Apakah Islam Agama Rasional?

April 30, 2012 § Tinggalkan komentar

Ada berbagai macam pendekatan terhadap Islam. Salah satunya adalah pendekatan rasional. Pendekatan ini adalah salah satu pendekatan yang universal. Tentu saja karena fitrahnya setiap manusia memiliki akal untuk berpikir. Meski seseorang awalnya menerima islam dengan jalur lain, suatu saat ia akan menanyakan secara rasional, mengapa saya shalat misalnya.

Rasional menurut Kamus Bahasa Indonesia artinya “menurut pikiran dan pertimbangan dengan alasan yang logis; menurut pikiran yang sehat; cocok dengan akal; sesuai dengan akal sehat”. Atau sederhananya rasional itu “logis” atau “masuk akal” menurut Tesaurus Bahasa Indonesia.

Setidaknya ada dua konsep yang dimaksud dengan Islam sebagai agama yang rasional. Pertama, konsep yang biasa beredar di masyarakat. Menurut pengertian ini, yang dimaksud Islam agama rasional adalah Islam memiliki pembenaran “rasional” atas aturan-aturannya bahkan aqidahnya. Yang kedua, Islam merupakan agama yang rasional karena dasar-dasarnya dibangun atas “hujjah-hujjah” yang dapat dibuktikan secara rasional.

Konsep pertama
Secara sederhana, yang dimaksud pembenaran “rasional” adalah ada manfaatnya. Aturan yang ada dalam Islam pasti mengandung manfaat. Dengan konsep ini, ramailah orang mencari-cari apa manfaat dari suatu perintah atau larangan Allah. Fenomena dari pendapat ini bisa kita lihat dari ramainya buku tentang manfaat shalat, wudhu, shaum ditinjau dari berbagai segi seperti kesehatan atau psikologis.

Orang yang memegang konsep pertama ini berpendapat bahwa pada masa lalu ilmu pengetahuan belum berkembang sehingga orang-orang tidak perlu dijelaskan manfaat-manfaatnya. Sedangkan di zaman sekarang orang-orang tidak akan menerima Islam bila tidak dijelaskan manfaat-manfaatnya, khususnya secara ilmiah.

Zakir Naik dalam bukunya “Answers to Non Muslims’ Common Questions About Islam” selain menyampaikan larangan Allah dalam al Qur’an juga menjelaskan panjang lebar mengenai keburukan dari alkohol. Zakir, yang merupakan seorang dokter, menjelaskan 19 penyakit yang biasa diderita pecandu alkohol. Beliau juga menjelaskan adanya keterkaitan antara mabuk dengan tindak kejahatan seperti perzinaan, pemerkosaan, inses bahkan AIDS.

Islam tidak melarang kita mencari tahu apa manfaat suatu aturan. Islam juga tidak melarang kita mencari korelasi antara suatu aturan dengan penyelesaian suatu permasalahan. Dalam bahasa ushul fiqih, kedua hal ini disebut sebagai hikmah. Bila disikapi sebagai hikmah tentu menambah keimanan kita kepada Allah. Hanya saja kedua hal itu bukan alasan adanya aturan itu. Bahkan kita tidak akan pernah tahu alasan Allah memerintahkan suatu hal kecuali Allah memberitahukan alasannya kepada kita.

Jika tidak disikapi seperti di atas cara seperti ini malah bisa jadi blunder karena tidak semua hal bisa kita cari-cari manfaatnya. Lebih dari manfaat yang dikemukakan seringkali subjektif dan kondisional. Misalkan masa iddah perempuan. Islam menetapkan masa iddah perempuan salah satunya adalah tiga bulan. Hikmah iddah ini adalah untuk membedakan ayah kandung bayi yang lahir sembilan bulan setelah pernikahan baru. Bila hikmah tersebut adalah alasan, tentu kehadiran teknologi bisa mengurangi waktu iddah tersebut. Waktu iddah hanya tinggal butuh waktu lima menit.

Kekhawatiran ini terbukti. Sudah ada upaya “rasionalisasi” terhadap aqidah dan syariah yang tidak diterima pembenaran “rasional”nya. Keyakinan dan aturan yang tidak ada manfaatnya dan tidak sesuai dengan modernitas, maksudnya bertentangan dengan HAM dan Demokrasi, harus dibuang.

Homoseksual yang secara qath’i diharamkan dalam al Qur’an sekarang bisa dilegalkan, bahkan perlu dinikahkan. Sumanto al Qurtuby dalam buku “Jihad Melawan Ekstremis Agama Membangkitkan Islam Progresif” misalnya. Menurut Sumanto, “Konsep perkawinan dalam suatu ikatan “sakral” bukan melulu untuk mereproduksi keturunan melainkan juga untuk mewujudkan keluarga sakinah (ketentraman kebahagiaan). Maka, dalam bingkai untuk mewujudkan keluarga sakinah ini seorang gay atau lesbian harus menikahi sesama jenis. Justru malapetaka yang terjadi jika kaum gay-lesbian dipaksa kawin dengan lain jenis.”

Bahkan aqidah Islam yang dianggap tidak bermanfaat dibuang. Contohnya Harun Nasution yang berpendapat rukun iman keenam perlu dihapus. Menurutnya keimanan kepada qadha danqadar harus dibuang karena membuat umat Islam jadi lesu dan tidak bergairah sehingga akhirnya menjadi bangsa yang terbelakang. Menurut harun, paham muktazilah –pengikutnya kini lebih suka disebut rasionalis– cocok dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, sedangkan paham ahlu sunnah dianggap tidak cocok dengan kemajuan iptek karena dinilai bersikap jabari (serba kehendak tuhan). Harun sepertinya lupa bahwa masa jaya muktazilah hanya 20 tahun sedangkan masa gemilang umat Islam itu mencapai ratusan tahun sembari memegang teguh qada dan qadar.

Sikap seperti ini malah menghancurkan bangunan Islam. Setiap ajaran Islam bisa ditinggalkan karena dianggap tidak bermanfaat. Bahkan shalat bisa saja ditinggalkan dengan alasan sudah tidak mengerjakan perbuatan fahsya dan munkar. Atau seperti pendapat Luthfi Asysyaukani, seorang pentolan JIL, pernah menulis di Kompas (3/9/2005), bahwa seorang muslim bisa merasa dekat dengan Allah tanpa melalui shalat karena bisa diganti dengan meditasi. Padahal apalah namanya Islam tanpa shalat.

Konsep kedua
Hujjah yang rasional maksudnya otentisitas dan otoritas sumber agama dapat dibuktikan validitasnya. Sumber agama di sini yaitu al Qur’an dan as sunnah. Membuktikan otentisitas maksudnya kita harus membuktikan bahwa al Qur’an dan as sunnah sekarang masih sama dengan saat masa turun dan keluarnya. Sedangkan membuktikan otoritasnya maksudnya kita harus bisa membuktikan bahwa keduanya punya adalah wahyu tuhan. Sikap membuktikan otentisitas dan otoritas sumber adalah sikap yang rasional.

Ketika kedua sumber tersebut sah otentisitas dan otoritasnya, maka sikap menerima apapun isi kedua sumber agama tersebut bisa disebut sikap yang rasional pula. Malah lebih dari itu mempertanyakan manfaat isi dari kedua sumber itu dengan maksud ingin menghapusnya justru merupakan sikap yang tidak rasional. Sebab sikap tersebut artinya menolak wahyu tuhan yang juga bisa bermakna menentang tuhan.

Dengan konsep ini, hal-hal yang kadang dianggap irasional sebenarnya rasional secara logika. Misalnya kisah terbakarnya nabi Ibrahim. Orang-orang yang salah dalam memegang konsep pertama berupa mencari ta’wil apa maksudnya nabi Ibrahim terbakar. Bagi mereka kepercayaan bahwa nabi Ibrahim dibakar itu irasional karena mustahil manusia yang dibakar masih bisa hidup.

Sedangkan bagi yang memegang konsep kedua, yang diperlukan hanyalah mengecek apakah cerita ini berasal dari sumber yang otentik dan punya otoritas. Bila ya, tentu harus dipercaya. Bila ditinjau lebih dalam, sikap kedua ini malah lebih rasional. Bukankah menolak selamatnya nabi Ibrahim setelah dibakar malah mengecilkan kemahakuasaan tuhan?

Taqiyuddin an Nabhani menulis “Iman seperti ini, walaupun diperoleh dengan jalan ‘mengutip’ (naql) dan ‘mendengar’ (sama’), akan tetapi pada hakekatnya merupakan iman yang aqli (rasional, pen) juga. Sebab, dasarnya (al Qur’an atau as sunnah, pen) telah dibuktikan oleh akal.”

Penutup
Banyak orang yang yakin antara rasionalitas dan iman berjalan besebrangan. Pendapat seperti itu mungkin benar untuk sebagian agama, tetapi tidak untuk Islam. Dan tentu saja bila kita memahaminya rasionalitas Islam ini dengan konsep kedua. Di sisi lain, tidak ada salahnya menggunakan akal kita untuk mencari manfaat dari suatu peraturan asalkan dipandang sebagai hikmah bukan sebab.[]

Referensi:
“Jihad Melawan Ekstremis Agama Membangkitkan Islam Progresif”, Sumanto al Qurtuby
“Mereka bertanya Islam Menjawab”, Zakir Naik dkk
“Pembaruan Islam & Orientalisme dalam Sorotan”, Daud Rasyid
“Peraturan Hidup dalam Islam”, Taqiyuddin an Nabhani
“Virus liberalisme di Perguruan Tinggi Islam”, Adian Husaini

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apakah Islam Agama Rasional? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: