Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an

Maret 23, 2012 § Tinggalkan komentar

Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al Quran, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya (TQS Al Hijr: 9)

Ada seorang ustadz yang menerangkan tafsir “Kami” (nahnu) sebagai kata ganti bagi Allah. Yang pasti maksudnya bukan tuhan ada banyak. Setidaknya ada dua tafsir terhadap maksud dari penggunaan kata ganti Kami tersebut. Pertama, dalam bahasa arab kata ganti jamak berarti penghormatan. Kedua, ada campur tangan tambahan selain Allah dalam suatu pekerjaan. Bisa malaikat atau manusia. Menurut beliau pendapat kedua adalah pendapat yang lebih kuat.

Berikut adalah riwayat-riwayat yang menunjukkan bagaimana Allah, lewat umat Islam, terus menerus menjaga al Qur’an sejak masa diwahyukannya sampai sekarang. Tulisan ini dikutip dari beberapa buku yaitu: Sejarah Teks Al Qur’an (M.M, A’zami), Ulum Al Qur’an (Ahmad Von Denffer), Ulumul Qur’an Praktis (Hafidz Abdurrahman).

Al Qur’an Sudah Tertulis Sejak Periode Dakwah Makkah

Suatu hari Umar keluar rumah menenteng pedang terhunus hendak melibas leher Nabi Muhammad. Beberapa sahabat sedang berkumpul dalam sebuah rumah di bukit Safa. Jumlah mereka sekitar empat puluhan termasuk kaum wanita. Di antaranya adalah paman Nabi Muhammad, Hamza, Abu Bakar, ‘Ali, dan juga lainnya yang tidak pergi berhijrah ke Ethiopia.

Nu’aim secara tak sengaja berpapasan dan bertanya ke mana Umar hendak pergi. “Saya hendak menghabisi Muhammad, manusia yang telah membuat orang Quraisy khianat terhadap agama nenek moyang dan mereka tercabik-cabik serta ia (Muhammad) mencaci maki tata cara kehidupan, agama, dan tuhan-tuhan kami. Sekarang akan aku libas dia.”

“Engkau hanya akan menipu diri sendiri Umar, katanya.” “Jika engkau menganggap bahwa bani `Abd Manaf mengizinkanmu menapak di bumi ini hendak memutus nyawa Muhammad, lebih baik pulang temui keluarga anda dan selesaikan permasalahan mereka.” Umar pulang sambil bertanya-tanya apa yang telah menimpa keluarganya. Nu’aim menjawab, “Saudara ipar, keponakan yang bernama Sa`id serta adik perempuanmu telah mengikuti agama baru yang dibawa Nabi Muhammad. Oleh karena itu, akan lebih baik jika anda kembali menghubungi mereka.”

Umar cepat-cepat memburu iparnya di rumah, tempat Khabbab sedang membaca Surah Taha dari sepotong tulisan Al Qur’an. Saat mereka dengar suara Umar, Khabbab lari masuk ke kamar kecil, sedang Fatima mengambil kertas kulit yang bertuliskan Al Qur’an dan diletakkan di bawah pahanya… (Ibn Hisham, Sira, vol.l-2, hlm. 343-46.)

Penjagaan Al Qur’an di Masa Rasulullah

Diriwayatkan pula bahwa Rasulullah setiap tahunnya Rasulullah mengecek hafalannya dihadapan Jibril. Ibn Abbas menuturkan: “Rasulullah saw. adalah orang yang paling dermawan akan kebaikan. Sesuatu yang menyebabkan beliau paling dermawan di bulan Ramadhan adalah ketika Jibril as. datang menemui beliau tiap tahun di bulan Ramadhan hingga berakhirnya malam. Rasulullah saw. mengemukakan (hafalan) Al Qur’an kepadanya (Jibril). Ketika Jibril menemuinya, maka Rasulullah saw. adalah orang yang lebih dermawan akan kebaikan ketimbang angin yang ditiupkan (sekalipun).” (HR. Muslim)

Diriwayatkan Abdullah bin Amr berkata: “Aku telah menghafal al Qur’an dan menamatkannya pada setiap malam. Hal ini sampai kepada nabi, maka katanya: tamatkanlah dalam waktu satu bulan.” (HR. Nasai)

Mereka membacakannya ketika shalat malam sehingga malam di Madinah begitu ramai bagaikan suara lebah. Dari Abu Musa al Asyari: Rasulullah saw berkata: “Sesungguhnya aku mengenal kelembutan alunan suara keturunan Asyari di waktu malam ketika mereka berada dalam rumah. Waku mengenal rumah-rumah mereka dari suara bacaan al Qur’an mereka di waktu malam, sekalipun aku belum pernah melihat rumah mereka di waktu siang.” (HR. Bukhari Muslim)

Seperti yang dituturkan oleh Ibn Masud: Nabi saw. telah bersabda kepadaku: “Bacalah (Al Qur’an) untukku.” Aku bertanya: Wahai Rasulullah, aku harus membacakan (Al Qur’an) kepadamu, sementara kepadamulah (Al Qur’an) diturunkan?” Beliau menjawab: “Benar.” Maka, aku membaca surat an-Nisa hingga aku sampai ayat ini: (Lalu bagaimana jika Kami hadirkan saksi dari tiap ummat, sementara Kami hadirkan kamu (Muhammad) sebagai saksi atas mereka), beliau bersabda: “Sekarang cukup.” Aku pun menoleh ke arah beliau, tiba-tiba kedua matanya meneteskan air mata. (HR. Bukhari)

Kodifikasi pada Masa Abu Bakar

Abu Bakar memanggil saya setelah terjadi peristiwa pertempuran Yamamah yang menelan korban para sahabat sebagai syuhada. Kami melihat saat Umar ibnul Khattab bersamanya. Abu Bakar mulai berkata,” Umar baru saja tiba menyampaikan pendapat ini, ‘Dalam pertempuran Yamamah telah menelan korban begitu besar dari para penghafal Al Qur’an (qurra’), dan kami khawatir hal yang serupa akan terjadi dalam peperangan lain. Sebagai akibat, kemungkinan sebagian Al Qur’an akan musnah. Oleh karena itu, kami berpendapat agar dikeluarkan perintah pengumpulan semua Al Qur’an.”

Abu Bakar menambahkan, “Saya katakan pada Umar, ‘bagaimana mungkin kami melakukan satu tindakan yang Nabi Muhammad tidak pernah melakukan?’ Umar menjawab, ‘Ini merupakan upaya terpuji terlepas dari segalanya dan ia tidak berhenti menjawab sikap keberatan kami sehingga Allah memberi kedamaian untuk melaksanakan dan pada akhirnya kami memiliki pendapat serupa.

Zaid! Anda seorang pemuda cerdik pandai, dan anda sudah terbiasa menulis wahyu pada Nabi Muhammad, dan kami tidak melihat satu kelemahan pada diri anda. Carilah semua Al Qur’an agar dapat dirangkum seluruhnya.”

Demi Allah, Jika sekiranya mereka minta kami memindahkan sebuah gunung raksasa, hal itu akan terasa lebih ringan dari apa yang mereka perintahkan pada saya sekarang. Kami bertanya pada mereka, ‘Kenapa kalian berpendapat melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh Nabi Muhammad?’ Abu Bakar dan Umar bersikeras mengatakan bahwa hal itu boleh-boleh saja dan malah akan membawa kebaikan. Mereka tak henti-henti menenangkan rasa keberatan yang ada hingga akhirnya Allah menenangkan kami melakukan tugas itu, seperti Allah menenangkan hati Abu Bakar dan Umar. Al-Bukhari, (sahih, Jam’i Al Qur’an, hadith, no. 4986; lihat juga Ibn Abi Dawud, al-Masahif.) “

Abu Bakar mengatakan pada Umar dan Zaid, “Duduklah di depan pintu gerbang Masjid Nabawi. Jika ada orang membawa (memberi tahu) anda tentang sepotong ayat dari Kitab Allah dengan dua orang saksi, maka tulislah.” (Ibn Abi Dawud, al-Mashafi, hlm. 6. Lihat juga Ibn Hajar, Farhul Bari, ix: 14.)

Penyalinan dan Perbanyakan Qur’an pada Masa Utsman

Hudhaifah bin al-Yaman dari perbatasan Azerbaijan dan Armenia, yang telah menyatukan kekuatan perang Irak dengan pasukan perang Suriah, pergi menemui ‘Utsman, setelah melihat perbedaan di kalangan umat Islam di beberapa wilayah dalam membaca Al Qur’an. Perbedaan yang dapat mengancam lahimya perpecahan. “Oh khalifah, dia menasihati, ‘Ambillah tindakan untuk umat ini sebelum berselisih tentang kitab mereka seperti orang Kristen dan Yahudi.’ ” (AI-Bukhari, Sahih, hadith no. 4987; Abu ‘Ubaid, FadA’il, hlm. 282.)

Kemudian ‘Utsman mengirim surat kepada Hafsah yang menyatakan. “Kirimkanlah Suhuf kepada kami agar kami dapat membuat naskah yang sempurna dan kemudian Suhuf akan kami kembalikan kepada anda.” Hafsah lalu mengirimkannya kepada ‘Utsman, yang memerintahkan Zaid bin Tsabit, `Abdullah bin az-Zubair, Sa’id bin al-’Ash, dan ‘Abdur Rahman bin al-Harits bin Hisham agar memperbanyak salinan (duplikat) naskah.

Beliau memberitahukan kepada tiga orang Quraisy, “Kalau kalian tidak setuju dengan Zaid bin Tsabit perihal apa saja mengenai Al Qur’an, tulislah dalam dialek Quraisy sebagaimana Al Qur’an telah diturunkan dalam logat mereka.” Kemudian mereka berbuat demikian, dan ketika mereka selesai membuat beberapa salinan naskah `Utsman mengembalikan Suhuf itu kepada Hafsah. (Ibn Hajar, Fathul Bari, ix: ii, hadith no. 4987; Ibn Abi Dawud, al-Masahif, hlm. 19-20; Abu ‘Ubaid, Fada’il, hlm. 282)

Mushaf Utsman yang Masih Ada Hingga Kini

Dari beberapa salinan yag dibuat Utsman, saat ini masih bisa kita saksikan dua buah. Sisanya ada yang rusak ketika peperangan. Satu ada di kota Tashkent, (Uzbekistan) dan kedua ada di Istanbul (Turki).

Salinan yang Utsman kirim ke madinah menurut laporan dipindahkan oleh otoritas Turki ke Istanbul yang sebelumnya ditempatkan di Berlin selama Perang Dunia I, sesuai dengan perjanjian berikut:

“Pasal 246: Setelah 6 bulan dari perjanjian, Jerman akan mengembalikan kepada yang mulia, Raja Hijaz, al Qur’an asli milik Khalifah Utsman yang telah dipindahkan oleh otoritas Turki dan dihadiahkan kepada mantan Kaisar Wiliam II.”

Mushaf ini kemudian sampai di Istanbul tetapi tidak ke Madinah.

Salinan kedua disimpan di Tashkent, Uzbekistan. Mushaf tersebut datang ke samarkand tahun 890 hijriyah (1485) dan ada di sana sampai 1868. Kemudian dibawa ke St. Petersburg oleh rusia tahun 1869. Dan ada disana sampai 1917. Seorang orientalis Rusia memberikan deskripsi rinci tentang mushaf tersebut. Dia mengatakan bahwa banyak halaman yang rusak dan sebagian hilang.

Salinannya, sebanyak 50 salinan, diproduksi oleh S. Pisareff tahun 1905. Sebuah salinan dikirimkan ke Sultan Ottoman Abdul Hamid, ke Shah Iran, ke Amir Bukhara, ke Afghanistan, ke Fas dan ke sejumlah muslim yang penting. Salah satu salinannya sekarang ada di Columbia University Library (U.S.A.). Kemudian mushaf tersebut dikembalikan lagi ke tempat asalnya dan sampai di Tashkent tahun 1924 (Ahmad Von Denffer, Ulum Al Qur’an).[]

Tagged:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Sejarah Kodifikasi Al-Qur’an at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: