Sekilas Sistem Pidana Islam

Februari 27, 2009 § 10 Komentar

Banyaknya partai Islam yang ikut pemilu tampaknya tidak disertai dengan ramainya kampanye syariat Islam. Apalagi sistem pidana Islam, tampaknya mustahil menjadi program unggulan parpol Islam dalam meraih suara. Mungkin karena memang sistem pidana biasanya menjadi kambing hitam jeleknya syariat Islam. Bayangan seseorang yang phobi-Islam ketika mendengar syariat Islam adalah rajam dan potong tangan.

Menghindari pembahasan pidana Islam merupakan hal yang salah dalam mempromosikan syariat Islam. Setidaknya karena dua hal. Pertama, sistem pidana merupakan bagian integral dari syumuliatul Islam. Kedua, secara empirik sistem ini memiliki keunggulan yang bisa dibuktikan, meski negara Khilafah sebagai institusi penegaknya sudah hancur sejak tahun 1924.

Sistem pidana Islam sebenarnya tidak hanya berisi hukuman-hukuman (sanksi/uqubat). Selain sistem sanksi, sistem pidana Islam juga menetapkan sistem pembuktian dan sistem birokrasi peradilan. Dalam artikel ini hanya menyinggung sistem sanksi saja.

Ada dua kunci mengapa sistem pidana Islam bisa meraih keberhasilan seperti itu. Yang pertama, sistem pidana Islam bersama syariat Islam yang lainnya mampu mencegah terjadinya tindakan kriminal. Sistem pendidikan Islam yang menekankan pada kepribadian Islam akan mencegah orang untuk berbuat kriminal karena mereka akan takut kepada Allah. Sistem ekonomi Islam yang mensejahterakan akan mencegah orang berbuat kriminal karena alasan ‘perut’. Sistem pidana Islam itu sendiri akan membuat orang takut berbuat kriminal karena sistem sanksinya yang keras. Namun tentu sistem sanksi yang keras tersebut tidak akan sembarangan terjadi karena memiliki sistem pembuktian yang ketat.

Yang kedua, sistem pidana Islam bila dijalankan akan menjadi penghapus dosa yang diperbuat karena merupakan tambahan persyaratan taubat. Perlu dicatat, perbuatan dosa dan tindak kriminal dalam Islam adalah hal yang sama. Setiap pelanggaran terhadap perintah dan larangan akan dihukum oleh Allah di akhirat kelak. Namun uqubat di dunia akan menjadi penebus dosanya itu. Diriwayatkan Imam Bukhari dari Ubadah bin Shamit, yang mengatakan bahwa Rasulullah SAW telah bersabda:

“Kalian berbai’at kepadaku untuk tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu apapun, tidak mencuri, tidak berzina, tidak membunuh anak-anakmu, tidak membuat-buat dusta yang kalian ada-adakan sendiri, dan tidak bermaksiat dalam kebaikan. Siapa saja yang menepatinya maka Allah akan menyediakan pahala; dan siapa saja yang melanggarnya kemudian dihukum di dunia, maka hukuman itu akan menjadi penebus baginya. Dan siapa saja yang melangggarnya kemudian Allah menutupinya (tidak sempat dihukum di dunia), maka urusan itu diserahkan kepada Allah. Jika Allah berkehendak, maka Dia akan menyiksanya. Dan jika Allah berkehendak, maka Dia akan memaafkannya.”

Hal ini lekat khususnya pada dua jenis sanksi, yaitu hudud dan jinayat. Sanksi hudud merupakan hak Allah sedangkan jinayat adalah hak korban atau ahli waris karena itu keduanya wajib dipenuhi jika ingin bertaubat.

Secara bahasa, hudud berarti sesuatu yang membatasi di antara dua hal. Secara syar‘i, hudud bermakna sanksi atas kemaksiatan yang telah ditetapkan (kadarnya) oleh syariat dan menjadi hak Allah. Dalam kasus hudud tidak diterima adanya pengampunan atau abolisi. Sebab, hudud adalah hak Allah Swt.

Sanksi hudud terbatas pada 8 perkara dan hukumannya yang secara umum diuraikan sebagai berikut. Pertama, zina (pelaku dirajam jika muhshan/telah menikah atau cambuk 100 kali jika ghayr muhshan/belum menikah); kedua, homoseksual/liwath (pelaku dibunuh); ketiga, qadzaf/menuduh berzina tanpa didukung 4 orang saksi (pelaku dicambuk 80 kali); keempat, minum khamar (pelaku dicambuk 40/80 kali); kelima, murtad yang tidak mau kembali masuk Islam (pelaku dibunuh); keenam, membegal/hirabah (pelaku dibunuh jika hanya membunuh dan tidak merampas; dibunuh dan disalib jika membunuh dan merampas harta; dipotong tangan dan kaki secara bersilang jika hanya merampas harta dan tidak membunuh; dibuang jika hanya meresahkan masyarakat); ketujuh, memberontak terhadap Negara/bughat (pelaku diperangi dengan perang yang bersifat edukatif, yakni agar pelakunya kembali taat pada Negara, bukan untuk dihancurkan); kedelapan, mencuri (pelaku dipotong tangannya hingga pergelangan tangan jika memang telah memenuhi syarat untuk dipotong).

Jinayat adalah penyerangan atas badan yang mewajibkan adanya qishash (balasan setimpal) atau diyat (denda). Jinayat ini merupakan hak bagi korban atau ahli waris. Dengan demikian, korban atau ahli waris boleh memilih antara qishash atau mengambil diyat atau bahkan menyedekahkan diyatnya kepada pelaku (memaafkan). Jinayat ini sebenarnya cukup kompleks derivasinya untuk dijabarkan di sini. Tetapi sebagai catatan jinayat ini tidak sekadar pada pembunuhan saja. Bahkan untuk satu gigi yang lepas saja berharga diyat 5 unta sedangkan tiap jari tangan atau kaki berharga diyat 10 unta.

Ada banyak lagi tindakan kriminal yang tidak termasuk pada hudud maupun jinayat. Karena itu, tindakan kriminal itu tidak memiliki hukum yang ditetapkan langsung oleh Allah. Perkara-perkara tersebut diatur dengan sistem sanksi ta’zir dan mukhalafat.

Ta’zir yang menurut bahasa bermakna pencegahan (al-man‘u) diterapkan atas dosa selain dosa hudud dan jinayat seperti, meninggalkan shalat atau menghina orang lain. Secara umum, ta’zir berlaku pada pelanggaran terhadap kehormatan; pelanggaran terhadap kemuliaan; perbuatan yang merusak akal; pelanggaran terhadap harta; gangguan keamanan; subversi; pelanggaran yang berhubungan dengan agama.

Administrasi negara pada dasarnya adalah sesuatu yang mubah. Tetapi pelanggaran terhadap administrasi negara merupakan pelanggaran terhadap perintah Imam, sedangkan melanggar perintah imam yang tidak bertentangan dengan aturan Allah adalah dosa. Hal ini sesuai dengan hadits Rasulullah yang berbunyi,

“Barangsiapa taat kepadaku maka ia taat kepada Allâh, barangsiapa bermaksiyat kepadaku maka ia bermaksiyat kepada Allâh, barangsiapa taat kepada amîrku, maka ia taat kepadaku, barangsiapa bermaksiyat kepada amîrku maka ia telah bermaksiyat kepadaku.”

Sanksi ini masuk pada bab mukhalafat. Karena serupa tapi tak sama ada ulama yang memisahkan antara ta’zir dan mukhalafat ada pula yang menyatakan mukhalafat bagian dari ta’zir.

Demikian sekilas sistem pidana dalam Islam. Memang belum lengkap rasanya tanpa penjelasan sistem pembuktian dan birokrasi peradilan dalam Islam. Namun setidaknya sudah cukup menggambarkan bahwa Islam sebagai ideologi telah memiliki sistem pidana yang akan menjamin terlaksananya syariat Islam dalam kehidupan bernegara. []

§ 10 Responses to Sekilas Sistem Pidana Islam

  • schlachthausabattoir mengatakan:

    taun 70-79 tu waktu penegakkan hudud-nya lagi bagus2nya kah?? kalo taun2 sekarang gimana??

    ada gak negara lain yang sistem peradilannya sekuler lebih rendah kriminalitasnya??

    gara2 faktor apa??

  • irfan mengatakan:

    datanya memang saya nemu yang itu.
    kalau yang dipikiran saya ketika melihat itu ya satu satu sistem terlaksana ya ada efek baiknya

    tapi memang harus dilihat tren tiap tahun juga perkembangan sistem hukum di saudi sana

    saya sebenarnya sudah menuliskan bahwa sistem pidana ini harus disatukan dengan sistem lainnya yaitu pendidikan dan ekonomi. mungkin yang perlu saja jelaskan bagaimana bila ada sistem pidana tapi sistem yang lain tidak berjalan.

    tapi tujuan saya sebenarnya bukan di pembuktian keberhasilan sistem ini tapi lebih ke falsafahnya dan pengenalan jenis uqubatnya.

    tapi saja jadi pikir bakal ada beberapa perbaikan lagi

  • firda mengatakan:

    alinea pertama–> sy kurang faham, maksudnya “sistem pidana islam” mustahil menjadi program unggulan “parpol islam kek gimana?”

    kalo pun ada faktanya, sistem pidana di sale ma parpol manapun, parpol islam jadi berubah fungsi…..

    rata2 kenapa masyarakat pobhia, karena sistem pidana islam sangat tidak manusiawi.. kek rajam, potong tangan… wajar kalo masyarakat berpandangan demikian, karena belum tercipta kesadaran..

    tinggal di tanya balik aja, sitem pidana islam yg mana yg tidak manusiawi??

    oiya, ttg arab saudi… sy kurang sepakat kalo arab saudi dijadikan contoh penerapan sistem pidana islam..

    kek, perjalanan dari makkah ke madinah, banyak anak kecil yang tangannya, punten “buntung” dr siku ampe pergelangan tgn ga ada , itu anak kecil.. katanya itu karena mencuri akhirnya di potong.

    padahal dalam islam, ketika ada yg mencuri ngga langsung di potong, pertama akan di tanya dulu, kemudian apakah hasil pencuriannya itu sesuai dgn syarat —> 1/4 dinar, terakhir si pelakunya sudah baligh..
    kek gini khan serem..

    satu lagi, entah ini ada di sitem pidana islam ato tidak, kalo seorang istri melakukan kesalahan maka hukumannya, dibakar di atas kompor.. argh, kejem pisan.. ini kenyataan dan ini dah budaya di arab sendiri..

    bagus tidak jk kita ingin membandingkan sistem pidana islam dgn sis pidana sekuler, kita ambil contoh dari sebagian negri islam yg memang di terapkan sebagian sis.pidana islam waluapun tidak ideal??

  • schlachthausabattoir mengatakan:

    jadi inget ceritanya Ibnu Batutah di Maladewa.. beliau sama penduduk sana diminta jadi qadhi atas seorang pencuri.. oleh beliau si pencuri tersebut dipotong tangannya.. kontan orang2 yang hadir disana langsung pada pingsan.. hahaha.. tapi Ibnu Batutah bilang “Islamnya masih lemah”..

    yah mungkin kalo ana hadir pada prosesi pemotongan tangan juga pasti eneg.. tapi enegnya ana jelas bukanlah acuan penetapan hukum.. justru enegnya ana adalah justifikasi bahwa tujuan hukum tercapai..

    jadi kalo masalah manusiawi2an.. memang tidak manusiawi.. dimana yang dimaksud manusiawi disini adalah perasaan orang2 tertentu.. tetapi ada jenis manusiawi yang lain juga.. yaitu pencurinya langsung dihakimi rame2 sambil dibakar bensin.. yaa yang satu gharizah nau’ nya lebih gede.. yang satu gharizah baqa’ nya lebih gede.. seperti itu kira2 premis biimplikatifnya..

  • firda mengatakan:

    islam nya masih lemah itu masyarakat yg nangis ya??.. nangis ga nangis wajar itu khan manusiawi..

    qadhi jaman dulu khan pada hebat2, kek qadhi syuraih ketk menhadapi kasus seorang anak yg direbutin 2 ibu, terus qadhi bilang dgn entengnya blng “belah aja jadi dua anaknya”, ibu yg satu blng ya udah sy ikhlaskan anak itu ke ibu yg satu lg dari pada dibelah dua… kt qadhi dia ibu yg asli.. hebat ga perlu tes DNA..

    hhmmm mister, kek nya pertanyaan sy belum kejawab, bukan ttg manusiawi-nya..

  • schlachthausabattoir mengatakan:

    bukan nangis kk.. pingsan..
    dan Islamnya masih lemah itu hanya perkataan Ibnu Batutah..

    apakah yang Islamnya kuat bakalan enggak eneg waktu liat tangan dibuntungin?? mungkin juga, jadi sisi romantismenya sudah ditinggalkan secara sempurna.. -_-

    wallahu’alam kk..

    eh awak mah cuman nanggepin masalah manusiawi ajah kk..

  • irfan mengatakan:

    @firda
    setelah saya pikir memang tidak bagus
    insya Allah saya edit

  • firda mengatakan:

    di tunggu editannya…

    entah, kalo jaman dulu baca di maraji’ ttg sistem sanksi islam, masyarakatnya jarang ada yg nangis/pingsan ketika melihat prosesi pemotongan atau cambuk, rajam… berarti menandakan ‘pengalihan naluri nau’ ke posisi yg tepat…. ga kek skrang

    kalo sy pribadimah, biasa ajah kenapa juga harus nangis melihat orang yg dihukum ketika aturan allaah dilanggar…

    benar tidak, Penerapan Hukum Pidana Islam di Aceh merupakan sebuah Pilot Project bagi sebuah system hukum pidana di Indonesia, walaupun sampai saat ini masih dlm thp adaptasi..

    trus, dlm islam apakah boleh, menguji efektivitas penerapan syariat dlm hal pidana/sanksi padahal masyarakat belum faham?? kek di aceh, sumatra selatan jg ada, padang jg..

    sebenrnya sy jg masih bingung, belum kebayang sistem pidana dlm islam kek gmn, ya kalo secara teori kegambar, tapi CUMI cuman mikirin teknisnya kek gmn… lam afham

    kaopun ada beberapa negri islam yg mengklaim sis.pidana yg diterpkan itu pidana islam, sy kurang sepakat karena fakta membuktikan ga kek gitu, kurang ideal…

    nuhun

  • rio mengatakan:

    sae tulisannya sukron

  • ilmul kitab mengatakan:

    banyak org yg mrindukan keadilan, tp ketika islam menawarkn syari’at islam sbg solusinya…, eh! mreka malah takut menerapknny. agak bingung jg nih, menjelaskannya gmn????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sekilas Sistem Pidana Islam at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: