Gaya Kepemimpinan

Februari 12, 2009 § 1 Komentar

Pada jaman Jepang sebelum kekaisaran Edo, berkumpullah para pemimpin legendaris Jepang di suatu taman. Ketika kemudian seekor burung hinggap di dahan dekat mereka berkumpul, bertanyalah seorang guru Zen pada mereka;

“Apa yang akan Anda lakukan kalau burung itu tidak mau bernyanyi?”.

Jawaban yang kemudian dilontarkan masing-masing pribadi, dianggap menggambarkan dengan baik karakter dari para pemimpin tersebut.

Oda Nobunaga menjawab “Bunuh kalau tidak mau bernyanyi!” Toyotomi Hideyoshi menjawab “Buat ia ingin bernyanyi.” Tokugawa Ieyasu menjawab “Tunggu, sampai ia bernyanyi.”

Karakter mereka ini sesuai dengan latar belakang mereka. Oda Nobunaga memiliki latar-belakang sebagai turunan bangsawan dan dibesarkan sebagai bangsawan. Dalam usahanya menyatukan Jepang, Nobunaga dianggap memakai cara yang paling keras dan kejam.

Toyotomi Hideyoshi, sebagai anak petani yang miskin namun kemudian memiliki kedudukan penting dibawah kepemimpinan Nobunaga, dianggap memiliki karakter yang impulsif dan pandai memanfaatkan situasi.

Sedangkan Tokugawa Ieyasu, keturunan ningrat yang memilih untuk tunduk pada Nobunaga dan Hideyoshi di masa mereka berkuasa, baru menunjukkan taring nya pada saat kedua pemimpin tersebut telah meninggal, sehingga dianggap memiliki kesabaran yang sangat tinggi.

Setiap orang memiliki karakter masing-masing yang banyak dipengaruhi oleh lingkungannya. Begitu pula dengan gaya kepemimpinan, berbagai gaya yang ada banyak dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya.

Berbagai gaya kepemimpinan

Sebenarnya ada berbagai gaya kepemimpinan. Namun secara garis besar bisa dibagi menjadi tiga jenis dari yang paling “kanan”, “tengah” dan paling “kiri”. Berikut ciri-ciri masing-masing gaya kepemimpinan tersebut.

a.      Otokratik

Pemimpin dengan tipe otokrat menginginkan setiap perintah yang dikeluarkan dilaksanakan tanpa pertanyaan. Tipe otokrat ini biasanya muncul karena kurang mempercayai anggotanya. Sering kali pemimpin otokrat hanya menggunakan imbalan materi untuk mendorong orang bertindak. Walaupun kurang disukai, tipe ini sangat cocok ketika kondisi  genting seperti peperangan. Hitler jelas-jelas merupakan pemimpin dunia dengan gaya kepemimpinan otokratik.

b.      Laissez-faire

Berbeda dengan kepemimpinan otokratik, Laissez-faire muncul karena kurang kepercayaan diri. Tipe pemimpin seperti ini membatasi komunikasi dengan bawahannya sehingga terkesan lebih pasif. Yang paling berbahaya adalah, kadangkala tujuan organisasi menjadi tidak jelas. Namun tipe ini kadang tepat ketika memang staf-staf di bawahnya sudah memiliki karakter kepemimpinan yang kuat, asalkan tujuan organisasi dibuat sejelas mungkin.

c.       Partisipatif

Pada kondisi normal, kepemimpinan partisipatif lebih disukai, terlebih dalam budaya ketimuran seperti di Indonesia. Sebab pemimpin dengan tipe ini meminta pendapat anggotanya dalam membuat keputusan, sehingga semua orang merasa dilibatkan dalam organisasinya. Kalaupun sang pemimpin harus membuat keputusan sendiri, ia akan menerangkan alasan dibalik keputusannya.

Manakah gaya yang tepat?

Setelah kita membaca gaya-gaya kepemimpinan di atas, kita pasti berpendapat kalau kepemimpinan partisipatif sesuai musyawarah mufakat lah yang paling baik, tetapi pada kenyataannya tidak demikian. Bayangkan kita masih berada pada jaman perjuangan dahulu, dan kamu adalah seorang jenderal pada saat itu. Ketika kamu akan mengadakan rapat bersama beberapa orang perwira, datang seorang prajurit yang lalu langsung menghadap. Ternyata tentara Belanda sedang bergerak mendekat untuk mengepung.

Apa yang akan kamu lakukan pada saat itu? Gaya kepemimpinan apa yang akan kamu pilih waktu? Apakah kamu akan memusyawarahkan terlebih dahulu dengan para perwira yang ada, langkah apa yang akan diambil? Tentu cara ini tidaklah tepat. Sebagai pemimpin, dalam keadaan genting seperti ini, kamu harus membuat keputusan dengan segera. Bersiaplah untuk melawan atau pergi melarikan diri. Tentu saja akan sangat terlambat kalau kamu terlebih dulu meminta pendapat dari para perwira!

Memang pada kondisi yang biasa, kepemimpinan partisipatif merupakan gaya kepemimpinan yang tepat. Namun pada kondisi yang lain dibutuhkan gaya kepemimpinan yang lain pula, semuanya bergantung kepada situasi. Dalam memilih gaya kepemimpinan, kita harus memiliki kesadaran akan kondisi bawahan kita dan konteks yang sedang terjadi.[]

§ One Response to Gaya Kepemimpinan

  • schlachthausabattoir mengatakan:

    apa hubungannya pepatah tiga serangkai sengoku jidai dengan rumusan gaya kepemimpinannya?? perasaan ndak nyambung deh??

    dan sebenernya itu ga melambangkan gaya kepemimpinan atau cara dalam memimpin.. melainkan cara menyelesaikan masalah..

    IMHO kk..

    btw.. Ieyasu dari kecil memang udah dijadiin sandera sama clan Imagawa.. masa kecilnya emang udah penuh penderitaan meski keluarga ningrat juga.. pada waktu Hideyoshi masih berkuasa dia sempet melakukan konfrontasi langsung dengan Hideyoshi.. namun Hideyshi cerdik dalam diplomasi.. akhirnya konfrontasipun selesai tanpa konklusi.. kembali ke status quo..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Gaya Kepemimpinan at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: