Kecerdasan Emosi Pemimpin

Januari 6, 2009 § 6 Komentar

Suatu ketika Petronas berniat membeli pesawat milik Indonesia, maka diutuslah dua orang perwakilan Indonesia untuk membicarakan kontrak pembeliannya dalam sebuah jamuan makan malam. Setelah makan malam usai, sementara proses negosiasi kontrak masih berjalan, sang bos Petronas mengajak mereka melihat-lihat koleksi guci miliknya. Bos Petronas tersebut antusias dan menggebu-gebu menerangkan guci-guci kesayangannya yang ia banggakan. Ketika dimintai pendapat, salah seorang utusan Indonesia lalu mengomentari, guci-guci seperti itu mudah ditemui di Jakarta dengan harga murah. Kontan saja, sang bos Petronas itu marah. Kontrak pembelian pesawat terbang itupun dibatalkan.

Dalam setiap interaksi manusia, kecerdasan emosional sangatlah penting. Maka, rendahnya kecerdasan emosional bisa berakibat fatal. Dalam kisah di atas, kalau saja utusan tersebut memahami perasaan bos Petronas yang bangga akan koleksinya, tentu pembatalan kontrak tersebut tidak terjadi.

Leadership is all about relationship, sedangkan membangun dan merawat relasi/hubungan dengan baik dibutuhkan kecerdasan emosi. Karena itu, seorang pemimpin tanpa kecerdasan emosi yang baik akan sulit mendapatkan kepercayaan pengikutnya, bahkan mereka mungkin menjauhinya. Karena itu, mustahil membangun kepemimpinan efektif tanpa adanya kecerdasan emosi.

Menurut Shankman dalam “Emotionally Intelligent Leadership” (2008), ada tiga kesadaran yang harus dilatih para pemimpin yang ingin mengembangkan kecerdasan emosionalnya: kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain, dan kesadaran akan konteks. Kesadaran akan diri menuntut kamu jujur mengenali emosi diri. Kesadaran akan orang lain mengharuskan kamu memperhatikan karakter setiap anggotamu atau pemimpinmu dalam organisasi. Kesadaran akan konteks menuntut kamu mengenali lingkungan, budaya ataupun norma tempat kamu bekerja.

Untuk mempermudah, mari kita bayangkan sebuah tim sepak bola. Sang pelatih sebagai pemimpin tim harus memiliki kesadaran akan diri, kesadaran akan orang lain (dalam hal ini tim sepak bola tersebut) dan kesadaran akan konteks (peraturan, tim lain, tempat, musim pertandingan, dan lain sebagainya). Pelatih sebagai pemimpin tim hanyalah satu dari tiga faktor kecerdasan emosional.

Banyak orang tidak memiliki kesadaran akan orang lain dan konteks. Hal itu membuat mereka gagal memimpin, karena mereka berpikir bahwa cara memimpin yang sama di masa lalu bisa diterapkan pada masa kini. Biasanya orang tersebut mulai menyalahkan keadaan atau menyalahkan anggotanya. Dengan memiliki kesadaran akan diri, orang lain dan konteks seorang pemimpin mudah membagi nilai dan visi kepada anggota-anggotanya, karena mereka memahami bagaimana cara menyampaikan nilai dan visi tersebut kepada para anggota, terlebih sekadar meminta partisipasi anggota-anggotanya. Karena itu, kecerdasan emosional merupakan salah satu faktor kepemimpinan efektif.

Kesadaran akan Diri Sendiri

Siapa aku? Apa tujuanku? Apa cita-citaku? Apa yang membuatku termotivasi? Apa yang membuat aku frustasi? Bagaimana keadaan yang membuat aku dalam kondisi terbaik? Pengetahuanmu mengenai jawaban pertanyaan-pertanyaan ini akan mengantarkan kamu menjadi pemimpin sukses. Dengan mengenal kemampuan dan emosi diri, kamu dapat menempatkan diri dengan tepat.

Kesadaran akan diri dimulai dengan mengenali diri. Jika kamu mudah menjawab pertanyaan-pertanyaan di atas, itu adalah salah satu pertanda bahwa kamu mengenal dirimu sendiri. Kamu tidak harus bisa menjawab semua pertanyaan tersebut pada saat ini, karena mengenal diri adalah proses yang panjang. Kamu memiliki waktu sepanjang hidup untuk mengenal dirimu sendiri. Hanya saja, proses pengenalan diri tidak terjadi begitu saja, melainkan butuh usaha keras. Kalau kamu tidak berusaha mengenal dirimu sendiri, bagaimana mungkin orang lain dapat memahami kamu?

Langkah awal yang harus dilakukan untuk mengenal diri kamu adalah mengidentifikasi emosi dan reaksi diri bila ada suatu kejadian. Dengan menyadari emosi diri, kamu bisa mengetahui hot button kamu. Kejadian atau kata-kata seperti apa yang membuat kamu tersinggung, atau merasa marah. Dengan mengetahuinya, kamu bisa memilih tindakan, menghindari hot button itu atau bersiap ketika memasuki situasi tersebut.

Ketika ada yang menekan hot button kamu, kamu harus belajar mengendalikan emosimu. Tidak ada orang yang suka pada seorang pemarah apalagi pemimpin tukang marah-marah. Ketika kamu mengetahui hot button yang membuatmu marah, kamu bisa mengambil tindakan tepat. Kamu harus menyadari bahwa tindakan seseorang ketika marah biasanya salah, dan lebih bersandar pada emosi sesaat ketimbang logika.

Misalkan: saat seorang teman membuat kamu tersinggung, dia menekan hot button milikmu. Ia menceritakan kepada orang lain kejadian yang menurut kamu seharusnya perlu ditutupi. Ada dua pilihan tindakan yang bisa kamu lakukan. Pertama, kamu meledak. Kamu memarahinya di depan orang-orang. Kamu malah bersumpah tidak menjadi temannya lagi. Akibatnya jelas persahabatanmu putus di sini. Jangan lupa, kamu pun akan dicap pemarah oleh orang-orang.

Kedua, kamu segera menarik temanmu dan memintanya berbicara secara pribadi. Lalu ungkapkan betapa kecewanya kamu mendengar apa yang ia katakan dan meminta ia menjelaskan mengapa ia menceritakan hal yang seharusnya rahasia itu. Bisa jadi ia punya alasan kuat yang ternyata bisa kamu setujui. Atau kalau ia merasa bersalah setelah itu, ia akan segera minta maaf dan memperbaiki kesalahannya. Atau, bila ternyata ia tidak juga merasa perlu meminta maaf, setidaknya kamu mengutarakan perasaan kamu secara pribadi kepadanya. Masalah selesai tanpa pertumpahan darah.

Selain mengenali emosi kamu juga harus mengenali kelebihan dan kekurangan diri. Mengenali kelebihan dan kekurangan diri sama pentingnya dengan bercermin sebelum berangkat kuliah. Kamu perlu memeriksa apakah rambut sudah tertata rapi, apakah kancing baju terpasang lengkap, dan lain sebagainya. Tentu gawat bila kamu melupakan hal penting seperti memakai celana sebelum berangkat kuliah. Dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan diri, kamu bisa tahu bagian apa yang perlu kamu kembangkan lagi.

Untuk mengenali diri, kamu memang perlu merenung, introspeksi diri atau bahkan menuliskan peristiwa penting dalam catatan harianmu. Penting bagi kamu merenungkan apa yang kamu lakukan hari ini, apakah sikap kamu kepada orang lain sudah cukup baik, dsb. Bahkan kamu mungkin perlu menyediakan waktu khusus untuk hal ini. Banyak orang karena merasa sibuk melewatkan hal penting ini. Padahal introspeksi ini dapat mengingatkan kita agar selalu memperbaiki diri menjadi lebih baik.

Cara berikutnya adalah dengan bertanya kepada teman anda dan orang yang kamu percaya, mereka bisa jadi lebih objektif dalam menilai kamu. Mereka juga mungkin saja mengetahui kekurangan kamu yang tidak kamu sadari sendiri. Tentu saja dibutuhkan kebesaran hati untuk menerima berbagai penilaian mereka seperti apapun bentuknya.

Kesadaran akan Orang
Lain

Manusia adalah sesuatu yang hidup. Manusia tidak bisa disamakan dengan mesin yang jika mendapat perintah langsung bertindak sesuai perintah tersebut. Kamu perlu menyadari bahwa setiap orang memiliki cara kerja, perangai, sifat, dan keinginan berbeda. Terlalu banyak manusia di dunia ini untuk dianggap hanya memiliki satu karakter saja. Jika kamu bisa memahami perbedaan setiap orang, maka kamu pun dapat memperlakukan mereka dengan tepat sesuai dengan karakter masing-masing.

Seorang anggota organisasi yang sedang merasa senang akan merespon dengan cepat ketika ia mendapat perintah, tetapi ketika dia ada sedang berada dalam kondisi bete, jangan harap kinerjanya akan sama bagusnya. Dalam keadaan seperti itu, bisa jadi tindakan yang lebih tepat adalah menghiburnya atau membiarkannya tenang sampai masalahnya selesai. Walaupun kamu mungkin membutuhkan mereka melakukan suatu pekerjaan penting untuk organisasi kalian, kamu harus terlebih dahulu memahami kondisi anak buah/pemimpin kamu. Bagaimana mungkin orang lain mengerti harapan atau kebutuhan kamu bila kamu tidak mau mengerti keadaan mereka? Bukankah sangat menyenangkan bila ada orang yang memahami kamu tanpa kamu menjelaskan perihal keadaan kamu?

Pengikut adalah bagian penting dalam sebuah organisasi. Tidak ada organisasi jika hanya berisi seorang ketua saja. Karena itu, memperhatikan mereka dan bersikap sesuai dengan karakter mereka masing-masing mempermudah berjalannya suatu organisasi.

Cara paling baik memahami orang lain adalah dengan mengembangkan empati dalam diri kamu. Empati berbeda dengan simpati. Simpati itu berusaha memahami keadaan orang lain dengan persepsi kamu, bagaimana perasaan kamu ketika kamu berada dalam situasi yang sedang ia hadapi. Empati lebih dalam daripada simpati, empati menuntut kamu berusaha memahami keadaan orang dari sudut pandang orang tersebut. Seseorang yang memiliki sikap empati lebih mudah memotivasi orang lain.

Empati dibutuhkan untuk melahirkan rasa saling memahami. Karena itu, cara praktis meraih empati adalah dengan mendengarkan orang lain dengan hati. Kamu tidak sekadar mendengar “apa” yang ia sampaikan tetapi mendengarkan “bagaimana” ia menyampaikannya. Perhatikanlah bahasa tubuh yang ia gunakan, itu lebih menggambarkan bagaimana perasaannya sebenarnya.

Kesadaran akan Konteks

Misalnya kamu memimpin dua unit kegiatan mahasiswa (UKM) dengan karakter berbeda, ketua resimen mahasiswa (menwa) dan ketua panitia sebuah acara unit kesenian. Kamu pastinya melakukan pendekatan militer untuk memimpin menwa. Tetapi pendekatan militer tidak tepat dijalankan ketika kamu menjadi ketua panitia acara unit kesenian. Kalau kamu terus-terusan mengomando anak buah kamu dalam kepanitiaan acara unit kesenian tersebut, bisa-bisa mereka justru membelot. Memperlakukan kedua UKM itu dengan cara sama adalah cara yang tidak tepat. Masing-masing UKM itu memiliki budaya (konteks) berbeda.

Konteks adalah setiap hal yang ada dalam lingkungan tempat pemimpin dan pengikut berada, seperti situasi, budaya, sejarah, dan peraturan. Setiap organisasi memiliki situasi, budaya, sejarah dan peraturannya sendiri. Karena itu, sikap yang cocok untuk satu organisasi tertentu belum tentu cocok untuk organisasi lain. Bahkan bisa jadi sikap yang sama pada satu organisasi namun pada waktu yang berbeda pun tidak tepat. Hal ini karena konteks adalah sesuatu yang dinamik. Situasi dan sejarah organisasi tentu berkembang seiring perubahan waktu. Jika pemimpin itu ibarat nahkoda maka kesadaran akan kondisi alam (konteks) mempermudahnya mengarungi lautan meski badai menghadang.

Untuk memiliki kesadaran konteks, kamu perlu menjadi elang yang terbang tinggi. Elang terbang mampu melihat keseluruhan situasi yang ada di daratan. Ketika ia sedang mengejar seekor kelinci, dia mengetahui ke mana kemungkinan kelinci itu lari karena ia sudah melihat seluruh jalur yang mungkin kelinci itu lalui.

Ketika pertama kamu memasuki suatu organisasi, sebagai elang, yang perlu kamu lakukan adalah “terbang”. Kamu perlu melihat secara menyeluruh hal-hal penting yang ada dalam organisasi. Selain hal yang bersifat keorganisasian di atas kamu pun perlu mengetahui interaksi yang terjadi dalam organisasi. Hal ini seringkali tidak kasat mata, apalagi tertulis dalam aturan keorganisasian. Memahami apa yang terjadi dalam organisasi berarti kamu harus mempelajari perbedaan antara apa yang secara resmi tertulis dengan apa yang sebenarnya terjadi. Bisa jadi yang sebenarnya memimpin dalam suatu organisasi bukanlah orang yang berada pada posisi ketua.

Hal ini memang tidak mudah, tetapi bisa dilatih. Sebagai latihan awal ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa jadi panduan:

  • Apa organisasimu menjalankan program-program kerjanya dengan baik?
  • Apakah ketua dan para anggotanya senang mengerjakan tugas organisasi?
  • Apakah organisasi itu menjadi kebanggaan bagi para anggotanya?
  • Bagian mana yang membuat mereka bangga?
  • Bagaimana sikap orang luar organisasi (massa kampus) terhadap keberadaan organisasi?
  • Apakah organisasi itu dianggap bermanfaat atau merugikan mereka?

Pertanyaan bisa lebih dalam lagi seperti:

  • Bagaimana interaksi antaranggota dan antara anggota dengan ketuanya?
  • Siapa yang sebenarnya memimpin? Siapa yang ingin memimpin?
  • Apa ada kelompok/geng dalam organisasi? Ada berapa? Geng siapa yang paling berpengaruh? []

§ 6 Responses to Kecerdasan Emosi Pemimpin

  • Bambang Sriwijonarko, S.Ip mengatakan:

    Informasi yang Menarik…….
    Makasih Udah sharing……….

  • irfan mengatakan:

    Sama-sama mas Bambang

  • Surani mengatakan:

    wah bagus.. jadi dapat wawasan dan informasi tambahan..

  • dadi mengatakan:

    sip suka saya dengan tulisan diatas
    MANFAAT BANGEEET

  • syauqi mengatakan:

    komen cerita..

    hmm.. lucu ya, cuman gara2 marah kebutuhan ekonomi diabaikan.. pantesan iklim pasar di dunia ini udah gak rasional.. soalnya tiap2 orang nyampurin urusan pribadinya sih.. omong kosong macam apa itu.. ekonomi dijalankan dengan perasaan, bukan dengan kebutuhan..

    kalo bisnis ya bisnis, jangan campur urusan pribadi dong.. ga profesional kalipun..

    sorry agak ngeflame kang..

    tapi bagaimanapun juga menurut wa organisasi yang ideal adalah organisasi yang konsisten dalam meraih visi dan misinya.. bukan organisasi yang memuaskan perasaan anggota organisasi.. yaah di dunia ini emang ga ada yang ideal sih..

    wallahu’alam bishawab..

  • irfan mengatakan:

    ya memang tentu saja tidak ada organisasi yang ideal
    mungkin karena itu pula ada istilah “kecerdasan emosional”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Kecerdasan Emosi Pemimpin at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: