Refleksi Filosofis (1 dari 6): Kebenaran

Februari 17, 2012 § Tinggalkan komentar

Kebenaran itu dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu. (2:147)

Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang bathil dan janganlah kamu sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui. (2:42)

Pertanyaan tentang kebenaran telah membuat bingung pikiran hampir seluruh manusia yang hidup di bumi. Apakah itu kebenaran? Bagaimana caranya mengenali kebenaran? Apakah kebenaran itu ada? Jenis pemikiran ini membawa kita kembali ke zaman filsuf yunani kuno yaitu Socrates, sebagai seorang pemuda ia tanpa henti bertanya dan mencari kebenaran.

Namun, dalam masa sekarang kita tidak benar-benar memikirkan konsep-konsep seperti kebenaran. Kita mungkin berpendapat, “Katakan padaku yang sebenarnya!” ketika kita menduga ada pengkhianatan dari teman kita, atau kita “Bersumpah untuk mengatakan kebenaran” dalam pengadilan hukum. Tetapi ketika membicarakan eksistensi kita, dan mempertanyakan apa artinya bagi seorang manusia, kita lupa tentang kebenaran dan mengambil skeptisisme sebagai filsafat. Skeptisisme menjawab secara negatif pertanyaan berikut: “Bisakah kita tahu sesuatu?” Jawabannya menyiratkan keyakinan bahwa kebenaran tentang kehidupan dan alam semesta tidak akan pernah diketahui.

Bermula dari sekolah yang didirikan Pyrrho dari Elis, skeptisisme dianjurkan dan ditulis filsuf yunani Sextus Empiricus. Dia merupakan orang pertama yang merinci dan mengkodifikasi ajaran tersebut. Jenis sekolah filsafat ini lumrah pada masyarakat sekarang. Namun bagaimanapun, pendekatannya mengenai kebenaran tidak beralasan karena ternyata kita dapat menemukannya. Satu-satunya cara mendapatkannya adalah dengan bertanya tanpa akhir dan terus-menerus. Socrates merupakan ahli dalam memilih pertanyaan. Dengan demikian, ia mampu membawa lawan-lawannya menyadari kebenaran, dan hal ini karena ia percaya kebenaran itu sudah berada dalam diri kita.

Sebagai contoh, ada prinsip-prinsip universal yang tidak pernah dapat kita tolak. Sebab menolaknya berarti meniadakan pengetahuan itu sendiri. Misalnya, ambil dua papan kayu sama panjang: apakah kita tahu kedua papan itu sama karena mereka memiliki panjang yang sama atau apakah karena kita tahu konsep kesetaraan sebelum ada pengalaman? Hal ini tentu karena kita memiliki konsep kesetaraan bawaan  yang memungkinkan kita melihat papan kayu yang sama panjang. Kita juga tahu setengah dari sesuatu lebih sedikit dari keseluruhan. Kita juga mengetahui kebenaran tentang fakta bahwa semua ayah adalah laki-laki. Ide-ide dan konsep bawaan ini dalam epistemologi dikenal sebagai priori, maksudnya pengetahuan yang independen (terpisah) dari pengalaman.

Dari perspektif praktis, posisi skeptis ini sulit dipertahankan. Kita tahu kebenaran hukum fisika yang memungkinkan jembatan menahan beban berat, termasuk hukum-hukum yang menjaga kapal tetap mengapung. Jika posisi skeptis menjadi asumsi ketika membangun rumah, apakah kita akan pernah setuju mengimplementasikan hasil rancangan sang arsitek?

Filsuf Polandia Leszek Kolakowski menulis “Saya dapat mengatakan: ‘Baik, karena kita tidak tahu apa-apa, apa gunanya membangun teori yang tidak memiliki dasar?’ Tetapi jika para filsuf dan cendekiawan hanya berusaha mencapai ketenangan dan kepuasan diri seperti itu, akankah mereka mampu membangun peradaban kita sekarang? Akankah fisika modern ditemukan? “

Jadi ada beberapa kebenaran universal yang bisa diterima dengan rasa tenang. Cara mengetahui kebenaran lebih lanjut adalah dengan menggunakan kebenaran universal sebagai titik awal, yang dalam bahasa filsafat disebut epistemic foundationalism.

Pentingnya kebenaran ditekankan banyak pemikir masa lalu dan kini. Filsuf kuno Plato mengatakan, “Dan bukankah buruk ditipu mengenai kebenaran, dan baik mengetahui kebenarannya? Karena saya menyakini mengetahui kebenaran maksudnya mengetahui segala sesuatu sebagaimana adanya.”

Jadi mengapa mencari kebenaran penting? Faedah kebenaran tidak hanya intuitif. Kebenaran memberikan kita kepekaan terhadap fakta, bahwa sesuatu itu nyata. Dalam ketiadaan kebenaran, kehidupan acap kali tampak tidak nyata dan dibuat-buat dalam arti tertentu.

Selain itu, banyak psikolog mengakui manusia ingin menjadi benar dan berusaha mempelajari norma-norma sosial ketika mereka tidak yakin tentang sesuatu, proses psikologis ini dikenal sebagai ‘Normative and Informational Social Influence’ (Pengaruh Sosial Normatif Dan Informatif). Dalam pandangan ini, pencarian kebenaran sangat penting karena memungkinkan membentuk siapa kita atau ingin menjadi orang seperti apa kita.

Cara lain melihat hal ini adalah tidak mencari kebenaran sama saja dengan berbohong pada diri sendiri, atau bahkan menerima bohong.  Sebab apa pun selain kebenaran merupakan kebalikannya. Jadi pencarian kebenaran merupakan sarana lebih tulus pada eksistensi kita sendiri. Karena itu, kita harus mencari kebenaran tentang siapa kita dan kehidupan yang kita jalani.

Akhirnya, berpegang pada pandangan skeptis bahwa tidak ada kebenaran justru menggugurkan pandangan skeptis itu sendiri. Sebab mengklaim tidak ada kebenaran sebenarnya justru adalah klaim kebenaran. Jadi bagaimana bisa seseorang mengklaim skeptisisme itu benar, tetapi selainnya salah? Ini merupakan inkonsistensi pemikiran skeptis, kaum skeptis mengklaim kebenaran skeptisisme namun menolak semua kebenaran lain! Konsekuensinya tidak peduli apa pun pendapat yang kita pegang, kita masih harus menerima kebenaran. Dan dengan demikian, pencarian kebenaran mulai![]

diterjemahkan dari:http://hamzatzortzis.blogspot.com/2010/10/philosophical-reflections-truth-success.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Refleksi Filosofis (1 dari 6): Kebenaran at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: