Homoseksual

Agustus 18, 2008 § 5 Komentar

Heboh kasus Ryan membuat kaget dan miris kita. Tidak sekadar karena Ryan itu seorang homo yang membunuh belasan orang tetapi karena dia juga merupakan seorang guru ngaji lulusan pesantren. Agak sulit bagi kita untuk membayangkan bagaimana seorang lulusan pesantren itu bisa menjadi seorang homo yang membunuh. Kita mungkin akan bertanya apa saja sih yang diajarkan di pesantren sehingga menghasilkan lulusan gagal seperti itu?

Terlepas dari kekecewaan tersebut, memang bukan itu bahasan kita kali ini, setiap manusia memang diberikan potensi oleh Allah untuk melakukan perilaku fujur atau takwa. Karena itu, siapapun memang mungkin orang yang baik akan melakukan tindakan yang terjahat sekalipun dan orang jahat akan bertaubat karena memang potensi itu ada dalam diri manusia.

“maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya” [TQS Asy Syams: 8]

Di antara para pelaku homoseks ada yang berargumentasi seperti ini, “Cinta itu datang dari siapa? Dari Tuhan bukan? Lalu kenapa anda menjudge kami bersalah? Biarlah ini menjadi urusan kami dengan tuhan.” Saya tidak begitu mengerti secara fisik apakah memang homoseksual itu apakah timbul dalam dirinya secara nature (alamiah) atau secara nurture (bentukan lingkungan). Pelakunya bisa mengaku apapun sedang kita tidak tahu apa ia jujur atau tidak. Yang pasti, walaupun homoseksual itu ada secara alamiah, hal tersebut bukanlah untuk diumbar melainkan menjadi ujian ketakwaan dari Tuhan kepada hamba-Nya.

“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: ‘Kami telah beriman’, sedang mereka tidak diuji lagi?” [TQS Al Ankabut: 2]

Walau begitu ada beberapa hal yang perlu dipahami mengenai homoseksualitas ini. Seksualitas pada dasarnya adalah fitrah manusia. Namun dia adalah naluri bukanlah kebutuhan jasmani seperti makan, pakaian dan tempat tinggal. Ada beberapa perbedaan antara naluri dan kebutuhan jasmani. Pertama bila naluri tidak dipenuhi hanya akan menimbulkan rasa gelisah saja, tentu berbeda dengan kebutuhan jasmani yang bila tidak dipenuhi akan menimbulkan kematian. Kedua, naluri muncul melalui rangsangan sedangkan kebutuhan jasmani yang muncul secara fisik untuk mempertahankan hidup.

Rangsangan terhadap naluri ada dua jenis. Ada rangsangan dari luar yang berupa realita seperti tayangan-tayangan yang mengumbar erotisme, gambar gambar seronok, suara-suara yang mendesah atau bahkan memang manusia yang memperlihatkan auratnya secara langsung. Ada pula rangsangan dari dalam diri yang berupa imajinasi atau khayalan khayalan terhadap contoh-contoh sebelumnya.

Dengan pemahaman di atas, homoseksual dan dosa-dosa seksual lainnya bisa ditahan bahkan dihindari dengan cara yang sederhana. Caranya dengan menjauhkan diri dari rangsangan yang berasal dari luar ataupun dalam seperti memperbanyak kegiatan positif di lingkungan yang Islami. Dengan cara itu rangsangan dari luar berupa aurat dan yang lainnya serta pikiran-pikiran kotor bisa dihilangkan.

Allah Ta’ala tidak hendak menutup naluri seksual manusia. Buktinya Allah telah memberikan aturan pernikahan sebagai jalan. Allah telah menetapkan kewajiban-kewajiban, larangan-larangan, dan ketentuan-ketentuan yang harus kita patuhi. Allah tentu berhak menentukan cara untuk menguji keimanan dan ketakwaan hamba- hamba-Nya.

Dari Abu Tsa’labah Al Khusyani, Jurtsum bin Nasyir radhiallahu ‘anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, beliau telah bersabda:

“Sesungguhnya Allah ta’ala telah mewajibkan beberapa perkara, maka janganlah kamu meninggalkannya dan telah menetapkan beberapa batas, maka janganlah kamu melampauinya dan telah mengharamkan beberapa perkara maka janganlah kamu melanggarnya dan Dia telah mendiamkan beberapa perkara sebagai rahmat bagimu bukan karena lupa, maka janganlah kamu membicarakannya”. [HR. Daraquthni]***

§ 5 Responses to Homoseksual

  • zuhair mengatakan:

    Seorang sahabat lulusan pesantren pernah berkata, “Lulusan pesantren itu kalau sholeh ya beneran sholeh, tapi kalau parah (bejat) juga parah betul..

    Ada benarnya gak, ya?

    kalau menurut saya semuanya kasuistik, karena belum ada penelitian yang ilmiah tentang ini
    jadi mungkin di satu kasus ya di kasus yang lain tidak
    irfan

  • sazakk mengatakan:

    ntahvava komentarnya bimoo..

    tapi kasus2 homo kayak gini emang banyak sih di pesantren.. pesantren kk wa pernah juga ada kasus gurunya ngajak ke santri..

    makanya pesantren itu sistem pendidikan yang gagal.. harusnya pendidikan itu nggak strict.. sistem pendidikan itu harusnya lebih bebas.. belajar agama itu harusnya bikin kajian2 berbobot di masjid..

    kalo diisolasi kayak pesantren gitu, gimana bisa hidup.. heuheu.. dunia itu harus dibuka selebar-lebarnya.. dan pastikan apa yang di tangkap pemahamannya selogis2nya..

    kalo masalah diisolasi itu tidak ada hubungannya dengan homoseksual tampaknya.
    dan kalau kata antum ada banyak kejadian seperti ini di pesantren memang ada datanya ya?
    kalau pendapat saya itu kasuistik saja
    irfan

  • Bapak saya sempat berbincang-bincang perihal jumlah penghuni dalam satu kamar asrama. Idealnya — berdasarkan pada beberapa penelitian yang dilakukan di Yogyakarta — satu kamar itu dihuni oleh tiga orang.

    Ya kan kalau berdua, mereka akan main catur. Nah kalau berempat, mereka main kartu..

    Begitu cerita beliau..😛

  • sazakk mengatakan:

    beuh.. ngejunk wae.. dasar..

    mungkin penyebab banyaknya homo gara2 zaman sekarang sulit buat menikah.. masalah utamanya ekonomi..

    kalo digampangin mungkin homonya berkurang.. dan tidurnya ga usah di asrama lagi.. -_-

  • syauqi mengatakan:

    bisa ada hubungannya kang isolasi dan homo.. yang membentuk perilaku homo itu lingkungan.. tidur satu kamar ama laki2 terus.. hii ngerii.. -_-

    wah kalo data susah nyarinya(mana ada yang mau ngaku).. memang ga bisa dipastikan hubungannya.. tapi kalo ndak ada datanya maka anggapan kasuistik pun tetap asumsi..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Homoseksual at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: