Apakah Jihad Itu Terorisme?

April 6, 2012 § Tinggalkan komentar

oleh Hamza Tzortzis

Kata jihad banyak digunakan olah para politisi, penulis[1] dan media. Penggunaannya kebanyakan, kalau tidak mau dikatakan selalu, diasosiasikan dengan terorisme dan pengeboman.[2] Apalagi pasca peristiwa 9/11, 7/7 dan penyerangan Mumbai, banyak pengamaat Barat yang melabeli aksi tersebut sebagai jihad. Lalu, apa jihad itu terorisme? Apakah jihad itu pengeboman dan membunuh orang yang tidak bersalah? Jawabannya dibutuhkan untuk pertanyaan yang selalu berulang: apa itu jihad?

Artikel ini bertujuan memperlihatkan serangan teroris dan pembunuhan tanpa pandang bulu bertentangan dengan konsep Islam tentang jihad.

Pertikaian: realitas kemanusiaan

Banyak studi antropologi tentang peperangan dan pertikaian, dan kesimpulannya sangat mirip. Tidak hanya manusia berselisih dan saling membunuh selama berabad-abad, namun tindakan tersebut realitas manusia. Alasan pertikaian dan peperangan berbeda-beda. Sebagian karena masalah tanah, popularitas, harta, agama, kemerdekaan, kekayaan alam. Manusia juga berperang untuk mempertahankan diri mereka atau untuk menyerang musuhnya. Intinya, peperangan dan pertikaian fenomena kemanusiaan yang tidak mengenal batas ras, ideologi atau agama.

Pada masa modern banyak terjadi peperangan, dan rata-rata memperebutkan kekayaan alam. Contohnya Amerika dan Inggris yang berperang untuk minyak dan dominasi strategis di Irak dan Afganistan.

Peperangan dan Islam

Islam, sebagai jalan hidup yang praktis (aplikatif, penj), menyadari manusia bertikai dan berperang. Islam menetapkan aturan, yang harus dipatuhi jika umat Islam berperang, misalkan peperangan harus beralasan, tidak boleh membunuh rakyat sipil, tidak boleh membunuh wanita dan anak-anak, tidak boleh membakar sawah dan pohon, hanya memerangi orang yang memerangi dan tidak boleh menghancurkan sesuatu sembarangan.

Abu Bakar, khalifah pertama dan sahabat dekat nabi Muhammad, berkata: ”Berhentilah wahai manusia, aku memberi kalian sepuluh aturan sebagai panduan di medan peperangan. Jangan berkhianat atau menyimpang dari jalan lurus. Jangan memotong-motong mayat. Jangan membunuh anak-anak, perempuan, dan orang tua. Jangan menghancurkan pohon atau membakarnya dengan api, apalagi yang sedang berbuah. Jangan hancurkan ternak musuh, simpan sebagai makanan kalian. Jika berpapasan dengan rahib, biarkan mereka.”

Banyak yang setuju ini berkebalikan dengan negara-negara Barat ketika mereka menginvasi negara lain, mereka cenderung menghancurkan infrastruktur yang mengakibatkan kematian lebih banyak dari jumlah peluru dan bom (bahkan BBC melaporkan ‘smart bom’ (bom pintar) tidak begitu pintar. Hanya sekitar 40% mengenai target.[3] Kematian rakyat sipil pada invasi Amerika/Inggris menjadi bukti). Lalu kontrak diberikan kepada perusahaan Barat untuk membangun kembali infrastruktur, sehingga negara yang diinvasi malah harus membayarnya, Irak contohnya.

Sementara Barat berperang dan menginvasi karena kekayaan alam dan nilai strategis suatu wilayah, dalam Islam peperangan tidak dilakukan untuk alasan ini, tidak untuk merampok, mencuri dan memiskinkan. Sangat berlawanan.

Jihad

Istilah yang biasa digunakan bagi muslim yang berperang adalah jihad, tapi istilah ini sering digunakan secara politis untuk menimbulkan ketakutan Islam dan muslim. Jihad dikaitkan dengan terorisme. Jika teks rujukan Islam diteliti, pengaitan ini jauh dari kebenaran.

Jihad terjadi ketika umat Islam pergi berperang dan peperangan memiliki aturan yang harus dipatuhi. Secara umum, ada dua tipe jihad, defensif dan progresif. Jihad defensif dilakukan ketika umat Islam mengusir penjajah tanah air mereka yang diinvasi. Konsep ini mirip dengan pasal 51 piagam PBB yang menyatakan, ”Tidak ada pada piagam sekarang yang menghalangi hak individu atau kolektif untuk mempertahankan diri ketika serangan bersenjata terjadi.”[4]

Contohnya ketika tentara salib menyerbu Palestina pada abad ke-11/12, dan ketika Mongol menyerang Asia Tengah, Persia, Irak dan Syiria pada abad ke-13. Jihad defensif ini bertujuan mengusir penjajah dan tidak ada kaitannya dengan terorisme, dan kenyataannya hal ini hak dasar manusia.[5]

Jihad Progresif secara praktis dilakukan Negara Islam yang sah (tidak ada negara seperti itu saat ini) dan dimulai dengan tiga alasan utama. Alasannya yaitu menghapus penindasan, membela yang lemah dan menerapkan keadilan Islam. Hal ini terbukti dalam sejarah Islam.

John of Nikiou pada 690 Masehi, yang merupakan seorang Uskup Koptik di Nikiou (Mesir), menyatakan, ”Ketika kaum muslimin melihat permusuhan orang-orang terhadap kaisar Heraklius karena penganiayaan yang terjadi saat ia mendatangi Mesir, orang-orang mulai membantu kaum muslimin.”[6]

Selain itu, penindasan dan segala bentuk pembunuhan masal membenarkan Jihad progresif. Jihad Progresif memiliki tiga tahap. Pertama, mengundang orang menerima Islam dengan menjelaskan aqidah Islam dan apa yang ditawarkan Islam kepada mereka. Hal ini dilakukan dengan dialog dan diskusi, karenanya bisa memakan waktu.

Kedua, Negara Islam kemudian mengajak orang-orang untuk hidup dalam negara Islam dan menikmati kedamaian, keadilan, keamanan dan perlindungan. Secara historis banyak orang-orang non-muslim memilih opsi ini. Ini sebagai imbalan atas pajak tahunan kecil.[7]

Surat yang terkenal dari seorang Rabbi, setelah Eropa menganiaya orang-orang Yahudi, yang ditemukan dalam buku “Constantinople“ karya Phillip Mansel, mencerminkan kenyataan ini, ”Di sini, di tanah orang Turki, kami tidak perlu mengeluh. Kami memiliki kekayaan; emas dan perak di tangan kami. Kami tidak tertindas dengan pajak yang berat dan perdagangan kami gratis dan tanpa hambatan. Kaya dari hasil bumi. Semuanya murah dan setiap orang hidup dalam damai dan kebebasan…”[8]

Ketiga dan tindakan terakhir setelah tahap pertama dan kedua dilaksanakan adalah perang. Perang ini disebut Jihad. Jika terjadi genosida dan penjajahan, jihad mungkin menjadi yang pertama dan satu-satunya tindakan. Ini bagian akhir kebijakan luar negeri yang digunakan Negara Islam, dan seperti yang disebutkan itu memiliki aturan, seperti penghancuran yang sembarangan dan membunuh orang tidak berdosa. Ketika Negara Islam memutuskan berperang, tujuannya bukan untuk uang, tanah, atau kekayaan, tetapi untuk menunjukkan orang-orang keadilan dan keamanan Islam.

Heinrich Graetz, sejarawan Yahudi abad ke-19 mengungkapkan ‘keadaan menguntungkan’ di bawah pemerintahan Islam, ”Orang-orang Yahudi Spanyol di bawah pemerintahan pengikut Muhammad berada dalam keadaan yang menguntungkan, sebagai sekutu yang menempatkan diri mereka sebagaimana agama-agama di Babilonia dan Persia. Mereka diperlakukan ramah, memperoleh kebebasan beragama, setelah begitu lama dirampas. Mereka diizinkan melaksanakan hak atas agama mereka…”[9]

Ini tidak seperti beberapa negara Barat, di mana para Politikusnya mengklaim mereka berjuang untuk apa yang disebut sebagai nilai-nilai universal, namun dalam kenyataannya berjuang untuk bidang sumber daya dan nilai strategis.

Sebagai contoh David Milliband, Menteri Luar Negeri Inggris, mengatakan, ”Partai kita diciptakan untuk memperjuangkan demokrasi dan persamaan hak di negara kita sendiri. Kita tahu jalan kita masih panjang. Tetapi jika ingin melindungi diri dari terorisme di negara kita sendiri, kita perlu mempertahankan dan memajukan demokrasi dan HAM di luar negeri.”[10]

Kalau melihat realitas invasi Irak dan Afghanistan, pernyataan tersebut jauh dari kebenaran.

Di sisi lain, kebijakan luar negeri Islam tujuannya tulus dan sejarah telah membuktikannya. Inilah sebabnya mengapa orang-orang Yahudi melarikan diri dari Spanyol ketika Inkuisisi dan berlari ke Istanbul yang menyambut mereka, karena mereka mengetahui keadilan di wilayah-wilayah Islam.

Zion Zohar, Sejarawan Yahudi, mengungkapkan sentimen yang sama dalam bukunya ‘Sephardic & Mizrahi Jewry‘: ”Jadi, ketika umat Islam menyeberangi Selat Gibraltar dari Afrika Utara di 711 CE dan menyerbu Semenanjung Iberia, Yahudi menyambut mereka sebagai pembebas dari penganiayaan kristen.”[11]

Jihad dilihat masyarakat dan bangsa Barat sebagai tindakan barbar. Hal ini disebarkan ke masyarakat oleh para politisi dan media, untuk menggambarkan kaum muslimin sebagai pembunuh haus darah.

Negara Islam berkomitmen melaksanakan Jihad Progresif, namun hanya menggunakannya sebagai jalan terakhir –ketika diplomasi gagal– untuk benar-benar membebaskan rakyat dari penindasan. Selain ditujukan untuk menghilangkan tirani ketidakadilan, jihad bertujuan menunjukkan Islam yang sebenarnya dan bagaimana Islam benar-benar dapat membuat mereka dan masyarakat hidup menjadi lebih baik, walaupun mereka tidak menjadi Muslim.

Aqidah Islam tidak dipaksakan setelah tanah dikuasai, sejarah 1400 tahun menjadi bukti[12]. Hal ini dapat dilihat dari kesaksian pemimpin Kristen. Ishoyabth, salah seorang pemimpin kristen dari 647-657 AD, menulis, ”Orang-orang Arab, yang tuhan telah memberikan kuasa atas dunia, berperilaku kepada kita seperti yang Anda tahu. Mereka tidak memusuhi Kristen, tapi menghargai agama kita, menghormati imam dan orang-orang kudus, dan membantu Gereja-gereja.”[13]

Al Qur’an & Peperangan

Al Qur’an membahas perang dan Jihad. Bahasa yang digunakan emosional dan terlihat agresif. Hal ini karena pengaruh yang diinginkan ayat-ayat Al Qur’an ini bertujuan mendorong tindakan. Karenanya dalam konteks pertempuran dan perang, Al Qur’an tidak mengatakan, “Kelitik jari-jari kaki mereka” atau “Beri mereka bunga”.

Harus disadari, perintah ini ditulis dalam ungkapan seperti, “…sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” dan “…ingatlah Allah”[14]. Dengan demikian perintah ini menanamkan kesadaran akan Tuhan dalam setiap tindakan dan mengingatkan esensi Jihad yaitu menghilangkan penindasan.

Dalam Al Qur’an, Jihad sebuah konsep mulia dianggap sebagai rahmat Allah. Tanpa itu tidak ada mekanisme melindungi Muslim dan Non-Muslim, menghapus penindasan dan menerapkan keadilan. Dalam kenyataan hari ini kematian dan kehancuran, dikarenakan kebijakan luar negeri Barat yang menindas, beberapa kelompok berpendapat konsep ini harus dihidupkan kembali saat ini[15].

Hasil Jihad

Pernyataan U. S. Brig. Jendral William Looney berikut mendeskripsikan dengan tepat kebijakan luar negeri Barat, ”Jika mereka terdeteksi radar, kami meledakkan SAM (Surface-to-Air Missiles) sialan mereka. Mereka tahu kami memiliki negara mereka. Kami memiliki wilayah udara mereka… Kami menentukan cara mereka hidup dan berbicara. Dan itulah apa yang baik tentang Amerika sekarang. Ini hal baik, terutama ketika ada banyak minyak di luar sana yang kami butuhkan.”[16]

Sedangkan pandangan Islam menggambarkan paradigma berbeda, ”Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang semuanya berdoa: ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!’.”[17]

Semua orang ingin menghapus penindasan dan ketidakadilan. Islam melakukannya melalui jihad dan ini dapat dilihat dalam sejarah Islam. Negara Islam palsu saat ini tidak dapat digunakan sebagai rujukan untuk Jihad dan Islam karena mereka tidak melaksanakan dan mewujudkan sistem Islam. Hal ini terbukti ketika konstitusi mereka dianalisis. Yang dapat disimpulkan, Pemerintah dunia Islam saat ini menerapkan dan mempromosikan sistem yang bertentangan dengan Islam.

Apa hasil kebijakan luar negeri Islam?

Reinhart Dozy, seorang ahli sejarah Spanyol Islam awal, menjelaskan hasil Jihad di Spanyol Islam, ”…Toleransi tak terbatas orang-orang Arab juga harus diperhitungkan. Dalam urusan agama mereka tidak memberikan tekanan. orang-orang Kristen lebih suka aturan mereka daripada kaum Frank.”[18]

Thomas Arnold, ketika mengomentari sumber Islam, menyatakan, ”…Orang-orang Kristen memberkati kepala kaum muslimin, mereka berkata, ‘Semoga Tuhan memberikan kamu memerintah atas kami lagi dan membuat Anda menang atas Roma; kalau saja romawi menang, mereka tidak memberikan kami apa-apa, tapi mengambil semua yang tersisa dari kami.’”[19]

Ulick R. Burke, seorang sejarawan terkemuka yang mengkhususkan diri dalam sejarah Spanyol, mencapai kesimpulan serupa, ”Orang-orang Kristen tidak dibuat menderita dengan cara apapun, dengan agama mereka, di tangan orang Moor… tidak hanya toleransi yang sempurna tetapi kesetaraan merupakan aturan orang-orang Arab di Spanyol.”[20]

Adam Smith, pendiri kapitalisme modern abad ke-18, menjelaskan pengaruh aturan Islam, ”Kehancuran kerajaan romawi, dan, pada saat yang bersamaan dengannya, pembangkangan semua hukum dan perintah, yang terjadi pada beberapa abad setelahnya, menghasilkan pengabaian total pada studi prinsip-prinsip keterhubungan alam, di mana hanya waktu senggang dan kesejahteraanlah yang dapat memberikan kesempatan padanya (studi tersebut). Setelah kejatuhan penakluk besar dan sekelompok manusia berperadaban itu, imperium kekhalifahan tampaknya menjadi negara pertama yang di bawahnya dunia menikmati tingkat ketenangan yang dibutuhkan untuk perkembangan ilmu pengetahuan. Di bawah perlindungan sultan-sultan yang dermawan dan luar biasa, filosofi kuno dan astronomi orang-orang Yunani diselamatkan dan dibangun di Timur; ketenangan ini—dimana pemerintahan yang nyaman, adil, dan religious menyebarkan kekuasaannya yang luas—memulihkan kembali kepenasaranan manusia dan menginvestigasi prinsip-prinsip keterhubungan alam.” [21]

Bernard the Wise, seorang rahib peziarah, mengunjungi Mesir dan Palestina pada masa pemerintahan Khalifah al-Mu’tazz (866-9 M). Dia menyatakan, ”…Orang-orang Kristen dan orang pagan (contohnya Muslim) di antara mereka memiliki jenis perdamaian ini. Jika saya mengadakan perjalanan, dan dalam perjalanan unta atau keledai yang menanggung barang-barang itu mati, sehingga aku harus meninggalkan semua barang-barang saya tanpa penjaga, dan pergi ke kota untuk membeli hewan pengangkut lain, ketika aku kembali, aku mendapati semua barang saya aman: begitulah perdamaian di sana.”[22]

Membaca penjelasan di atas, pembaca harus bertanya, “Apakah ini terdengar seperti terorisme?”

Penyebab Terorisme

Sejarah terorisme dan kekerasan politik menunjukkan hal ini fenomena lintas-budaya, lintas-agama dan didorong banyak faktor. Hal ini sering lahir dari rasa ketidakadilan politik, pendudukan atau invasi. Sebuah studi akademis Profesor Robert Pape, seorang Associate Professor Universitas Chicago, yang diterbitkan dalam bukunya ‘Dying to Win: The Logic of Suicide Terrorism‘[23], menunjukkan gejala bom bunuh diri tidak khusus dilakukan umat Islam, tetapi lebih merupakan masalah umum manusia yang didorong sejumlah faktor politik daripada kepercayaan teologis.

Studi ini memuat database terlengkap setiap serangan bunuh diri di seluruh dunia dari tahun 1980 hingga awal 2004. Studi ini menemukan:

  • Yang terbanyak melakukan serangan bunuh diri di dunia yaitu Macan Tamil Sri Lanka – Marxis, kelompok sekuler.
  • Dua pertiga Muslim yang melakukan bom bunuh diri merupakan negara-negara di mana pasukan Amerika pernah ke sana atau masih mempertahankan kekuatan militer.
  • Kehadiran pasukan AS menciptakan pembom bunuh diri di Irak. Negara yang sebelum invasi amerika tahun 2003 tidak pernah terjadi bom bunuh diri sepanjang sejarah.

Menurut penelitian, ketidakadilan politik memberikan alasan para pendukung serangan tersebut membenarkan tindakan seperti itu. Karena itu, penting agar tindak kekerasan politik dianalisis sebagai isu yang terpisah berdasarkan individu yang memilih untuk terlibat di dalamnya.

Profesor tersebut menyatakan, ”Data menunjukkan ada sedikit hubungan antara terorisme bunuh diri dan fundamentalisme Islam, atau salah satu dari agama-agama dunia… Sebaliknya, hampir semua serangan teroris bunuh diri mempunyai kesamaan tujuan sekuler dan strategis tertentu: memaksa negara demokrasi modern menarik pasukan militer dari wilayah teroris yang dianggap sebagai tanah air mereka”[24]

Mengenai pemboman bulan Juli 2005 di London, pemerintah Inggris telah diperingatkan tentang keterlibatannya dalam invasi US ke Irak meningkatkan kerentanan Inggris akan ancaman balasan. Laporan yang bocor dari Joint Terrorism Analysis Centre (JTAC) Inggris, yang disampaikan sebelum serangan, memperingatkan: ”Kegiatan di Irak terus memicu motivasi dan fokus berbagai aktivitas terkait teroris di Inggris”.

Pada April 2005, sebuah laporan yang disusun Joint Intelligence Committee (JIC) yang berjudul “Terorisme International: Pengaruh Irak” bahkan lebih tersurat, menyatakan: ”Kami menilai konflik di Irak memperburuk ancaman terorisme internasional dan memiliki dampak jangka panjang. Hal ini membulatkan tekad teroris yang berkomitmen menyerang Barat dan memotivasi orang lain yang bukan teroris.”

Sangat penting memahami peran kebijakan luar negeri negara-negara Barat memperparah rasa ketidakadilan politik dan dalam mendorong individu melakukan tindakan kekerasan politik terhadap orang-orang yang mereka anggap sebagai agresor. Ini bukan pembenaran, tetapi menetapkan konteks diskusi untuk menemukan jawaban atas masalah-masalah politik kontemporer.

Alih-alih menyalahkan seluruh masyarakat atau mengarahkan telunjuk ke Islam dan konsep jihad, penting memahami sifat politik faktor-faktor pendorong tindakan tersebut dibanding hanya menghubungkannya dengan Jihad, yang tidak memperhitungkan sejarah kekerasan politik yang melampaui seluruh budaya, agama dan cara hidup.

Catatan akhir

Harus dicatat, Muslim hanyalah manusia yang meyakini Islam merupakan cara hidup komprehensif yang bertujuan mempromosikan toleransi beragama dan kohesi sosial. Konsep Islam tentang Jihad bukanlah terorisme, melainkan merupakan mekanisme yang bertujuan menghapus penindasan dan melindungi yang tidak bersalah. Sejalan dengan ajaran-ajaran Islam klasik, umat Islam tidak akan -dan tidak boleh- menyerang warga sipil.

Kaum muslimin ingin memfasilitasi saling pengertian dan mempromosikan hidup berdampingan secara damai. Namun ini tidak dapat dicapai tanpa mengadakan diskusi terbuka dan jujur mengenai apa arti Islam sesungguhnya. Tuduhan usang ‘mujahidin teroris’ tidak dapat lagi memuaskan dahaga intelektual masyarakat dan diskusi yang lebih bernuansa dan komprehensif kini diperlukan.

Semoga artikel ini mencapai tujuan tersebut.[]

Rujukan

[1] http://www.amazon.com/Jihad-Incorporated-Guide-Militant-Islam/dp/1591024536/

[2] http://www.spectator.co.uk/melaniephillips/597641/jihad-with-money.thtml

[3] http://news.bbc.co.uk/1/hi/world/middle_east/1184086.stm

[4] http://www.un.org/aboutun/charter/chapter7.htm

[5] Hal ini berbeda dari gambaran banyak komentator tentang ‘kekerasan politik’, mengakses silahkan link berikut tentang perbedaan antara kekerasan teologi dan kekerasan politik http://hamzatzortzis.blogspot.com/2008/07/questions-is-islam-responsible-for.html

[6] John of Nikiou, quoted by Petra M. Sijpesteijn, Egypt in the Byzantine World, Cambridge, 2007, P. 442.

[7]”Life as a Non-Muslim in the Caliphate”http://www.caliphate.co.uk/caliphate/nonmuslims.htm

[8] Philip Mansel. 1995. Constantinople : City of the World’s desire, 1453-1924. Penguin Books, p. 15

[9] H. Graetz, History of the Jews, London , 1892, Vol 3, P. 112.

[10] http://www.epolitix.com/latestnews/article-detail/newsarticle/david-miliband-speech-in-full/

[11] Zion Zohar, Sephardic & Mizrahi Jewry, New York, 2005, P. 8-9.

[12]“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” al Qur’an 2:256

[13] Caliph and their non-Muslim subjects: A critical study of the covenant of Umar. A. S. Tritton. Routledge Library Editions: Islam. 2008, p. 138-139

[14] Perintah-perintah tersebut biasanya diungkapkan dalam bahasa pencegahan, dengan begitu banyak perulangan akan peringatan, seperti “jangan melampaui batas” dan “Tuhan tidak mencintai orang-orang yang melampaui batas (berlebih-lebihan)”. Terdapat sejumlah perintah yang ditujukan pada manusia,sedari awal, untuk memiliki keinginan berbuat “di jalan Tuhan”. Secara linguistik, kita dapat memperhatikan bahwa versi-versi pada kutipan ini selalu melarang perbuatan menurut hukum, yang menyeru secara tegas kepada suara hati nurani kaum muslim. Dalam 6 versi (Al Qur’an 2:190-5) kita dapat temui empat larangan (jangan), enam batasan: dua “hingga”, dua “jika”, dua “siapa yang menyerangmu”, dan demikian halnya kewaspadaan (sikap hati-hati) seperti kata “di jalan Tuhan”, “sadar atas Tuhan”, “Tuhan tidak menyukai orang yang berlebih-lebihan”, “Tuhan bersama orang-orang yang sadar pada-Nya”, “bersama mereka yang beramal shalih”, dan “Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. Harus kita perhatikan bahwa di dalam AlQur’an, dalam memperlakukan tema perang, sebagaimana banyak tema yang lainnya, biasanya diberikan alasan-alasan dan justifikasi (pembenaran) mengenai kondisi-kondisi tertentu yang dibutuhkan. http://www.islamicity.com/articles/Articles.asp?ref=IV0603-2947

[15] komentar tambahan Observer, ”Imperialisme mungkin berakhir, tapi perang agresif dan protektorat kolonial justru kembali.”http://observer.guardian.co.uk/worldview/story/0,,684308,00.html

[16] U.S. Brig. General William Looney (wawancara Washington Post, August 30, 1999) merujuk pada kenyataannya, pembunuhan masal yang brutal atas ribuan rakyat sipil iraq baik laki-laki perempuan dan anak kecil mencapai 10000 dilakukan penjahat perang amerika/inggris delapan bulan pertama tahun 1999.

[17] Qur’an 4:75

[18] Reinhart Dozy, A History of Muslims in Spain , 1861 (reprinted 1913, 2002), Delhi , P.235.

[19] T. W. Arnold , Preaching of Islam, London , 1913, P. 61.

[20] Ulick R. Burke, A History of Spain , London , 1900, Vol I, P. 129.

[21] The Essays of Adam Smith, London , 1869, P. 353.

[22] Christopher J. Walker, Islam and the West, Gloucester , 2005, P. 17.

[23]http://en.wikipedia.org/wiki/Dying_to_Win:_The_Strategic_Logic_of_Suicide_Terrorism

[24] Ibid

diterjemahkan dari: http://hamzatzortzis.blogspot.com/2008/12/911-77-madrid-bombing-mumbai-attacks-is.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apakah Jihad Itu Terorisme? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: