Fiqih

Februari 27, 2012 § Tinggalkan komentar

Secara bahasa, fiqih berarti pemahaman (fahm) seperti dalam firman Allah:

Kami tidak banyak mengerti (ma nafqahu)  tentang apa yang kamu katakan itu (TQS. Hud: 91)

maksudnya kami tidak memahami.

Dalam istilah hukum, fiqih memiliki dua makna. Pertama, ulama ushul seperti Amidi, Zarkasyi, Baidhawi, dan Syaukani mendefinisikan fiqih sebagai, “Pengetahuan tentang praktik urusan syar’i yang diperoleh dari dalil terperincinya (al-adillah al-tafsiliyyah)” [1] Sebagai contoh, seorang faqih (ahli fiqih) mengetahui hukum untuk permasalahan aborsi, sebagai tambahan, dia juga mengetahui bagaimana dan darimana hukum tersebut diambil. Kedua, semua hukum Islam. Definisi ini semakna dengan istilah syariah.

Mengetahui aturan syariah adalah kewajiban seorang muslim dalam kehidupan sebagai tugas individual bagi setiap muslim. Setiap muslim diperintahkan untuk menjalankan semua perbuatannya berdasarkan hukum yang diturunkan oleh Penciptanya, Allah. Hal ini karena pembebanan (taklif) yang diberikan pembuat hukum (asy syari’) yang ditujukan kepada manusia dan kepada orang-orang beriman merupakan penunjukkan yang kuat bagi siapapun, baik itu tentang masalah iman atau tentang amal manusia. Allah berfirman:

 

“Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mukmin dan tidak (pula) bagi perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan,” (TQS Al Ahzab: 36)

 

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya. Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula.” (TQS Al Zalzalah: 7-8)

 

“Pada hari ketika tiap-tiap diri mendapati segala kebajikan dihadapkan (dimukanya), begitu (juga) kejahatan yang telah dikerjakannya; ia ingin kalau kiranya antara ia dengan hari itu ada masa yang jauh; dan Allah memperingatkan kamu terhadap siksa-Nya. Dan Allah sangat Penyayang kepada hamba-hamba-Nya.” (TQS Ali Imran: 30)

 

“Tiap-tiap diri datang untuk membela dirinya sendiri.” (TQS An-Nahl: 111)

 

Pertanggungjawaban merupakan cara yang tegas yang digunakan dalam nash, jadi seorang muslim harus bertanggung jawab mengikat dirinya pada aturan syara’ ketika menjalankan perbuatan apapun. Konsekuensinya setiap muslim wajib mengetahui aturan syariah bagi perbuatan yang akan dikerjakan diri sendirinya dalam kehidupan ini. Sedangkan mempelajari lebih lanjut ilmu pada bidang lain dari syariah adalah fardu kifayah bukan fardu ‘ain, jika sebagian orang telah menjalankannya maka kewajiban bagi yang lain terangkat.

 

Hal ini dikuatkan dengan riwayat Anas bin Malik yang berkata Rasulullah bersabda:

 

Menuntut ilmu adalah kewajiban setiap muslim. (HR. Ibnu Majah)

 

Fiqih merupakan bagian dari aturan yang mengikat seorang muslim dalam kehidupannya seperti pada masalah ibadah dan muamalah. Karenanya mempelajari fiqih merupakan salah satu kewajiban bagi seorang muslim. Ada beberapa hadits syarif yang memotivasi agar mempelajari fiqih.

 

Diriwayatkan dari Muawiyah bin Abu Sufyan bahwa Rasulullah bersabda:

 

“Bila Allah berkehendak baik pada seseorang, Ia akan menganugerahkan pemahaman akan agama.” (HR. Bukhari)

 

Juga Hazzam bin Hakim meriwayatkan dari pamannya dari Rasulullah yang bersabda

 

Akan tiba masa dimana banyak ahli fiqih, tapi sedikit khatib, banyak yang memberi, sedikit yang meminta; pada masa itu amal lebih berharga dari ilmu. Lalu akan tiba dimana sedikit ahli fiqih dengan banyak khatib, banyak yang meminta tapi sedikit yang memberi; pada masa itu ilmu lebih berharga dibanding amal.

 

Hadits berikut secara tersurat menunjukkan keutamaan fiqih dan mendorong untuk mempelajarinya. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khatab berkata:

 

Kematian seribu ahli ibadah yang shalat pada malam dan shaum pada siangnya tidak lebih berharga dibanding kematian seorang yang memiliki ilmu mengenai halal dan haram dari Allah. (HR. Ahmad)

 

 

[1]  Amidi, Ihkam, I, 6; Shawkani, Irshad, p. 3; al-Zarkashi, al Bahr al Muhit fi Usul ul Fiqh Vol 1, p.21; al-Baydawi, Minhaj al wusul ila ilm al usul, p. 3

 

diterjemahkan dari http://www.nahdaproductions.org/media/k2/videos/resources/ebooks/Usool/Studies%20in%20Usul%20ul%20Fiqh%20hilal%20abu%20ismael.doc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Fiqih at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: