Apakah Islam Agama yang Menyulitkan?

Maret 26, 2012 § 3 Komentar

Saya ingat saudara saya pernah ditanya oleh non-muslim tentang anaknya yang berusia sekitar lima tahun yang sudah berpuasa. Katanya, kenapa “menyiksa” anak kecil? Saudara saya memang melatih anaknya untuk berpuasa walau puasa ayakan (nu aya dihakan/yang ada dimakan, sunda). Setidaknya anaknya ikut sahur dan buka bersama. Kalau tidak salah temannya juga bertanya tentang kenapa sih harus solat lima kali sehari, apa tidak terlalu banyak?

Mungkin pertanyaan seperti itu ada pula dibenak kita yang beragama Islam. Tidak hanya urusan ibadah seperti contoh di atas, tapi urusan lainnya. Urusan makanan, ada istilah halal haram. Urusan pakaian, ada istilah aurat, malah untuk perempuan selain menutup aurat ada kewajiban berjilbab. Urusan muamalah, ini boleh itu tidak boleh. Hidup jadi serasa sempit karena terlalu banyak aturan. Banyak yang dilarang dan banyak pula yang wajib.

Jawaban al Qur’an
Sebelum dijelaskan secara analitis mengapa Islam mudah, kita perlu mentadabburi tiga ayat al Qur’an terlebih dahulu.

Pertama, perintah dan larangan adalah salah satu cara Allah menguji manusia.

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (TQS Al Insan: 2)

Kedua, kebaikan bisa diraih dengan menjalankan aturan Islam.

Dan taatilah Allah dan Rasul, supaya kamu diberi rahmat.” (Ali Imran: 132)

Ketiga, semua aturan Allah pasti bisa dikerjakan manusia.

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (TQS Al Baqarah: 286)

Mengenali fitrah manusia
Tingkah laku manusia ditentukan dua bekal inherennya yaitu bekal melangsungkan hidup dan bekal memaknai hidup.

Yang termasuk bekal melangsungkan hidup adalah kebutuhan jasmani (biological need) dan dorongan naluri-naluri (instincts). Dengan bekal melangsungkan hidup ini, manusia bisa eksis hingga saat ini. Sebab hal tersebutlah yang membuat manusia melakukan suatu tindakan.

Bila diteliti hewan pun memiliki bekal melangsungkan hidup yang sama dengan manusia. Hanya saja karena manusia memiliki bekal memaknai hidup, yaitu akal, manusia menjalani kehidupannya berbeda dengan hewan. Kalau hewan memenuhinya dengan cara yang selalu sama, manusia bisa memilih bahkan mengembangkan berbagai opsi untuk memenuhi kebutuhan jasmani atau dorongan nalurinya.

Standar pilihan manusia dilandaskan pada pemaknaan hidup yang telah dilakukan akal sebelumnya. Misalnya akal memaknai hidup sebagai ibadah kepada Allah, menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, maka standar Islam digunakan ketika memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan nalurinya.

Dalam kaitan dengan apakah Islam sulit dijalankan atau tidak, bekal melangsungkan hidup akan diulas lebih dalam.

Kebutuhan jasmani manusia secara umum bisa dipenuhi dengan makan, berpakaian dan berteduh serta hal-hal yang berkaitan dengan ketiga hal ini. Pemenuhan kebutuhan jasmani membutuhkan kadar yang tepat. Seseorang yang mengonsumsi multivitamin padahal makanan sehari-harinya telah memenuhi 4 sehat 5 sempurna sebenarnya tidak sedang memenuhi kebutuhan jasmaninya. Sebab kebutuhan nutrisinya sebenarnya cukup. Kebanyakan hal tersebut dilakukan karena ketakutan atas iklan yang dilihat. Atau dengan kata lain orang mengonsumsi multivitamin sebenarnya sedang memenuhi naluri mempertahankan diri.

Kebutuhan jasmani memiliki beberapa ciri utama. Pertama, rangsangan kebutuhan ini muncul dari internal atau lebih khusus dari organ-organ tubuh manusia. Kedua, pemenuhan kebutuhan ini tidak bisa ditukar. Tidak bisa kebutuhan makan ditukar dengan merokok atau kebutuhan tidur diganti dengan minum kopi. Ketiga, kebutuhan ini harus dipenuhi. Sebab jika tidak dipenuhi akan menimbulkan kerusakan organ tubuh bahkan kematian .

Dorongan naluri secara umum terdiri dari naluri mempertahankan diri, naluri kasih sayang, dan naluri mengagungkan sesuatu. Naluri-naluri ini memunculkan berbagai perilaku. Naluri mempertahankan diri, misalnya, tampak dengan keinginan berkuasa, berkelompok, cinta tanah air. Lelaki mencintai perempuan, ibu menyayangi anaknya, perasaan iba muncul dari naluri kasih sayang. Sedangkan naluri mengagungkan sesuatu tampak dengan menghormati pahlawan, menyembah sesuatu, bahkan bernyanyi.

Dorongan naluri ini memiliki ciri yang berbeda dengan kebutuhan jasmani. Pertama, rangsangannya muncul dari luar. Misalnya, naluri mengagungkan sesuatu membuat masyarakat primitif menyembah matahari ketika menyadari matahari memberi manfaat bagi mereka. Kedua, pemuasan kebutuhannya bisa ditunda atau dialihkan ke naluri yang lain. Seorang muslim yang sudah mencapai masanya, dia bisa memilih untuk menikah atau berpuasa. Dengan berpuasa dia mengalihkan naluri kasih sayangnya pada naluri mengagungkan sesuatu. Ketiga, meski bisa ditahan namun jika tidak dipenuhi dapat menyebabkan kegelisahan.

Islam sesuai dengan fitrah manusia
Baik orang yang beragama atau tidak atau apapun persepsi hidupnya berusaha untuk memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan nalurinya. Cara pemenuhannya berbeda-beda sesuai dengan pemaknaan hidup mereka masing-masing. Di antara pemaknaan hidup tersebut, ada yang malah melarang salah satu pemenuhan kebutuhan jasmani atau dorongan naluri yang inhern. Misalnya sistem kerahiban yang melarang menikah. Berbeda dengan contoh tersebut, Islam tidak mengenal sistem kerahiban. Islam tidak mengkriminalisasi kesukaan manusia pada pasangan jenisnya.

Islam tidak datang dengan aturan yang melarang manusia memenuhi kebutuhan jasmani ataupun dorongan nalurinya. Bila kita teliti, Islam hanya menetapkan cara pemenuhan keduanya. Misalnya untuk memenuhi naluri kasih sayang, Islam mengaturnya dengan cara yang baik yaitu menikah, tidak membiarkan dengan cara yang buruk yaitu berzina. Islam juga memberi aturan beribadah sebagai ekspresi naluri mengagungkan sesuatu. Islam melarang penyembahan yang merupakan ekspresi dari kebodohan (syirik) yaitu menyembah sesuatu yang tidak dapat memberi manfaat atau pun memadharatkan manusia sedikit pun.

Dalam Islam, perbuatan jibiliyah (manusiawi) seperti bernafas, melihat, berjalan dan perbuatan sejenisnya hukum asalnya adalah mubah (boleh). Sedangkan perbuatan-perbuatan lainnya mengharuskan kita terlebih dahulu mempelajari Islam untuk mengetahui hukumnya.

Islam memang melarang mengkonsumsi makanan haram seperti babi, bangkai, khamr dan beberapa makanan lainnya. Tapi tidak berarti Islam mengekang salah satu pemenuhan kebutuhan jasmani yaitu makan. Sebab semua makanan selain yang diharamkan adalah halal. Puasa sekalipun tidak berarti melarang makan. Puasa hanya mengubah pola makan menjadi lebih teratur. Kita tahu baik mengakhirkan sahur maupun mengawalkan berbuka merupakansunnah muakkad, sunnah yang dianjurkan.

Dalam keadaan tertentu Islam memberikan rukhsah (keringanan) agar kehidupan manusia tetap berjalan. Anak kecil dan orang sakit tidak wajib berpuasa, misalnya. Apalagi dalam keadaan darurat, Islam malah mewajibkan seorang muslim makan babi bila memang tidak ada makanan selain itu. Syaratnya, jika dia tidak mengonsumsi makanan haram tersebut dapat menyebabkan kematian.

Dengan memahami konsep di atas, kita bisa memanfaatkannya pada masalah-masalah sosial yang terjadi. Seks bebas yang saat ini mulai marak terjadi pada anak-anak usia smp sma bisa dihindari bila tidak ada rangsangan dari luar. Tontonan atau obrolan-obrolan pornografi harus dihindarkan dari anak-anak. Kalaupun sudah ada yang kecanduan melanggar aturan dengan memahami konsep di atas dia bisa sedikit demi sedikit menyembuhkan dirinya sendiri. Misalnya orang yang terjangkit homoseksual dapat menjauhkan diri dari komunitas homoseksual dan memperbanyak pengajian atau ibadah.

Kalau masih ada yang merasa sulit itu artinya ia tidak mau menjalankan Islam. Sampai-sampai untuk membela tindak homoseksual, seorang pentolan JIL mengatakan bahwa homoseksual ada gennya. Padahal secara logis “gen homoseksual” tidak akan menurun karena pasangan homo tidak akan punya anak. Kalau sudah tidak mau memang akan muncul seribu alasan. Sebaliknya, kalau kita sungguh-sungguh menjalankan Islam, insya Allah, akan nampak seribu jalan.

Penutup
Jangan bayangkan muslim yang baik itu adalah muslim yang hidup mengasingkan diri dari masyarakat. Jangan pula bayangkan ia setiap hari berpuasa, membaca al Qur’an terus menerus, dan ia tidak menikah. Karenanya Anda tidak perlu berubah jadi seperti itu. Muslim yang baik adalah seperti Anda saat ini, asal ketika memenuhi kebutuhan jasmani dan dorongan naluri Anda memilih cara yang telah ditetapkan oleh Allah.

Rujukan:
Psikologi Kepribadian, Yadi Purwanto
Syakshiyah Islam, Taqiyyudin An Nabhani
Fiqhus Sunnah, Sayyid Sabiq

§ 3 Responses to Apakah Islam Agama yang Menyulitkan?

  • eko mengatakan:

    Islam memang penuh dengan aturan yang sulit, dari mulai menjalan kan ibadah , aturan makanan dll, sampai aturan mau masuk surga aja sangat sulit….” wajib dan harus melewati jembatan sirottullmustaqim, ( muslim pasti sudah mengerti dan paham ) nah betapa sulit nya..???? sepertinya sangat berbeda dengan sifat ALLAH yang maha kasih. trus apakah ALLAH sengaja mempersulit umat nya???

    • irfan mengatakan:

      Bayangkan seseorang mengendarai motor tanpa helm ngebut menembus lampu kuning yang mau berubah merah. Ketika ada yang mengingatkan, ia berteriak, “SUKA-SUKA GUE DONG! PIKIRIN URUSAN LOE SENDIRI!” Kalau sampai tertabrak, maka kejadian tersebut adalah kecelakaan konyol.

  • wakit mengatakan:

    mantabbbbb islam is all

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apakah Islam Agama yang Menyulitkan? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: