Menulis dengan Prinsip Teko Aa Gym!

Maret 2, 2012 § Tinggalkan komentar

Dulu ketika Aa Gym masih jaya di udara, saya dan keluarga sering mendengarkan ceramah beliau setiap kamis malam lewat radio dari rumah. Salah satu ajaran Aa Gym yang masih saya ingat adalah prinsip tekonya. Menurut Aa Gym, perkataan seseorang itu mencerminkan apa yang ada di dalam kepalanya. Layaknya sebuah teko, ia hanya akan mengeluarkan apa yang ada di dalamnya. Kalau teko itu berisi air teh maka yang bisa dituangkan hanya air teh. Kalau teko itu berisi air kopi maka yang bisa keluar tentu hanya air kopi.

Tulislah yang Anda miliki

Ketika menulis, prinsip teko Aa Gym ini, perlu Anda camkan. Dengan kata lain, Anda hanya bisa menuliskan sesuatu yang Anda miliki. Hal ini, sering kali tidak disadari kebanyakan orang yang baru belajar menulis. Ketika awal seseorang belajar menulis, khayalannya melambung tinggi. Ia membayangkan bisa langsung menulis suatu karya besar. Sebab yang dianggapnya sebagai “tulisan” adalah karya besar buatan para penulis terkenal.

 

Janganlah mahasiswa teknik berusaha menyaingi pakar ekonomi ketika menulis soal kasus Bank Century, misalnya. Selain tentu saja sangat sulit membuatnya, tulisan orang yang bukan pakar kemungkinan besar akan minim analisis. Malah bisa jadi isinya hanya penuh dengan kutipan hasil comot sana sini. Itu saja sebenarnya masih mending. Yang lebih parah, tulisan tersebut bisa jadi menyesatkan masyarakat karena penulisnya salah memahami konsep ekonomi.

 

Namun demikian, jangan takut menuliskan analisis suatu bidang secara mendalam, bila itu memang bagian dari diri Anda. Jika Anda mahasiswa atau malah pakar geologi jangan takut untuk menulis tentang bencana gunung merapi. Yang penting ingat, Anda hanya bisa memberi apa yang Anda miliki!

 

Tulislah tentang diri anda

Seperti disebutkan sebelumnya, kuncinya prinsip teko Aa Gym. Karena itu, tulislah tentang diri Anda. Kalau Anda bukan pakar suatu bidang, yang perlu diunggulkan dari tulisan Anda adalah keunikan, kekhasan dan atau sudut pandang yang baru. Anda masih bisa menulis kasus Century dengan sudut pandang yang berbeda. Misalnya dengan membuat tulisan dari sudut pandang kehidupan seorang mahasiswa. Kira-kira kalau uang 6,7 T tidak “menguap” dan Anda diamanahi untuk mengelolanya, apa yang akan Anda lakukan? Menarik bukan?

 

Ingatlah bahwa diri Anda itu unik. Anda unik dengan pengalaman hidup Anda sendiri. Pengalaman hidup setiap orang itu khas dan tidak ada yang benar-benar mirip. Lagi pula tidak perlu khawatir dianggap salah oleh orang lain karena pengalaman hidup Anda adalah otoritas Anda sendiri.

 

Dengan prinsip ini, Anda tidak akan kehabisan bahan tulisan. Anda bisa menuliskan peristiwa yang pernah dialami, buku yang dibaca, film yang ditonton, hobi yang dimiliki, kuliah yang disenangi, berita yang diikuti, atau pandangan politik yang dianut. Yang penting semuanya ditinjau dari persepsi Anda. Meski bukan ahli fotografi misalnya, namun karena hobi dan ngulik bidang itu, Anda bisa menuliskan tentang fotografi sesuai dengan batasnya. Dan dengan begitu, menulis akan menjadi sangat mudah.

 

Perbanyaklah membaca

 Meski semua pengalaman yang masuk ke dalam diri Anda merupakan bahan tulisan, namun hal yang paling penting untuk mengembangkan kemampuan menulis adalah buku. Buku merupakan salah satu sumber informasi dan inspirasi bagi tulisan Anda. Selain itu, buku juga memberikan Anda kekayaan kosakata dan keluwesan cara pengungkapan suatu gagasan.

 

Mungkin Anda sering merasa tidak puas dengan karya Anda. Pilihan kosakatanya terbatas dan cara pengungkapannya begitu-begitu saja. Hati-hati bisa jadi karena Anda salah memilih bacaan. Ada ‘pepatah’ yang mengatakan garbabe in garbage out. Kalau yang kita masukkan kedalam diri kita itu sampah maka yang keluar ya sampah juga. Karena itu, jika ingin menghasilkan tulisan-tulisan yang bermutu selalu perhatikan apa yang masuk ke diri Anda. Pilihlah bacaan-bacaan yang bermutu.

 

Catatan

Mungkin Anda hendak menyampaikan ulang materi yang disampaikan mentor Anda pada saat mentoring. Anda bisa menuliskannya karena hal tersebut sudah jadi pengalaman Anda. Namun bila masih disampaikan dengan bahasa mentor Anda, bukan bahasa Anda sendiri, itu artinya baru sekadar tahu belum ‘memiliki’.

 

Sesuatu dapat dimiliki bila Anda memaknai apa yang masuk dan terima. Pemaknaan dapat terjadi ketika ada pertemuan antara pengetahuan dan pengalaman Anda. Meski boleh tapi sebaiknya tulislah sesuatu yang benar-benar Anda miliki, bukan sekadar yang diketahui. Sebab tulisan yang di-‘miliki’ biasanya menghasilkan daya sentuh yang lebih kuat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Menulis dengan Prinsip Teko Aa Gym! at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: