Juang Jiwa Rasul di Wahyu Pertama

Februari 14, 2012 § Tinggalkan komentar

Hari-hari itu Muhammad sering bermimpi. Aisyah menyebut mimpi itu dengan ar ru`yah ash shadiqah (mimpi yang benar). Mimpi itu sangat jelas seterang pagi hari. Pada mimpinya, beliau melihat malaikat turun membawa wahyu. Mimpi ini ditujukan agar nabi siap menerima wahyu dalam keadaan sadar.

Entah mengapa karena mimpi itu, beliau jadi senang menyendiri. Beliau memutuskan untuk mengerjakan salah satu ajaran nabi Ibrahim yaitu ber-tahannus (menyendiri). Setiap malam hari selama beberapa hari beliau beribadah di gua Hira`. Jika perbekalannya habis, beliau pulang untuk mengambil bekal. Begitulah seterusnya sehingga pada suatu Senin di bulan Ramadhan, al haq datang saat beliau berada di dalam gua Hira`.

Saat itu sesosok lelaki datang. Lelaki ini, yang merupakan malaikat Jibril, telah ditemuinya Muhammad dua kali. Pertama dalam mimpi-mimpinya dan kedua di Ajyad. Ketika itu terdengar suara, “Ya Muhammad”. Muhammad menengok ke kanan dan ke kiri namun tidak menemukan siapapun. Lalu beliau melirik ke atas. Jibril dalam bentuk aslinya dengan dua sayap memperkenal diri, “Ya Muhammad, ini Jibril.”

Lelaki itu berkata, “Bacalah.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jawaban pertama ini ditafsirkan sebagai penolakan. Lalu Malaikat itu pun menarik dan mendekapnya, hingga Rasulullah pun merasa sesak. Kemudian Malaikat itu kembali berkata, “Bacalah.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jawaban kedua ini ditafsirkan sebagai ketidakmampuan. Malaikat itu menarik Rasulullah dan mendekapnya untuk kedua kalinya hingga beliau merasa sesak, lalu berkata, “Bacalah.” Nabi menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Jawaban terakhir ini ditafsirkan sebagai pertanyaan apa yang harus dibaca.

Ia menarik lagi dan mendekap nabi untuk ketiga kalinya hingga beliau merasa kesusahan. Kemudian Malaikat itu menyuruhnya membaca,“Iqra` bismikal ladzii khalaq, khalaqal insaana min “alaq iqra` wa rabbukal akram alladzii “allamal bil qalam.. –hingga– “allamal insaana maa lam ya”lam.”

 

Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar dengan perantaran kalam, Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-‘Alaq: 1-5)

Terkejut dengan kejadian tersebut Muhammad pulang dengan badan menggigil. Lalu beliau meminta Khadijah menyelimutinya, “Selimutilah aku! selimutilah aku!” Setelah perasaan menjadi tenang, beliau berkata kepada Khadijah, “Wahai Khadijah, apa yang terjadi denganku, sungguh aku merasa khawatir atas diriku sendiri.” Lalu, beliau pun menceritakan kejadian yang beliau alami.

Khadijah mencoba menghilangkan kegelisahan nabi, “Tidak. Bergembiralah engkau. Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selama-lamanya. Sesungguhnya engkau senantiasa menyambung silaturahmi, seorang yang jujur kata-katanya, menolong yang lemah, memberi kepada orang yang tak punya, engkau juga memuliakan tamu dan membela kebenaran.”

Lalu Khadijah pergi membawa beliau menemui Waraqah bin Naufal, sepupu Khadijah. Ia adalah seorang penganut agama Nashrani pada masa Jahiliyah. Ia menulis dari kitab Injil dengan bahasa Arab. Saat itu, ia telah tua renta dan buta.

Khadijah berkata padanya, “Wahai anak pamanku. Dengarkanlah cerita anak saudaramu.” Waraqah berkata, “Wahai anak pamanku apa yang telah kamu lihat?” Maka Nabi pun mengabarkan padanya tentang kejadian yang telah beliau alami. Kemudian Waraqah berkata, “Ini adalah Namus (malaikat) yang pernah diturunkan kepada Musa.” Waraqah lalu berandai-andai, “Sekiranya aku masih muda, dan sekiranya aku masih hidup ketika kamu diusir kaummu.” Waraqah mengatakan hal ini karena mengetahui sejarah nabi-nabi terdahulu dalam Taurat dan Injil.

Kemudian Rasulullah bertanya: “Apakah mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Ya betul, Belum ada seorang pun yang diberi wahyu sepertimu tidak dimusuhi orang.” Waraqah lalu meyakinkan nabi akan kebenaran yang diperoleh dengan memberi dukungan, “Apabila saya masih mendapati hari ini niscaya saya akan menolong anda sekuat-kuatnya. “

Tidak berapa lama kemudian Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun terputus untuk sementara.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Juang Jiwa Rasul di Wahyu Pertama at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: