNormal">Hal ini lekat khususnya pada dua jenis sanksi, yaitu hudud dan jinayat. Sanksi hudud merupakan hak Allah sedangkan jinayat adalah hak korban atau ahli waris karena itu keduanya wajib dipenuhi jika ingin bertaubat.</p>
<p class="MsoNormal">Secara bahasa, <em>hudud</em> berarti sesuatu yang membatasi di antara dua hal. Secara syar‘i, <em>hudud </em>bermakna sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan (kadarnya) oleh syariat dan menjadi hak Allah. Dalam kasus <em>hudud</em> tidak diterima adanya pengampunan atau abolisi. Sebab, <em>hudud </em>adalah hak Allah Swt.</p>
<p class="MsoNormal">Sanksi hudud terbatas pada 8 perkara dan hukumannya yang secara umum diuraikan sebagai berikut. <em>Pertama</em>, zina (pelaku dirajam jika <em>muhshan</em>/telah menikah atau cambuk 100 kali jika <em>ghayr</em> <em>muhshan</em>/belum menikah); kedua, homoseksual/<em>liwath</em> (pelaku dibunuh); <em>ketiga</em>, qadzaf/menuduh berzina tanpa didukung 4 orang saksi (pelaku dicambuk 80 kali); <em>keempat</em>, minum khamar (pelaku dicambuk 40/80 kali); <em>kelima</em>, murtad yang tidak mau kembali masuk Islam (pelaku dibunuh); <em>keenam</em>, membegal/<em>hirabah</em> (pelaku dibunuh jika hanya membunuh dan tidak merampas; dibunuh dan disalib jika membunuh dan merampas harta; dipotong tangan dan kaki secara bersilang jika hanya merampas harta dan tidak membunuh; dibuang jika hanya meresahkan masyarakat); <em>ketujuh</em>, memberontak terhadap Negara/<em>bughat</em> (pelaku diperangi dengan perang yang bersifat edukatif, yakni agar pelakunya kembali taat pada Negara, bukan untuk dihancurkan); <em>kedelapan</em>, mencuri (pelaku dipotong tangannya hingga pergelangan tangan jika memang telah memenuhi syarat untuk dipotong).</p>
<p class="MsoNormal"><em>Jinayat</em> adalah penyerangan atas badan yang mewajibkan adanya <em>qishash</em> (balasan setimpal) atau <em>diyat</em> (denda). Jinayat ini merupakan hak bagi korban atau ahli waris. Dengan demikian, korban atau ahli waris boleh memilih antara <em>qishash</em> atau mengambil <em>diyat</em> atau bahkan menyedekahkan <em>diyat</em>nya kepada pelaku (memaafkan). Jinayat ini sebenarnya cukup kompleks derivasinya untuk dijabarkan di sini. Tetapi sebagai catatan jinayat ini tidak sekadar pada pembunuhan saja. Bahkan untuk satu gigi yang lepas saja berharga diyat 5 unta sedangkan tiap jari tangan atau kaki berharga diyat 10 unta.</p>
<p class="MsoNormal">Ada banyak lagi tindakan kriminal yang tidak termasuk pada hudud maupun jinayat. Karena itu, tindakan kriminal itu tidak memiliki hukum yang ditetapkan langsung oleh Allah. Perkara-perkara tersebut diatur dengan sistem sanksi ta’zir dan mukhalafat.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Ta’zir</em> yang menurut bahasa bermakna pencegahan (<em>al-man‘u</em>) diterapkan atas dosa selain dosa hudud dan jinayat seperti, meninggalkan shalat atau menghina orang lain. Secara umum, ta’zir berlaku pada pelanggaran terhadap kehormatan; pelanggaran terhadap kemuliaan; perbuatan yang merusak akal; pelanggaran terhadap harta; gangguan keamanan; subversi; pelanggaran yang berhubungan dengan agama.</p>
<p class="MsoNormal">Administrasi negara pada dasarnya adalah sesuatu yang mubah. Tetapi pelanggaran terhadap administrasi negara merupakan pelanggaran terhadap perintah Imam, sedangkan melanggar perintah imam yang tidak bertentangan dengan aturan Allah adalah dosa. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah yang berbunyi,</p>
<p class="MsoNormal"><em>“Barangsiapa taat kepadaku maka ia taat kepada Allâh, barangsiapa bermaksiyat kepadaku maka ia bermaksiyat kepada Allâh, barangsiapa taat kepada amîrku, maka ia taat kepadaku, barangsiapa bermaksiyat kepada amîrku maka ia telah bermaksiyat kepadaku.”</em></p>
<p class="MsoNormal">Sanksi ini masuk pada bab mukhalafat. Karena serupa tapi tak sama ada ulama yang memisahkan antara ta’zir dan mukhalafat ada pula yang menyatakan mukhalafat bagian dari ta’zir.</p>
<p class="MsoNormal">Demikian sekilas sistem pidana dalam Islam. Memang belum lengkap rasanya tanpa penjelasan sistem pembuktian dan birokrasi peradilan dalam Islam. Namun setidaknya sudah cukup menggambarkan bahwa Islam sebagai ideologi telah memiliki sistem pidana yang akan menjamin terlaksananya syariat Islam dalam kehidupan bernegara. []</p>
<br />Posted in kampanye syariah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/146/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/146/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=146&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/27/sekilas-sistem-pidana-islam/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Antara Leader dan Manager</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 12 Feb 2009 02:43:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[seri kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=135</guid>
		<description><![CDATA[Banyak yang tidak bisa membedakan tugas pemimpin (leader) dan manajer. Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman organisasi, hal ini wajar. Antara leader dan manager memang memiliki lingkup pekerjaan yang sama, yaitu mengatur organisasi. Namun bila dalam praktik keduanya tidak bisa dibedakan, akibatnya akan fatal. Dalam organisasi kemahasiswaan, hal ini seringkali terjadi. Organisasi kemahasiswaan seringkali tidak [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=135&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Banyak yang tidak bisa membedakan tugas pemimpin (<em>leader</em>) dan manajer. Bagi mahasiswa yang belum memiliki pengalaman organisasi, hal ini wajar. Antara <em>leader</em> dan <em>manager</em> memang memiliki lingkup pekerjaan yang sama, yaitu mengatur organisasi. Namun bila dalam praktik keduanya tidak bisa dibedakan, akibatnya akan fatal.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dalam organisasi kemahasiswaan, hal ini seringkali terjadi. Organisasi kemahasiswaan seringkali tidak berkembang karena ketuanya hanya berperan sebagai manajer bukan pemimpin. Sang ketua hanya memastikan kegiatan tradisi yang sudah berlangsung tahun-tahun sebelumnya, berjalan kembali tahun ini. Akibatnya, tidak ada perubahan yang berarti pada organisasi tersebut.<span id="more-135"></span><br />
</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="SV">Manajemen adalah satu set proses yang akan menjaga sistem agar tetap berjalan dengan baik, sedangkan kepemimpinan adalah satu set proses yang akan membuat organisasi beradaptasi terhadap perubahan.</span><span lang="SV"> </span><span lang="SV">Karena itu, seorang manajer akan menghasilkan efisiensi yang tinggi pada organisasi, sedangkan seorang pemimpin akan membawa perubahan pada organisasi.</span></p>
<p><span lang="FI"><strong>Kisah Sukses McDonald’s</strong></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Dahulu, McDonald’s adalah sebuah restoran <em>drive-in</em> yang didirikan oleh dua orang kakak beradik bernama Dick dan Maurice. Bisnis mereka sudah cukup sukses pada waktu itu. Penjualan tahunannya mencapai $200.000 dan kedua kakak beradik ini membagi keuntungan $50.000 setiap tahunnya –<span> </span>jumlah sebanyak itu sudah bisa membuat mereka menjadi kaum elit.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tahun 1948, kakak beradik Dick dan Maurice merasakan bahwa zaman sudah mulai berubah, dan untuk itu pula mereka harus memodifikasi usaha restorannya. Mereka mulai hanya melayani pelanggan yang datang memesan langsung, bukannya pesanan <em>drive-thru</em>, dan segalanya mereka efisienkan. Mereka mengurangi jumlah menu restorannya dan fokus pada hamburger. Mereka meniadakan peralatan makan yang biasa, dan menggantinya dengan peralatan makan berbahan kertas. Biaya produksi dan harga makanan sajian mereka pun menjadi berkurang. Kedua kakak beradik ini bahkan menciptakan apa yang mereka sebut dengan <em>Speedy Service System</em> (Sistem Layanan Cepat). Sasaran mereka adalah memenuhi pesanan pelanggan dalam waktu tiga puluh detik atau kurang. Mereka berhasil! Pada pertengahan tahun 1950-an, omzet tahunan McDonald’s mencapai $350.000 dan ketika itu, Dick serta Maurice berbagi keuntungan kira-kira $100.000 setiap tahunnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kesuksesan ini membuat mereka terpikir, bagaimana seandainya konsep McDonald’s dipasarkan sebagai sebuah waralaba? Gagasan waralaba restoran bukanlah barang baru ketika itu, malah sudah dikenal selama beberapa dekade. Bagi kakak beradik McDonald, ide waralaba ini kelihatannya sungguh menarik. Maka merekapun memulainya pada tahun 1952, dan mereka gagal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Tahun 1954, kedua kakak beradik ini berjumpa dengan Ray Kroc. Kroc sudah mempunyai perusahaan sendiri, yang menjual mesin pembuat minuman <em>milk-shake</em>. Ia mendengar tentang kisah sukses restoran McDonald’s. Restoran kakak beradik Dick dan Maurice adalah salah satu pelanggan Kroc yang terbaik. Begitu ia mengunjungi restoran McDonald’s, ia mendapatkan visi tentang potensi restoran ini di masa mandatang. Dalam benaknya, ia bisa melihat restoran tersebut ada di berbagai negara, di seluruh penjuru dunia. Maka Kroc pun segera membuat kesepakatan dengan Dick dan Maurice, dan pada tahun 1955, ia membentuk McDonald’s System, Inc. (belakangan diubah namanya menjadi McDonald’s Corporation).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Kroc segera membeli hak waralaba agar ia dapat menjadikannya sebuah model serta prototipe untuk menjual waralaba ini lagi. Ia membentuk sebuah tim dan membangun sebuah organisasi untuk menjadikan McDonald’s sebuah perusahaan berskala nasional. Ia merekrut dan mempekerjakan orang-orang yang paling cerdas yang dapat ia temukan, dan seiring perkembangan timnya<span>,</span> dalam jumlah maupun kapasitas kemampuannya, anggota tim yang baru direkrut dilatih dengan ketrampilan memimpin.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Pada mulanya, Kroc banyak berkorban. Walaupun usianya sudah pertengahan lima puluhan, ia bekerja lembur persis seperti ketika ia baru mulai berbisnis, tiga puluh tahun silam. Selama delapan tahun pertamanya bersama McDonald’s, Kroc tidak menerima upah. Bukan hanya itu, secara pribadi ia bahkan meminjam uang dari bank dengan jaminan asuransi jiwanya untuk menutup upah beberapa staf penting dalam timnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="FI">Namun pengorbanannya serta kepemimpinannya akhirnya membuahkan hasil. Pada 1961, Kroc membeli hak eksklusif terhadap McDonald’s dengan harga $2,7 juta, dan ia terus berusaha mengubahnya menjadi perusahaan berskala global. Antara tahun 1955 dan 1959, Kroc berhasil membuka 100 restoran. Empat tahun setelahnya, sudah berdiri 500 restoran McDonald’s. Hari ini, McDonald’s telah membuka lebih dari 21,000 outlet di tidak kurang dari 100 negara.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Apakah yang bisa kita pelajari dari cerita di atas? Kita tahu bahwa McDonald bersaudara berhasil membuat restorannya menjadi sangat efisien, dan meningkatkan penjualan serta labanya, tetapi mereka gagal membuat restoran tersebut berkembang. Adapun Ray Kroc, meskipun ia tidak terlibat dalam bisnis McDonald’s dari awal, dengan tangan dinginnya ia berhasil memimpin perusahaannya menjual waralaba McDonald’s ke berbagai pelosok sehingga menjadi restoran siap saji terbesar yang kita kenal sekarang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span lang="IT">Kita bisa mengatakan bahwa Dick dan Maurice bersaudara telah berhasil sebagai manajer McDonald’s dengan sistem yang mereka buat sedemikian efisien, tetapi Kroc-lah yang membesarkan McDonald’s dengan kepemimpinannya. Kroc mampu memilih orang-orang yang tepat untuk bergabung di dalam timnya. Kroc juga berkorban kepada bawahannya demi cita-citanya membesarkan McDonald’s. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong><span lang="IT">Membedakan Pemimpin dan Manajer!</span></strong></p>
<div style="text-align:left;">
<table class="MsoNormalTable" border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="SV">PEMIMPIN</span></strong></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:center;"><strong><span lang="SV">MANAJER</span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="SV">Menentukan arah (visi)</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menentukan visi bagi organisasi dan   strategi untuk meraih visi tersebut di masa depan</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Menyusun rencana dan anggaran</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menetapkan langkah detail dan rencana   kerja, serta menempatkan sumber daya untuk meraih visi yang telah ditetapkan</span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV"> </span></strong></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Menyelaraskan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Menyampaikan arahan dengan perkataan dan   teladan agar anggota tim mengerti dan menerima visi dan strategi yang telah   ditetapkan</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Mengorganisasikan<em> </em>dan membagi tugas</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Menetapkan struktur organisasi dan   orang-orang yang mengisi berbagai posisi dalam struktur tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV">Membagikan tugas dan tanggung jawab.   Menetapkan peraturan dan prosedur sebagai petunjuk kerja. Menciptakan sistem   untuk memonitor pekerjaan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
</tr>
<tr>
<td width="307" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Memberikan motivasi dan inspirasi </span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Memberikan semangat kepada bawahannya   agar bisa menyelesaikan masalah khususnya yang paling dasar yaitu kebutuhan   manusia</span></p>
</td>
<td width="309" valign="top">
<p class="MsoNormal"><strong><span lang="SV">Mengendalikan dan menyelesaikan masalah</span></strong></p>
<p class="MsoNormal"><span lang="SV">Memonitor hasil, mengidentifikasi   penyimpangan dan menyelesaikan masalah yang terjadi</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="SV"> </span></p>
</td>
</tr>
</tbody>
</table>
</div>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><strong><span lang="SV">Kepemimpinan Kolektif</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="FI">Baik pemimpin maupun manajer memiliki peran masing-masing. Dalam organisasi kemahasiswaan, biasanya yang berperan sebagai pemimpin adalah ketua organisasi sedangkan manajer adalah ketua bidang atau divisi di bawahnya. Ketua panitia kegiatan pun biasanya hanya berperan sebagai manajer. Mereka harus bisa memastikan tugas yang diberikan oleh sang pemimpin bisa terlaksana. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:left;"><span lang="FI">Kondisi kemahasiswaan saat ini, dengan perkuliahan yang cukup padat dan batas waktu kuliah yang singkat, memungkinkan adanya kepemimpinan kolektif. Kepemimpinan kolektif? Maksudnya setiap orang di dalam organisasi mengambil peran sebagai pemimpin dalam porsinya masing-masing sesuai posisinya. Ketua organisasi akan menetapkan visi bersama di awal, lalu masing-masing ketua bidang atau divisi berinisiatif untuk menjadi pemimpin bagi divisi atau bidangnya masing-masing. Dengan pembagian kerja yang terkoordinasi dengan baik, akan terjadi kesinergisan dalam organisasi tersebut.[]</span></p>
<br />Posted in seri kepemimpinan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/135/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/135/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=135&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/02/12/antara-leader-dan-manager/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Followership</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/followership/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/followership/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 06 Jan 2009 07:45:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[seri kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=119</guid>
		<description><![CDATA[Banyak orang menekankan pentingnya leadership dalam berorganisasi. Padahal ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan dalam berorganisasi, yaitu followership. Setiap anggota organisasi haruslah memiliki followership agar organisasi berjalan dengan baik. Tipe Pengikut Pada kenyataannya, jika melihat organisasi-organisasi kemahasiswaan saat ini, setidaknya ada empat tipe pengikut. Empat tipe ini dilihat didasarkan kinerja dan interaksinya dengan anggota [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=119&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">
<p class="MsoNormal">Banyak orang menekankan pentingnya <em>leadership</em> dalam berorganisasi. Padahal ada aspek lain yang tidak kalah pentingnya yang harus diperhatikan dalam berorganisasi, yaitu <em>followership</em>. Setiap anggota organisasi haruslah memiliki <em>followership</em> agar organisasi berjalan dengan baik.<span id="more-119"></span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#3366ff;">Tipe Pengikut</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Pada kenyataannya, jika melihat organisasi-organisasi kemahasiswaan saat ini, setidaknya ada empat tipe pengikut. Empat tipe ini dilihat didasarkan kinerja dan interaksinya dengan anggota tim yang lain. Keempat kriteria tersebut adalah:</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Bawahan <em>(Subordinate)</em>.</strong> Tipe pengikut seperti ini memiliki kinerja dan interaksi  rendah dalam organisasi. Pengikut seperti ini merupakan pengikut pasif, tidak memiliki inisiatif dan kurang terikat dengan tim bahkan jarang muncul bersama anggota tim lainnya. Dia hanya mengerjakan apa saja yang diperintahkan. Yang paling parah tipe ini seringkali menjauh dari organisasi.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Kontributor <em>(Contributor)</em>.</strong> Tipe pengikut ini memiliki kinerja tinggi namun interaksinya rendah. Mereka tidak mau terikat dengan tim tapi rajin dalam mengerjakan tugas-tugasnya. Pengikut tipe ini senang bekerja sendirian bahkan mungkin kesulitan ketika bekerja sama dengan orang lain.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Politisi <em>(Politician)</em>.</strong> Tipe pengikut ini merupakan pengikut yang mudah berinteraksi dengan anggota tim lainnya tetapi kinerjanya rendah. Mereka memiliki ciri kemampuan interpersonal tinggi dan mudah menjalin relasi. Hanya saja rasa tanggung jawab dan integritasnya rendah sehingga tugas-tugasnya terbengkalai.</p>
<p class="MsoNormal"><strong>Rekan <em>(Partner)</em>.</strong> Pengikut tipe ini memiliki kinerja dan interaksi tinggi dalam organisasi. Mereka tidak hanya mengerjakan tugas dengan baik tetapi juga pandai dalam menjalin hubungan dengan anggota organisasi yang lain.</p>
<p class="MsoNormal">Pengikut dengan tipe politisi mungkin pada awalnya disukai orang-orang tetapi bila ia selalu menghindar dari tugas orang-orang akan mulai membencinya. Apalagi bila ia pintar mencari alasan untuk lari dari tugas-tugasnya. Tipe kontributor mungkin lebih baik dari tipe politisi namun alangkah aneh bila ada seseorang yang selalu mengerjakan tugas-tugas organisasi namun kita tidak mengenalnya, tentu hal ini tidaklah sehat bagi organisasi. Apalagi kurangnya interaksi dengan anggota tim lain dapat membuka peluang salah paham yang besar.</p>
<p class="MsoNormal">Tipe pengikut yang baik tentu saja tipe rekan. Jika sebuah organisasi memiliki anggota dengan tipe ini, visi dan perubahan yang dibawa  pemimpin akan mudah tercapai. Sebaliknya, pengikut tipe bawahan malah mempersulit kerja organisasi. Walaupun namanya tercantum dalam organisasi, tetapi pengikut tipe bawahan ini tidak memberikan sumbangsih kepada organisasi.</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#3366ff;">Urgensi</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Agar berjalan dengan baik, sebuah organisasi tidak hanya membutuhkan kepemimpinan yang baik, tetapi juga harus memiliki <em>followership</em>/kepengikutan yang baik pula. <em>Followership</em> ditunjukkan dengan komitmen tinggi pada organisasi. Komitmen seorang pengikut kepada pemimpin tidak berarti dia harus selalu setuju kepada pemimpinnya. Justru komitmen ini melahirkan inisiatif, kekritisan, integritas, dan kinerja tinggi dalam organisasi.</p>
<p class="MsoNormal"><em>Followership</em> merupakan prasyarat kepemimpinan efektif. Begitu pula sebaliknya, jika pengikut tidak memliliki<em>followership </em> yang baik dan tidak mengikuti pemimpin dengan baik,  beban pemimpin menjadi lebih berat. Coba kamu renungkan, bukankah jika kamu menjadi seorang pemimpin kamu berharap anggota-anggotamu mau bekerja sama dan mengikuti arahanmu?</p>
<p class="MsoNormal">Selain bermanfaat bagi organisasi, pengalaman menjadi pengikut yang baik akan berguna saat giliran menjadi pemimpin. Pengalaman tersebut menuntun kamu memimpin organisasi secara efektif karena kamu mengetahui seluk beluk organisasi dengan baik sampai ke tingkat paling kecil.</p>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#3366ff;">Menjadi Pengikut yang Baik</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Menjadi seorang pengikut yang baik sebenarnya mudah. Ketika  jelas siapa yang bertanggung jawab, maka kamu tinggal mengikutinya. Tanggung jawab seorang pemimpin bukanlah hal sepele. Pemimpin tidak hanya bertanggung jawab akan tercapainya visi, tetapi bertanggung jawab pula atas setiap tindakan salah yang dilakukan pengikutnya.</p>
<p class="MsoNormal">Namun jangan lupa, sebagai pengikut, kita harus mengikuti pemimpin dengan penuh inisiatif dan kekritisan. Inisiatif tentu dibutuhkan karena seorang pemimpin tetap saja manusia biasa yang mungkin lupa akan hal penting. Bahkan bisa jadi dia melakukan kesalahan atau melenceng dari tujuan organisasi. Di sini sikap kritis kita sebagai pengikut menjadi penting.</p>
<p class="MsoNormal">Menurut Lussier dan Achua (2004), ada beberapa sikap yang harus dibangun untuk menjadi seorang pengikut yang baik. Sikap-sikap itu yaitu:</p>
<ul type="disc">
<li class="MsoNormal">memberikan      dukungan kepada pemimpin,</li>
<li class="MsoNormal">memiliki      inisiatif tinggi,</li>
<li class="MsoNormal">mencari      dan menerima umpan baik dari pemimpin ,</li>
<li class="MsoNormal">melaksanakan      tugas dan tanggung jawab yang diterima,</li>
<li class="MsoNormal">memperlihatkan      apresiasi,</li>
<li class="MsoNormal">selalu      menyampaikan apa yang dikerjakan pada pemimpin,</li>
<li class="MsoNormal">sabar atas      sikap buruk pemimpin.</li>
</ul>
<p class="MsoNormal"><strong><span style="color:#3366ff;">Kondisi Mahasiswa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal">Sikap seorang pengikut yang baik dalam organisasi kemahasiswaan yang perlu ditumbuhkan adalah inisiatif. Seringkali ketika dalam suatu rapat mencari solusi tertentu mereka yang hadir enggan memberikan masukan karena biasanya mereka yang memberikan masukan malah ditunjuk menjadi penanggungjawabnya, alias menjadi tumbal. Karena kebiasaan itu, orang cenderung tidak mengeluarkan ide-idenya.</p>
<p class="MsoNormal">Ketika setiap orang malas berinisiatif,  gagasan tidak akan keluar. Padahal gagasan yang ada bisa jadi malah mempermudah kinerja organisasi. Hendaknya setiap orang tidak segan  memberikan gagasan yang baik, dan juga tidak segan  menerima tanggung jawab. Kita harus menyadari, dengan kondisi kemahasiswaan yang ada, setiap orang pada dasarnya memiliki beban yang sama beratnya. Tentu tugas yang ada akan lebih ringan bila setiap orang sama-sama berinisiatif, bukan sama-sama menghindari tanggung jawab.</p>
<p class="MsoNormal">Selain itu, perlu dikembangkan juga komunikasi. Dalam sebuah organisasi penting agar setiap orang memiliki informasi yang sama dalam organisasi. Baik informasi dari pemimpin ataupun dari anggota yang lain. Sampainya informasi mengenai langkah-langkah dan perubahan yang diambil organisasi akan mempermudah dan menghilangkan salah paham dalam mengerjakan tugas organisasi.[]</p>
<br />Posted in seri kepemimpinan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/119/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/119/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=119&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/followership/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Kecerdasan Emosi Pemimpin</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/kecerdasan-emosi-pemimpin/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/kecerdasan-emosi-pemimpin/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Jan 2009 18:14:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[seri kepemimpinan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/kecerdasan-emosi-pemimpin/</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika Petronas berniat membeli pesawat milik Indonesia, maka diutuslah dua orang perwakilan Indonesia untuk membicarakan kontrak pembeliannya dalam sebuah jamuan makan malam. Setelah makan malam usai, sementara proses negosiasi kontrak masih berjalan, sang bos Petronas mengajak mereka melihat-lihat koleksi guci miliknya. Bos Petronas tersebut antusias dan menggebu-gebu menerangkan guci-guci kesayangannya yang ia banggakan. Ketika [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=113&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:justify;">Suatu ketika Petronas berniat membeli pesawat milik Indonesia, maka diutuslah dua orang perwakilan Indonesia untuk membicarakan kontrak pembeliannya dalam sebuah jamuan makan malam. Setelah makan malam usai, sementara proses negosiasi kontrak masih berjalan, sang bos Petronas mengajak mereka melihat-lihat koleksi guci miliknya. Bos Petronas tersebut antusias dan menggebu-gebu menerangkan guci-guci kesayangannya yang ia banggakan. Ketika dimintai pendapat, salah seorang utusan Indonesia lalu mengomentari, guci-guci seperti itu mudah ditemui di Jakarta dengan harga murah. Kontan saja, sang bos Petronas itu marah. Kontrak pembelian pesawat terbang itupun dibatalkan.<span id="more-113"></span></p>
<p style="text-align:justify;">Dalam setiap interaksi manusia, kecerdasan emosional sangatlah penting. Maka, rendahnya kecerdasan emosional bisa berakibat fatal. Dalam kisah di atas, kalau saja utusan tersebut memahami perasaan bos Petronas yang bangga akan koleksinya, tentu pembatalan kontrak tersebut tidak terjadi.</p>
<p style="text-align:justify;"><em>Leadership is all about relationship, </em>sedangkan membangun dan merawat relasi/hubungan dengan baik dibutuhkan kecerdasan emosi. Karena itu, seorang pemimpin tanpa kecerdasan emosi yang baik akan sulit mendapatkan kepercayaan pengikutnya, bahkan mereka mungkin menjauhinya. Karena itu, mustahil membangun kepemimpinan efektif tanpa adanya kecerdasan emosi.</p>
<p style="text-align:justify;">Menurut Shankman dalam &#8220;<em>Emotionally Intelligent Leadership</em>&#8221; (2008), ada tiga kesadaran yang harus dilatih para pemimpin yang ingin mengembangkan kecerdasan emosionalnya: kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain, dan kesadaran akan konteks. Kesadaran akan diri menuntut kamu jujur mengenali emosi diri. Kesadaran akan orang lain mengharuskan kamu memperhatikan karakter setiap anggotamu atau pemimpinmu dalam organisasi. Kesadaran akan konteks menuntut kamu mengenali lingkungan, budaya ataupun norma tempat kamu bekerja.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mempermudah, mari kita bayangkan sebuah tim sepak bola. Sang pelatih sebagai pemimpin tim harus memiliki kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain (dalam hal ini tim sepak bola tersebut) dan kesadaran akan konteks (peraturan, tim lain, tempat, musim pertandingan, dan lain sebagainya). Pelatih sebagai pemimpin tim hanyalah satu dari tiga faktor kecerdasan emosional.</p>
<p style="text-align:justify;">Banyak orang tidak memiliki kesadaran akan orang lain dan konteks. Hal itu membuat mereka gagal memimpin, karena mereka berpikir bahwa cara memimpin yang sama di masa lalu bisa diterapkan pada masa kini. Biasanya orang tersebut mulai menyalahkan keadaan atau menyalahkan anggotanya. Dengan memiliki kesadaran akan diri, orang lain dan konteks seorang pemimpin mudah membagi nilai dan visi kepada anggota-anggotanya, karena mereka memahami bagaimana cara menyampaikan nilai dan visi tersebut kepada para anggota, terlebih sekadar meminta partisipasi anggota-anggotanya. Karena itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor kepemimpinan efektif.</p>
<pre><span style="font-family:Georgia;line-height:19px;white-space:normal;"><strong><span style="color:#33cccc;">Kesadaran akan Diri Sendiri</span></strong></span></pre>
<p style="text-align:justify;">Siapa aku? Apa tujuanku? Apa cita-citaku? Apa yang membuatku termotivasi? Apa yang membuat aku frustasi? Bagaimana keadaan yang membuat aku dalam kondisi terbaik? Pengetahuanmu mengenai jawaban pertanyaan-pertanyaan ini akan mengantarkan kamu menjadi pemimpin sukses. Dengan mengenal kemampuan dan emosi diri, kamu dapat menempatkan diri dengan tepat.</p>
<p style="text-align:justify;">Kesadaran akan diri dimulai dengan mengenali diri. Jika kamu mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, itu adalah salah satu pertanda bahwa kamu mengenal dirimu sendiri. Kamu tidak harus bisa menjawab semua pertanyaan tersebut pada saat ini, karena mengenal diri adalah proses yang panjang. Kamu memiliki waktu sepanjang hidup untuk mengenal dirimu sendiri. Hanya saja, proses pengenalan diri tidak terjadi begitu saja, melainkan butuh usaha keras. Kalau kamu tidak berusaha mengenal dirimu sendiri, bagaimana mungkin orang lain dapat memahami kamu?</p>
<p style="text-align:justify;">Langkah awal yang harus dilakukan untuk mengenal diri kamu adalah mengidentifikasi emosi dan reaksi diri bila ada suatu kejadian. Dengan menyadari emosi diri, kamu bisa mengetahui <em>hot button</em> kamu. Kejadian atau kata-kata seperti apa yang membuat kamu tersinggung, atau merasa marah. Dengan mengetahuinya, kamu bisa memilih tindakan, menghindari <em>hot button</em> itu atau bersiap ketika memasuki situasi tersebut.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika ada yang menekan <em>hot button</em> kamu, kamu harus belajar mengendalikan emosimu. Tidak ada orang yang suka pada seorang pemarah apalagi pemimpin tukang marah-marah. Ketika kamu mengetahui <em>hot button</em> yang membuatmu marah, kamu bisa mengambil tindakan tepat. Kamu harus menyadari bahwa tindakan seseorang ketika marah biasanya salah, dan lebih bersandar pada emosi sesaat ketimbang logika.</p>
<p style="text-align:justify;">Misalkan: saat seorang teman membuat kamu tersinggung, dia menekan <em>hot button</em> milikmu. Ia menceritakan kepada orang lain kejadian yang menurut kamu seharusnya perlu ditutupi. Ada dua pilihan tindakan yang bisa kamu lakukan. Pertama, kamu meledak. Kamu memarahinya di depan orang-orang. Kamu malah bersumpah tidak menjadi temannya lagi. Akibatnya jelas persahabatanmu putus di sini. Jangan lupa, kamu pun akan dicap pemarah oleh orang-orang.</p>
<p style="text-align:justify;">Kedua, kamu segera menarik temanmu dan memintanya berbicara secara pribadi. Lalu ungkapkan betapa kecewanya kamu mendengar apa yang ia katakan dan meminta ia menjelaskan mengapa ia menceritakan hal yang seharusnya rahasia itu. Bisa jadi ia punya alasan kuat yang ternyata bisa kamu setujui. Atau kalau ia merasa bersalah setelah itu, ia akan segera minta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Atau, bila ternyata ia tidak juga merasa perlu meminta maaf, setidaknya kamu mengutarakan perasaan kamu secara pribadi kepadanya. Masalah selesai tanpa pertumpahan darah.</p>
<p style="text-align:justify;">Selain mengenali emosi kamu juga harus mengenali kelebihan dan kekurangan diri. Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sama pentingnya dengan bercermin sebelum berangkat kuliah. Kamu perlu memeriksa apakah rambut sudah tertata rapi, apakah kancing baju terpasang lengkap, dan lain sebagainya. Tentu gawat bila kamu melupakan hal penting seperti memakai celana sebelum berangkat kuliah. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, kamu bisa tahu bagian apa yang perlu kamu kembangkan lagi.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk mengenali diri, kamu memang perlu merenung, introspeksi diri atau bahkan menuliskan peristiwa penting dalam catatan harianmu. Penting bagi kamu merenungkan apa yang kamu lakukan hari ini, apakah sikap kamu kepada orang lain sudah cukup baik, dsb. Bahkan kamu mungkin perlu menyediakan waktu khusus untuk hal ini. Banyak orang karena merasa sibuk melewatkan hal penting ini. Padahal introspeksi ini dapat mengingatkan kita agar selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara berikutnya adalah dengan bertanya kepada teman anda dan orang yang kamu percaya, mereka bisa jadi lebih objektif dalam menilai kamu. Mereka juga mungkin saja mengetahui kekurangan kamu yang tidak kamu sadari sendiri. Tentu saja dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima berbagai penilaian mereka seperti apapun bentuknya.</p>
<pre><span style="font-family:Georgia;line-height:19px;white-space:normal;"><strong><span style="color:#33cccc;">Kesadaran akan Orang
Lai</span></strong><strong><span style="color:#33cccc;">n</span></strong></span><strong>
</strong></pre>
<p style="text-align:justify;">Manusia adalah sesuatu yang hidup. Manusia tidak bisa disamakan dengan mesin yang jika mendapat perintah langsung bertindak sesuai perintah tersebut. Kamu perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki cara kerja, perangai, sifat, dan keinginan berbeda. Terlalu banyak manusia di dunia ini untuk dianggap hanya memiliki satu karakter saja. Jika kamu bisa memahami perbedaan setiap orang, maka kamu pun dapat memperlakukan mereka dengan tepat sesuai dengan karakter masing-masing.</p>
<p style="text-align:justify;">Seorang anggota organisasi yang sedang merasa senang akan merespon dengan cepat ketika ia mendapat perintah, tetapi ketika dia ada sedang berada dalam kondisi <em>bete, </em>jangan harap kinerjanya akan sama bagusnya. Dalam keadaan seperti itu, bisa jadi tindakan yang lebih tepat adalah menghiburnya atau membiarkannya tenang sampai masalahnya selesai. Walaupun kamu mungkin membutuhkan mereka melakukan suatu pekerjaan penting untuk organisasi kalian, kamu harus terlebih dahulu memahami kondisi anak buah/pemimpin kamu. Bagaimana mungkin orang lain mengerti harapan atau kebutuhan kamu bila kamu tidak mau mengerti keadaan mereka? <em>Bukankah sangat menyenangkan bila ada orang yang memahami kamu tanpa kamu menjelaskan perihal keadaan kamu?</em></p>
<p style="text-align:justify;">Pengikut adalah bagian penting dalam sebuah organisasi. Tidak ada organisasi jika hanya berisi seorang ketua saja. Karena itu, memperhatikan mereka dan bersikap sesuai dengan karakter mereka masing-masing mempermudah berjalannya suatu organisasi.</p>
<p style="text-align:justify;">Cara paling baik memahami orang lain adalah dengan mengembangkan empati dalam diri kamu. Empati berbeda dengan simpati. Simpati itu berusaha memahami keadaan orang lain dengan persepsi kamu, bagaimana perasaan kamu ketika kamu berada dalam situasi yang sedang ia hadapi. Empati lebih dalam daripada simpati, empati menuntut kamu berusaha memahami keadaan orang dari sudut pandang orang tersebut. Seseorang yang memiliki sikap empati lebih mudah memotivasi orang lain.</p>
<p style="text-align:justify;">Empati dibutuhkan untuk melahirkan rasa saling memahami. Karena itu, cara praktis meraih empati adalah dengan mendengarkan orang lain dengan hati. Kamu tidak sekadar mendengar &#8220;apa&#8221; yang ia sampaikan tetapi mendengarkan &#8220;bagaimana&#8221; ia menyampaikannya. Perhatikanlah bahasa tubuh yang ia gunakan, itu lebih menggambarkan bagaimana perasaannya sebenarnya.</p>
<pre><span style="font-family:Georgia;line-height:19px;white-space:normal;"><strong><span style="color:#3366ff;"><span style="color:#33cccc;">Kesadaran akan Kontek</span><span style="color:#33cccc;">s</span></span></strong></span><strong>
</strong></pre>
<p style="text-align:justify;">Misalnya kamu memimpin dua unit kegiatan mahasiswa (UKM) dengan karakter berbeda, ketua resimen mahasiswa (menwa) dan ketua panitia sebuah acara unit kesenian. Kamu pastinya melakukan pendekatan militer untuk memimpin menwa. Tetapi pendekatan militer tidak tepat dijalankan ketika kamu menjadi ketua panitia acara unit kesenian. Kalau kamu terus-terusan mengomando anak buah kamu dalam kepanitiaan acara unit kesenian tersebut, bisa-bisa mereka justru membelot. Memperlakukan kedua UKM itu dengan cara sama adalah cara yang tidak tepat. Masing-masing UKM itu memiliki budaya (konteks) berbeda.</p>
<p style="text-align:justify;">Konteks adalah setiap hal yang ada dalam lingkungan tempat pemimpin dan pengikut berada, seperti situasi, budaya, sejarah, dan peraturan. Setiap organisasi memiliki situasi, budaya, sejarah dan peraturannya sendiri. Karena itu, sikap yang cocok untuk satu organisasi tertentu belum tentu cocok untuk organisasi lain. Bahkan bisa jadi sikap yang sama pada satu organisasi namun pada waktu yang berbeda pun tidak tepat. Hal ini karena konteks adalah sesuatu yang dinamik. Situasi dan sejarah organisasi tentu berkembang seiring perubahan waktu. Jika pemimpin itu ibarat nahkoda maka kesadaran akan kondisi alam (konteks) mempermudahnya mengarungi lautan meski badai menghadang.</p>
<p style="text-align:justify;">Untuk memiliki kesadaran konteks, kamu perlu menjadi elang yang terbang tinggi. Elang terbang mampu melihat keseluruhan situasi yang ada di daratan. Ketika ia sedang mengejar seekor kelinci, dia mengetahui ke mana kemungkinan kelinci itu lari karena ia sudah melihat seluruh jalur yang mungkin kelinci itu lalui.</p>
<p style="text-align:justify;">Ketika pertama kamu memasuki suatu organisasi, sebagai elang, yang perlu kamu lakukan adalah &#8220;terbang&#8221;. Kamu perlu melihat secara menyeluruh hal-hal penting yang ada dalam organisasi. Selain hal yang bersifat keorganisasian di atas kamu pun perlu mengetahui interaksi yang terjadi dalam organisasi. Hal ini seringkali tidak kasat mata, apalagi tertulis dalam aturan keorganisasian. Memahami apa yang terjadi dalam organisasi berarti kamu harus mempelajari perbedaan antara apa yang secara resmi tertulis dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi yang sebenarnya memimpin dalam suatu organisasi bukanlah orang yang berada pada posisi ketua.</p>
<p style="text-align:justify;">Hal ini memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih. Sebagai latihan awal ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa jadi panduan:</p>
<ul>
<li>Apa organisasimu menjalankan program-program kerjanya dengan baik?</li>
<li>Apakah ketua dan para anggotanya senang mengerjakan tugas organisasi?</li>
<li>Apakah organisasi itu menjadi kebanggaan bagi para anggotanya?</li>
<li>Bagian mana yang membuat mereka bangga?</li>
<li>Bagaimana sikap orang luar organisasi (massa kampus) terhadap keberadaan organisasi?</li>
<li>Apakah organisasi itu dianggap bermanfaat atau merugikan mereka?</li>
</ul>
<p style="text-align:justify;">Pertanyaan bisa lebih dalam lagi seperti:</p>
<ul>
<li>Bagaimana interaksi antaranggota dan antara anggota dengan ketuanya?</li>
<li>Siapa yang <strong>sebenarnya</strong> memimpin? Siapa yang <strong>ingin</strong> memimpin?</li>
<li>Apa ada kelompok/geng dalam organisasi? Ada berapa? Geng siapa yang paling berpengaruh? []</li>
</ul>
<br />Posted in seri kepemimpinan  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/113/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/113/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=113&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2009/01/06/kecerdasan-emosi-pemimpin/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Islam dan Modernisasi</title>
		<link>http://irfanview.wordpress.com/2008/10/20/islam-dan-modernisasi/</link>
		<comments>http://irfanview.wordpress.com/2008/10/20/islam-dan-modernisasi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 19 Oct 2008 18:52:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>irfan</dc:creator>
				<category><![CDATA[kampanye syariah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://irfanview.wordpress.com/?p=70</guid>
		<description><![CDATA[Ada saja orang yang mengatakan kembali ke Islam artinya kembali ke jaman onta. Ada juga yang mengatakan jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang. Seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara kaffah harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki. Tentu saja pendapat tersebut keliru. Dilihat dari sisi historis saja pendapat tersebut jelas kesalahannya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=70&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada saja orang yang mengatakan kembali ke Islam artinya kembali ke jaman onta. Ada juga yang mengatakan jika kembali ke Islam kita akan mundur beberapa ratus tahun ke belakang. Seolah-olah jika kita menjalankan aturan Islam secara <em>kaffah</em> harus meninggalkan semua teknologi yang kita miliki. Tentu saja pendapat tersebut keliru.</p>
<p>Dilihat dari sisi historis saja pendapat tersebut jelas kesalahannya. Sebab pada masa yang lalu justru Islam adalah pemimpin dunia dalam urusan sains dan teknologi.<img title="More..." src="http://irfanview.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" alt="" width="1" height="1" /><span id="more-70"></span></p>
<p>Ada dua kemungkinan mengapa pendapat seperti seperti itu muncul. Mungkin berasal dari keinginan melecehkan Islam. Atau mungkin timbul dari pemahaman Islam yang kurang sempurna. Sebagai contoh, saya pernah mendengar cerita dari teman yang entah benar atau salah. Katanya dahulu seorang syaikh Arab menolak alat bor minyak bumi dengan alasan <em>bid&#8217;ah</em>.</p>
<p>Pada masa lalu, teknologi yang dibawa Barat cukup mengagetkan umat Islam. Pada masa kekagetan itu, umat Islam kebingungan dalam menyaring segala sesuatu yang berasal dari Barat. Akibatnya timbul tiga gologan. Gologan pertama melarang segala sesuatu yang datang dari Barat karena berasal dari kaum kafir. Ada golongan yang menerima semua yang berasal dari Barat dengan alasan agar Islam jadi maju. Ada juga yang menyaring mana yang sesuai dengan Islam mana yang tidak.</p>
<p><strong>Saring!</strong><strong></strong></p>
<p>Itu kata yang sering diungkapkan menghadapi modernisasi yang dibawa Barat. Namun apa alat saring yang tepat bagi umat Islam? Yang pasti bukan budaya Indonesia yang tidak jelas. Bagaimana tidak jelas. Budaya Indonesia berbeda dari Sabang sampai Merauke. Mau budaya Aceh? Budaya Bali? Atau malah budaya Papua? Semua budaya itu berbeda dengan kekhasannya masing-masing. Tapi tentu saja bukan dengan budaya Arab. Bahkan semuanya harus ditolak bila tidak lolos saringan Islam.</p>
<p>Alat saring itu adalah kategorisasi <em>hadharah</em> dan <em>madaniyah</em>. Kategorisasi ini diperkenalkan syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab &#8220;Nidzamul Islam&#8221;. <em>Hadharah,</em> yang sering banyak orang artikan sebagai peradaban, beliau definisikan dengan sekumpulan <em>mafahim</em> (pemahaman/pemikiran/hukum) tentang kehidupan. Sedangkan <em>madaniyah</em> didefinisikan sebagai bentuk-bentuk materiil berupa benda-benda hasil karya manusia yang digunakan dalam kehidupannya.</p>
<p>Berdasarkan pengertian tadi, ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, dan hukum-hukum serta adat istiadat termasuk ke dalam <em>hadharah</em>. Demokrasi, HAM, privatisasi hak publik merupakan contoh mafahim yang berasal dari <em>hadharah</em> Barat. Sedangkan semua benda konkrit dapat dilihat, dirasa, diraba, dan dipergunakan seperti komputer, handphone dan mobil merupakan bentuk <em>madaniyah</em>.</p>
<p><strong><em>Hadharah</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p><em>Hadharah</em><em></em> ini khas sesuai dengan ideologinya. Karena itu tidaklah netral. Ia dihasilkan dari pandangan hidup tertentu. <em>Hadharah</em> Barat dihasilkan dari pemisahan antara agama dan kehidupan. Sederhananya segala hal yang berkaitan dengan kehidupan, mungkin kecuali ibadah, harus diatur manusia. Hal ini tentu saja bertentangan dengan <em>hadharah</em> Islam.</p>
<p><em>Hadharah</em><em></em> Islam asasnya aqidah Islam. Aqidah Islam menuntut ketundukan penuh terhadap aturan yang diturunkan Allah melalui rasul-Nya. Namun jangan <em>negative thinking</em> dahulu. Walau aturan yang ada dalam Islam sangat komprehensif tapi sebenarnya tidak mempersulit umatnya jika dipahami dengan benar, malah memberikan kesejahteraan bagi yang menjalankannya.</p>
<p>Secara konsep, aturan yang dimiliki Islam menjangkau setiap tindakan pemenuhan kebutuhan baik kebutuhan jasmaniah maupun naluriah (beragama, seksual, mempertahankan diri). Hal ini karena manusia tidak mengetahui aturan yang baik secara holistik. Selain -tentu saja- menentramkan di dunia, apakah aturan itu bisa menyelamatkannya di akhirat atau tidak.</p>
<p>Karena bertentangan asasnya, sudah pasti <em>hadharah</em> Barat ini lah yang kita saring.</p>
<p>Bila kita melihat lebih rinci, kita akan menemukan banyak pertentangan antara hadharah Islam dan hadharah Barat. Dalam keyakinan misalnya, pemahaman Allah adalah Dzat yang memberi rizki, Maha Pemurah dan Maha Kuasa yang dipresentasikan dengan senantiasa memohon rizki kepada-Nya dan berlindung kepada-Nya saja merupakan <em>hadharah</em><em> </em>Islam. Sementara, keyakinan ada kekuatan lain seperti ratu laut selatan atau dewa-dewi hingga perlu pesta laut agar nelayan memperoleh rizki atau <em>ruwatan</em> bagi anak tunggal (dalam tradisi Jawa kuno disebut <em>ontang anting</em>) untuk mendapat keselamatan tergolong <em>hadharah</em><em> </em>bukan Islam.</p>
<p>Begitu pula pemikiran bahwa manusia harus menutup aurat merupakan <em>hadharah</em><em> </em>Islam. Sebab merupakan perintah Allah dalam surat Al Ahzab ayat 59 dan An Nur ayat 31. Sementara, pemikiran manusia itu bebas berperilaku hingga wanita boleh berpakaian mini dalam kehidupan umum (<em>hayatul &#8216;am</em>), berpakaian ketat dan transparan di hadapan umum merupakan <em>hadharah</em><em> </em>bukan Islam.</p>
<p>Menyangkut ekonomi, hukum dalam perekonomian tidak boleh sedikit pun mengandung unsur riba merupakan <em>hadharah</em><em> </em>Islam. Sebab Allah mengharamkannya. Nabi pun menjelaskan betapa besar dosa pelaku riba, bahkan melebihi dosa seseorang berzina dengan ibu kandungnya! Sebaliknya, renten dan riba yang membudaya dilakukan di tengah kehidupan sekarang merupakan <em>hadharah</em><em> </em>bukan Islam.</p>
<p>Dalam bidang kenegaraan pun demikian. Gagasan tentang paham kebangsaan (nasionalisme) bukan<em>hadharah</em><em> </em>Islam. Islam tidak mengenal paham seperti ini. Malah Rasulullah SAW bersabda :</p>
<p>&#8220;<em>Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada &#8216;ashabiyyah, orang yang berperang karena &#8216;ashabiyyah serta orang-orang yang mati karena &#8216;ashabiyyah</em>&#8221; [HR. Abu Dawud].</p>
<p><strong><em>Madaniyah</em></strong><strong><em></em></strong></p>
<p>Bagaimana dengan <em>madaniyah</em>? <em>Madaniyah</em> adalah bentuk fisik, namun tidak otomatis bebas nilai. Hal ini karena ada bentuk fisik yang dipengaruhi suatu <em>hadharah</em> tertentu. Kita pun perlu menyaring hal seperti ini. Pakaian pastur misalnya, pakaian ini dihasilkan <em>hadharah</em> tertentu (Kristen). Karena itu, tidak boleh kita mempergunakannya.</p>
<p>Bila kita perhatikan, Islam pun menghasilkan <em>madaniyah</em>. Rumah dalam konsep Islam adalah tempat kehidupan khusus (<em>hayatul khas</em>) di mana seseorang bisa membuka &#8216;aurat kecil&#8217;nya (saya lupa istilahnya) di hadapan mahram-mahramnya. Karena itu, Islam pun melarang seseorang <em>&#8216;noong&#8217;</em> (ngintip) ke dalam rumah. Lebih lagi Islam mengharuskan seseorang meminta izin terlebih dahulu untuk masuk ke dalam rumah. Seorang muslim yang baik membuat rumah dengan memperhatikan konsep-konsep tadi.</p>
<p>Contoh lain <em>madaniyah</em> yang dipengaruhi <em>hadharah</em> Islam misalnya ilmu hisab dalam astronomi yang dipergunakan untuk memperkirakan datangnya hilal. Atau saya pernah mendengar ada sebuah mesjid di timur tengah yang dibangun pada masa yang lampau yang tata akustik ruangannya memungkinkan suara imam sampai di seluruh penjuru masjid tanpa menggunakan <em>speaker</em>.</p>
<p>Selain yang dipengaruhi <em>hadharah</em>, <em>madaniyah</em> yang tersisa netral dan bisa diterima. Sains dan teknologi merupakan contohnya. Siapapun asalkan meneliti dengan cermat akan menemukan hasil yang sama dalam penelitian tertentu apapun agama atau ideologinya.<strong> </strong>Rasulullah SAW bersabda:</p>
<p>&#8220;<em>Kalian lebih tahu tentang urusan dunia kalian</em>&#8221; [HR. Muslim]</p>
<p>Hadits ini menjelaskan aturan bahwa seorang muslim diperbolehkan mengembangkan ilmu pengetahuan, profesi, industri, dan teknologi modern dan apa saja yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan selama tidak bertentangan dengan aturan Islam. Atas dasar ini, Rasulullah mengirim dua orang sahabat yaitu &#8216;Urwah ibnu Mas&#8217;ud dan Ghailan ibnu Maslamah ke kota Jarasy di Yaman mempelajari pembuatan senjata <em>dabbabah</em>(semacam tank di masa itu). Senjata tersebut dipergunakan untuk menerobos benteng lawan.</p>
<p>Saya ingat ada seorang ilmuwan ketika menyampaian ceramah di Masjid Salman mengatakan sains itu tidaklah netral. Alasannya dengan mencontohkan lukisan porno sebagai aplikasi sains dan teknologi. Tentu saja penjelasannya tidak tepat. Lukisan adalah <em>madaniyah</em>. Sedangkan kepornoannya karena dipengaruhi<em>hadharah</em> tertentu. Contoh tersebut tidak bisa menggeneralisasi semua aplikasi sains dan teknologi pasti selalu dipengaruhi <em>hadharah</em> tertentu. Tentu saja tergantung siapa pemakainya.</p>
<p><strong>Penutup</strong><strong></strong></p>
<p>Modernisasi bisa bermakna dua hal, makna pertama mengambil mentah-mentah setiap hal yang datang dari Barat. Sedangkan makna kedua, mengambil sains dan teknologi Barat bahkan berusaha kembali menjadi soko guru dunia di bidang sains dan teknologi. Bila makna kedua yang dipakai, kita bisa menjadi Islam dan modern sekaligus.</p>
<p>والله أعلم</p>
<br />Posted in kampanye syariah  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/irfanview.wordpress.com/70/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/irfanview.wordpress.com/70/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=irfanview.wordpress.com&amp;blog=3418766&amp;post=70&amp;subd=irfanview&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://irfanview.wordpress.com/2008/10/20/islam-dan-modernisasi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>11</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/bb34697cc9a2013919e6bce90ceee545?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">irfan</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://irfanview.wordpress.com/wp-includes/js/tinymce/plugins/wordpress/img/trans.gif" medium="image">
			<media:title type="html">More...</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
