Memagari Masalah

Oktober 11, 2009 § 2 Komentar

Beberapa waktu yang lalu saya ngobrol dengan ayah dan ibu saya. Ayah saya bertanya taukah saya bagaimana ceritanya tetangga sebelah rumah yang dulu akhirnya pindah rumah. Saya tidak tahu dan saya juga penasaran. Yang lebih membuat saya penasaran karena dulu pernah mendengar ibu B, tetangga kami itu, kok malah menjelek-jelekkan ibu saya padahal bisa dibilang teman dekat ibu saya.

Ayah saya bilang suaminya seorang penipu. Ia menipu orang-orang satu kompleks. Saat menyadari telah ditipu, ayah saya datang ke kantornya dan marah-marah di sana. Pokoknya membuat suami ibu B itu menjadi terhina. Walhasil, ibu B menjadi benci kepada keluarga kami, begitu pula anak-anaknya.Yang paling menjadi korban masalah ini adalah ibu saya. Ibu B menjelek-jelekkan ibu saya di hadapan ibu-ibu yang lain. Anak-anaknya kalau kebetulan satu angkot dengan ibu saya selalu memperlihatkan wajah kesal dan marah.

Lalu ibu saya menimpali, harusnya ketika suatu masalah timbul, kita bisa memagarinya. Biarlah masalah ini hanya jadi masalah uang saja. Bahkan relakan saja uang itu hilang tapi jangan sampai putus silaturahmi dengan keluarganya. Pada dasarnya, ibu B dan anak-anaknya tau suaminya seorang penipu. Tetapi suaminya dipermalukan di depan umum  menghinakan mereka sekeluarga. Itu yang membuat mereka sangat marah. Ayah saya menjawab simpel, “Iya dulu papah masih muda dan emosional.”

Ketika suatu masalah timbul, kita harus bisa berpikir bukan hanya bagaimana cara kita menyelesaikannya tetapi juga bagaimana caranya agar masalahnya tidak membesar. Seringkali saat menghadapi masalah, sikap kita yang tidak tepat malah menggelindingkan bola salju yang terus membesar.  Misalnya, Kita punya masalah dengan seseorang, akhirnya kita jadi bermasalah dengan semua teman-temannya. Atau efek domino. Masalah keluarga jadi berimbas ke masalah akademik, ini contoh yang paling sering terjadi.

Memagari masalah tidak perlu kemampuan khusus. Ia hanya membutuhkan kesadaran semenjak awal , “Saya ingin masalah ini selesai dan tidak merembet dan membesar.” Kesadaran tersebut akan membuat kita mampu menata emosi. Sebab emosi yang tidak terkendalilah yang menyebabkan kita tidak bersikap proporsional saat menghadapi masalah. Ketika tensi masalah meningkat kita, kita menjadi emosional. Saat itu, kita tidak mood mengerjakan apapun atau jadi mudah marah bila bertemu seseorang. Inilah yang membuat masalah menjadi membesar dan merembet.

Masalah akan selalu datang selagi kita masih hidup. Bila kita membiarkan masalah menguasai diri, kita tidak akan pernah bisa melakukan sesuatu yang besar. []

Tagged: , ,

§ 2 Responses to Memagari Masalah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Memagari Masalah at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: