RUU APP, ATM kondom, dan SEKS BEBAS

Juli 23, 2007 § Tinggalkan komentar

Sebenarnya judul di atas ingin saya tambahkan menjadi RUU APP, ATM kondom, seks bebas, pemerkosaan, pelacuran, aborsi, perceraian, single parent, broken home, kenakalan remaja, kriminalitas dan masih banyak lagi tetapi tentunya terlalu panjang. Bila kita jeli melihat masalah-masalah tersebut, yang sejatinya merupakan produk sekulerisme yang bebas nilai, akan terlihat bahwa masing-masing memiliki keterkaitan antara satu dan lainnya. Semua ini akan berujung pada kehancuran tatanan sosial sebuah masyarakat.

RUU APP (Rancangan Undang-undang Anti-Pornografi dan Pornoaksi) sampai saat ini belum juga rampung. Beberapa pihak khususnya dari kalangan seniman menunjukkan kekurangsetujuan terhadap RUU APP tersebut. Mereka beralasan nantinya akan terjadi pemasungan terhadap kebebasan berekspresi.

Terlepas dari permasalahan tersebut, pornografi dan pornoaksi secara langsung maupun tidak telah menimbulkan banyak permasalahan sosial. Contoh realnya, banyak kasus pemerkosaan yang terjadi setelah pelakunya menonton film porno. Bahkan sekarang pemerkosaan bukan jadi monopoli orang dewasa saja, anak-anak sudah turut ambil bagian dan sudah bisa ditebak alasannya karena penasaran setelah menonton film porno. Tayangan seperti itu akan menimbulkan dorongan bagi penontonnya untuk mengulangi apa yang mereka lihat. Tinggal menunggu adanya kesempatan lalu semuanya akan terjadi. Karena itu, tidak heran rencana kemunculan majalah Playboy bulan Maret mendatang mengundang penolakan yang keras khususnya dari organisasi-organisasi Islam.

Belum selesai masalah pornografi muncul masalah baru, pemerintah bermaksud menyediakan ATM kondom di beberapa tempat. Di Bandung, rencananya akan disediakan di Saritem. Alasannya agar kondom dapat mudah diperoleh dengan harapan bisa menekan laju penularan HIV. Padahal keefektifannya masih perlu dipertanyakan. Untuk KB saja kegagalannya mencapai 10% (bkkbn.go.id, 24/09/05). Jika demikian, bila berhubungan dengan orang yang terinfeksi HIV, penggunaan kondom masih menyisakan resiko sebesar 10%.

Banyak pihak yang khawatir adanya ATM kondom akan membuat remaja bahkan anak-anak tidak kesulitan untuk mendapatkannya. Kekhawatiran seperti ini bukanlah kekhawatiran tanpa alasan. Di tengah maraknya tayangan pornografi dan pornoaksi yang merangsang terjadinya seks bebas bagi generasi muda, pendirian ATM kondom setidaknya akan membuat para remaja merasa difasilitasi.

Memang ada seorang pejabat BKKBN yang beralasan menempatkan ATM kondom di lokasi pelacuran (Saritem), justru karena mereka yang datang ke tempat pelacuran tidak pernah memakai kondom, sehingga dikhawatirkan terjangkit dan menularkan HIV ke keluarganya. (bkkbn.go.id, 17/01/06). Namun hal tersebut menunjukkan pemerintah mengakui akan melegalisasi pelacuran dengan menyediakan ‘kemudahan’ bagi para pelakunya. Ini ironis sebab ternyata jumlah WTS perempuan di Jakarta misalnya, remaja putri yang berusia antara 14-19 tahun menempati peringkat pertama sebagai jumlah terbanyak (usia 16, 17, 18 tahun merupakan tingkatan umur yang paling dominan). Kedua berusia antara 20-25 tahun, dan ketiga 26-35 tahun (bkkbn.go.id, 19/01/06). Artinya yang kena generasi muda lagi.

Merebaknya seks bebas di generasi muda akan mengakibatkan suramnya masa depan tatanan sosial masyarakat Indonesia. Betapa tidak? Orang-orang akan enggan untuk menikah karena kebutuhan seksual mereka telah terpenuhi. Mereka enggan hamil karena menganggap memiliki anak itu merepotkan dan kalaupun ada kehamilan akan dilakukan aborsi. Semua itu akan mengakibatkan sedikitnya anak-anak yang dilahirkan. Setidaknya inilah yang terjadi di negara-negara yang sekuler. Angka pertumbuhan di negara jepang misalnya, salah satu negara asia yang menganut gaya hidup bebas, angka pertumbuhan penduduk terus turun bahkan diprediksikan tahun 2050 penduduknya sebesar 100,593 juta dari jumlah penduduk 127,687 juta pada tahun 2004 (stat.go.jp). Akibatnya beberapa dekade mendatang negara-negara tersebut akan menjadi negara yang renta dan yang paling fatal negara ini bisa saja mengalami ‘kepunahan’. Di sisi lain, masih di negara Jepang, angka perceraian terus naik perlahan sedangkan angka pernikahan terus turun tajam dari tahun ke tahun (stat.go.jp). Perceraian ini akan melahirkan anak-anak yang broken home. Anak-anak yang broken home ini akan lebih mudah terseret pergaulan yang buruk bahkan terjatuh pada tindakan kriminal. Studi yang dilakukan di Amerika Serikat membuktikan ada korelasi yang erat antara single-parent dan kriminal atau minimal kenakalan remaja. Survey terhadap 108 pemerkosa menunjukkan 60% pelakunya berasal dari keluarga yang dipimpin hanya oleh ibu/single parent (divorcereform.org). Dan masih banyak lagi kasus yang bisa diungkap akibat merebaknya seks bebas.

Negara-negara sekuler sedang mengalami detik-detik sakaratul maut. Mereka saat ini masih bisa bertahan berkat dukungan dari kecanggihan teknologinya. It’s only a matter of time. Bangsa Indonesia yang dikenal religius malah sedikit demi sedikit mulai meniru langkah mereka. Lalu dengan apa lagi kita akan menyelamatkan bangsa ini?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading RUU APP, ATM kondom, dan SEKS BEBAS at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: