Belajar Dari Tikus

Agustus 25, 2009 § Tinggalkan komentar

Ada satu cerita yang paling saya ingat dari training Siaware yang lalu. Cerita ini katanya diambil dari buku who moved my cheese. Saya sendiri belum baca buku tersebut. Cuman ceritanya cukup berharga untuk dibagikan kembali.

Ceritanya kira-kira begini, ada sebuah keju yang diletakkan di lubang terakhir antara tiga lubang. Bagaimana kira-kira cara tikus untuk mengambil keju tersebut? Pada hari pertama, ia akan memasuki lubang tersebut satu per satu. Ketika ia tidak menemukan keju di lubang pertama ia akan mencoba lubang kedua. Begitu terus sampai ia menemukan kejunya. Sampai akhirnya ia menemukan di lubang ketiga.

Apakah pada hari berikutnya ia akan melakukan hal yang sama dengan mencoba setiap lubang? Tentu tidak. Ia akan langsung menuju lubang ketiga yang diketahuinya ada keju. Begitu seterusnya untuk hari-hari berikutnya.

Apa yang akan tikus tersebut lakukan bila kita pindahkan kejunya ke lubang yang lain? Ketika mengetahui bahwa kejunya tidak ada di lubang ketiga, tikus tersebut tidak lantas putus asa. Ia akan mengerjakan kembali percobaannya pada hari pertama sampai akhirnya ia menemukan kejunya kembali.

Luar biasa. Ini sebenarnya pemikiran yang sederhana. Ketika kita menginginkan sesuatu seringkali kita berputus asa pada percobaan pertama. Atau ketika cara yang biasa kita lakukan pada masa kini ternyata tidak lagi membuahkan hasil. Kita merasa menjadi orang yang gagal. Padahal kita belum mencoba jalan kedua atau ketiga.

Putus asa bisa jadi alasan kita tidak berani mencoba cara lain. Kita lalu membayangkan bahwa kita memang orang yang akan selalu gagal. Padahal kegagalan sebenarnya hanyalah feedback atau informasi bahwa cara yang kita lakukan tidak tepat.

Coba bayangkan bila pada percobaan pertama tikus berputus asa di lubang pertama, ia tentu tidak akan mendapatkan kejunya. Atau ia berputus asa setelah mencoba lubang kedua tentu tikus itu sangat rugi karena ia sebenarnya sudah sangat dekat dengan kejunya. Bisa jadi itu yang terjadi pada kita. Kita berhenti sesaat sebelum kita mengalami kesuksesan.

Patut kita renungi pernyataan Thomas Alfa Edison ketika ditanya mengapa ia bisa bertahan setelah ribuan kali gagal. Edison menjawab, “Saya tidak pernah gagal, tetapi menemukan 9999 cara yang salah dan hanya satu cara yang berhasil. Saya pasti akan sukses karena kehabisan percobaan yang gagal.”

Bukan saatnya lagi kita berputus asa atas kegagalan yang pernah kita lakukan. Sudah saatnya kita mencoba cara baru untuk meraih impian kita.[]

Tagged: , , , , ,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Belajar Dari Tikus at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: