Aksi-Reaksi

Maret 30, 2012 § Tinggalkan komentar

Beberapa hari yang lalu dosen pembimbing saya bercerita tentang kisah salah seorang alumni teknik kimia saat masih mahasiswa. Alkisah, ada seorang mahasiswa yang sering bolos kuliah. Teman-temannya mengatakan bahwa ia menderita ayan. Dosen saya penasaran dan ingin mendengar langsung dari mahasiswa itu. Siapa tau beliau bisa membantu, mungkin begitu pikir dosen saya. Dosen pembimbing saya memang senang membantu.

Setelah lama dipanggil dan tidak kunjung menghadap, mahasiswa tersebut muncul juga. Dari pertemuan itu ketahuan bahwa dia tidak ayan tapi dia punya sejenis penyakit psikosomatis. Kalau ia melihat kumpulan mahasiswa perutnya mulai keram. Katanya, hal tersebut terjadi setelah ia bermasalah dengan seorang dosen.

Mahasiswa itu menjelaskan mengapa setelah lama baru ia menemui dosen pembimbing saya itu. Untuk bisa menemuinya ia “berlatih” cukup lama. Ia mencari jalur yang jarang dilalui mahasiswa. Katanya, kalau ia papasan dengan mahasiswa ia lalu sembunyi sambil menahan sakitnya. Begitu seterusnya sampai ia menemukan jalur yang tepat untuk pergi ke kampus.

Kalau masalahnya bukan ayan, mahasiswa ini masih bisa dibantu pikir dosen saya. Dosen saya menawarkan kepada mahasiswa itu untuk membantu penelitian seorang dosen yang sedang S2. Mahasiswa itu menyanggupi. Mahasiswa itu walau tidak kuliah tapi rajin datang ke lab dosen saya untuk membantu penelitian. Menurut dosen saya, yang mengembalikan kepercayaan dirinya adalah apresiasi dari dosen yang sedang S2 itu atas setiap usulannya. Hal ini karena dosen yang sedang S2 itu sangat pintar menurut mahasiswa itu.

UTS pun dia memohon agar dosen pembimbing saya memintakan izin agar diperkenankan mengerjakan di lab dosen pembimbing saya. Hanya UAS yang diharuskan mengerjakan bersama mahasiswa lain. Dosen-dosen lain pun sampai heran. Ada mahasiswa yang jarang kuliah tapi nilainya bagus-bagus. Menurut dosen saya, mahasiswa tersebut sebenarnya memang pintar, malah terpintar ketiga di teknik kimia. Hanya saja mengalami masalah. Mulai dari sana sedikit demi sedikit penyakitnya sembuh. Sekarang ia menjadi direktur sebuah perusahan.

Bayangkan kalau mahasiswa itu terlanjur menyerah. Dia menjudge dirinya tidak mampu menyelesaikan masalah yang dihadapi. Melarikan diri dari masalah justru akan membuat orang lain menyangka yang tidak-tidak. Kalau pun tidak salah paham tapi melihat orang yang kesulitan itu tidak mau berusaha, orang-orang akan enggan membantu.

Kata dosen saya, ketika masalah kita jalani, meski terasa sulit, bantuan-bantuan yang tidak terduga akan datang. Bantuan tersebut tidak akan datang bila kita tidak mau menghadapi masalah. Masalah selalu datang saat kita menjalani kehidupan, begitu pula dengan solusinya. Namun reaksi hanya ada bagi mereka yang beraksi. Orang-orang mau kok membantu orang yang mau berusaha.

Kalau kata para ustadz, Allah hanya memberi pertolongan kepada hamba-hamba-Nya yang pantas diberi pertolongan.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Aksi-Reaksi at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: