Ushul Fiqih

Maret 5, 2012 § Tinggalkan komentar

Ushul fiqih adalah kumpulan prinsip mengenai metodologi mengekstrak fiqih. Ibn al Hajib mendefinisikan ushul fiqih sebagai ‘prinsip yang digunakan mujtahid untuk menurunkan aturan hukum perbuatan dari dalil yang rinci’. [1]

Konsep ushul fiqih dapat dibandingkan dengan metodologi pelaksanaan penelitian sains. Kesamaannya, metodologi untuk menemukan fiqih (hukum) adalah ushul fiqih. Metodologi ini menyediakan cara bagi seseorang untuk menurunkan hukum Islam dari sumber hukum dalam Islam.

Kumpulan prinsip yang berkaitan dengan ushul fiqih cukup banyak. Beberapa contoh aturan akan didiskusikan pada bagian ini.

 

A. Sumber Hukum 

Memilih dalil tertentu untuk menurunkan hukum adalah bahasan utama pada ushul fiqih. Al Qur’an, sunnah, ijma sahabat dan qiyas adalah empat dalil dalam Islam yang diterima oleh banyak ulama. Selain empat hal ini, masih ada sumber-sumber tambahan lain seperti maslahah mursalah atau ijma ummat, yang tidak diterima secara luas.

 

B. Bahasa Arab 

Dalam bahasa Arab, ada beberapa aturan untuk memahami struktur sebuah ayat atau hadits. Aturan tata bahasa arab membantu memahami makna ayat atau hadits. Karena itu, memahami tata bahasa dan penggunaannya adalah kegunaan bahasa Arab dalam ushul fiqih.

 

C. Memahami nash al Qur’an dan sunnah 

Sebelum al Qur’an dan sunnah dipahami dengan benar, tidak ada hukum yang bisa diperoleh dari keduanya. Struktur bahasa nash al Qur’an dan sunnah beragam gayanya. Sebagai contoh gaya bahasa adalah: dzanny (nash yang maknanya tidak pasti), qath’iy (nash yang maknanya pasti), ‘aam (nash yang maknanya umum), khass (nash yang maknanya tertentu), haqiqi (nash yang maknanya literal), majaazi (nash yang maknanya metaforis). Aturan untuk mengenali dan membedakan masing-masing gaya bahasa adalah bahasan penting dalam ushul fiqih.

 

Aspek penting lainnya dalam menafsirkan teks Al-Qur’an dan Sunnah adalah isu-isu seputar nasakh (penghapusan) hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah. Ilmu tentang nasakh melibatkan masalah-masalah seperti, apa saja yang dinasakh, bagaimana memahaminya dalam kaitannya dengan ayat atau hadits yang lain, dan bagaimana mengompromikan perbedaan-perbedaan ini.

 

Sebagian muslim menyatakan bahwa ushul fiqih tidak dibutuhkan, caranya dengan menggunakan nash al Qur’an dan sunnah secara langsung untuk menurunkan hukum. Klaim ini menggambarkan kebodohan dalam memahami Islam. Mustahil menurunkan hukum tanpa dilengkapi dengan alat-alat yang dibutuhkan. Alat ini berguna agar kita dapat memahami nash al Qur’an dan sunnah, tanpa memahami nash, tidak ada yang dapat mengambil hukum.

 

Sebagai contoh, tanpa tahu tata bahasa arab ketika memahami nash al Qur’an dan sunnah, tidak akan ada yang mampu membedakan perintah dalam ayat atau hadits untuk perbuatan yang dinyatakan haram (terlarang) atau makruh (tidak disukai). Karena itu ushul fiqih merupakan kebutuhan yang mutlak untuk menghasilkan hukum.

 

Karena aturan diturunkan berdasarkan ushul fiqih, maka perbedaan dalam ushul fiqih akan menghasilkan perbedaan hukum. Ini salah satu alasan adanya beberapa hukum dalam suatu masalah.

 

Hasil akhir dari ushul fiqih adalah syariah (atau fiqih). Perbedaan atara ushul fiqih dan syariah adalah syariah fokus pada hukum yang berkaitan dengan perbuatan kita, sedang ushul fiqih fokus pada metodologi yang diterapkan untuk menghasilkan hukum tersebut.[]

 

[1] Ibn al-Hajib, Mukhtasar al-Muntaha, Vol 1, p. 4

 

diterjemahkan dari diterjemahkan dari: http://www.nahdaproductions.org/media/k2/videos/resources/ebooks/Usool/Studies%20in%20Usul%20ul%20Fiqh%20hilal%20abu%20ismael.doc

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Ushul Fiqih at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: