Refleksi Filosofis (2 dari 6): Kesuksesan

Februari 24, 2012 § Tinggalkan komentar

“Mereka itulah orang-orang yang beruntung (sukses).” (7:157)

“Sesungguhnya ini benar-benar kemenangan (kesuksesan) yang besar.” (37 : 60)

Salah satu definisi terbaik mengenai kesuksesan yang saya dapatkan adalah “Penuntasan sesuatu yang diinginkan”. Sebagai contoh, jika saya ingin belajar mengemudi, lalu saya lulus ujian mengemudi, maka itu adalah kesuksesan.

Sebagai manusia, kita selalu ingin mencapai sesuatu, seperti: mendapatkan promosi, menjadi bos bagi diri sendiri, menjadi ayah dan suami yang baik, melakukan perjalanan keliling dunia atau menulis buku. Jika kita berhasil mencapai keinginan dan tujuan, maka bisa dikatakan kita sukses. Namun apa pandangan mengenai sukses ini bermakna? Menurut saya tidak.

Jika kita menjalani hidup hanya untuk menyelesaikan hal-hal yang kita inginkan, tanpa mempertanyakan tujuan mengapa kita ada di bumi ini, kita tidak akan menemukan makna hidup yang utama. Akibatnya pandangan kita mengenai sukses jadi tidak berdasar dan tidak memiliki nilai nyata.

Jika setiap orang menjalani hidupnya untuk mencapai semua hal yang telah disebutkan, namun ia tidak mengerjakan tujuan hidupnya, apakah kita dapat mengatakan hidup mereka berhasil? Kita juga bisa bertanya: adakah bedanya mereka pernah dilahirkan atau tidak? Hidup mereka mungkin untuk menyelesaikan beberapa hal yang relatif penting yang mereka inginkan, tetapi apakah tujuan penting dari menjalani kehidupan itu sendiri?

Jika kita lihat dari sudut pandang ilmiah, anak-anak kita, tindakan kita, orang yang kita cintai dan segala sesuatu yang kita lakukan hanya sekumpulan molekul. Karbon dan atom lain dengan berbagai kombinasi membentuk hidup kita dan termasuk hal-hal yang kita ingin capai. Dengan demikian dari perspektif ini, manusia tidak lebih penting daripada segerombolan lalat, atau kawanan domba, karena karena terdiri dari zat penyusun yang sama. Juga, jika kita mengikuti garis pemikiran ilmiah, akhir kehidupan kita juga tidak ada artinya, kita mati dan hanya itu. Hal ini berlaku untuk setiap individu.

Pencapaian luar biasa dari para ilmuwan untuk kemajuan manusia, penelitian yang sedang berlangsung untuk menemukan obat kanker, serta upaya politisi untuk membangun keadilan dan perdamaian di dunia, semuanya sia-sia. Bahkan jika manusia dapat hidup selamanya, waktu hidup yang tak terbatas tidak akan membuat mereka jadi lebih berarti, tidak akan ada perbedaan yang mendasar.

Eksistensialis seperti Jean-Paul Sartre dan Albert Camus memahami tidak bermaknanya realitas kehidupan adalah karena tidak adanya pengetahuan tentang tujuan hidup manusia. Inilah sebabnya Sartre menulis tentang “muaknya” kehidupan dan Camus melihat hidup itu absurd karena alam semesta tidak memiliki makna sama sekali.

Filsuf Jerman Friedrich Nietzsche berpendapat dalam pernyataan singkat dan jelas bahwa sejarah dunia dan manusia tidak memiliki makna, tatanan atau tujuan rasional. Nietzsche berpendapat bahwa hanya ada kekacauan acak, sebuah dunia tanpa arah menuju keabadian.

Namun jika kita menemukan tujuan hidup kita, yang memberikan hidup kita makna tertinggi, dan kita ada untuk mencapai dan menyelesaikan apa yang dimaksud – hal itu akan menjadi kesuksesan sejati.

Yang berpikir sebaliknya mungkin menyatakan bahwa seluruh diskusi ini mengasumsikan bahwa ada entitas metafisik yang menciptakan alam semesta dengan tujuan-tujuannya. Hal ini benar, namun membuang asumsi ini artinya menganggap ateisme benar. Padahal, kesimpulan logis dari ateisme adalah bahwa hidup kita tidak ada gunanya, yang merupakan kesimpulan yang sebagian besar ateis tidak ikuti karena bertentangan dengan fitrah dan watak psikologis manusia.

Pertanyaan-pertanyaan berikut secara alami muncul, apa maksud keberadaan kita, dan apa pandangan yang masuk akal dari pencarian terus menerus akan makna dan kesuksesan yang sebenarnya? []

diterjemahkan dari:http://hamzatzortzis.blogspot.com/2010/10/philosophical-reflections-truth-success.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Refleksi Filosofis (2 dari 6): Kesuksesan at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: