Apakah Muhammad Layak Menjadi Nabi?

Mei 12, 2012 § Tinggalkan komentar

Upaya memburukkan citra nabi Muhammad sudah berlangsung sejak beliau menyampaikan dakwah secara terang-terangan. Kaum musyrik Quraisy saat itu berupaya agar penduduk Makkah tidak mau mendengar apalagi percaya kepada perkataan Muhammad. Tercetuslah ide untuk mengatakan Muhammad seorang penyihir, ada pula yang mengatakan nabi Muhammad orang gila. Mereka pun mewanti-wanti keluarganya agar tidak dekat-dekat dengan Muhammad karena Muhammad akan membuat hubungan keluarga menjadi retak. Orang tua dan anak, suami dan istri akan berpisah.

Upaya memburukkan citra Muhammad terus berlanjut dengan tujuan yang sama. Kini, upaya memburukkan citra nabi Muhammad merambah dunia maya. Saya menemukan beberapa buku elektronik di internet yang menjelek-jelekkan nabi Muhammad. Salah satu buku tersebut yang berjudul “Mengenal Muhammad: Sebuah Psikobiografi dari Nabi Allah” menyebut nabi Muhammad sebagai perampok, pembantai masal, gangster penggarong, pedofil, pembunuh, haus wanita, dll. Dengan klaim-klaim tersebut penulisnya, Ali Sina, menganggap bahwa Muhammad tidak layak menjadi nabi. Klaim Muhammad sebagai nabi adalah upaya melegitimasi segala tindak tanduknya.

Ali Sina adalah pendiri situs faithfreedom.org. Jika anda tidak familiar dengan situs ini, mungkin anda ingat kasus kartun nabi yang disebarkan lewat blog-blog. Yang saya tahu kartun nabi itu diterjemahkan oleh tim situs FaithFreedom Indonesia. Mereka juga menerjemahkan materi-materi anti Islam lainnya, termasuk buku ini.

Antara sejarah dan persepsi sejarah
Klaim-klaim ini memang didasarkan pada peristiwa sejarah tertentu. Perampok karena nabi Muhammad mengambil ghanimah dari peperangan. Pembantai karena nabi Muhammad pernah memerintahkan untuk membunuh seluruh pria dewasa suku Yahudi Bani Quraizah. Phedopili karena menikahi Aisyah yang menurut istilah saat ini masih di bawah umur. Gila seks karena menikahi 11 perempuan, dengan 9 di antaranya pada satu waktu.

Pada dasarnya peristiwa-peristwa tersebut memiliki latar belakang dan penjelasannya masing-masing. Namun saya tidak akan terlalu larut berapologetika dengan sejarah dan persepsi sejarah. Sejarah Islam yang sahih tentu bisa diterima. Namun perlu kita catat, sejarah pada dasarnya memiliki sifat netral. Yang jadi masalah adalah persepsi sejarah yang sangat bergantung ada siapa yang mempersepsikannya.

Dalam memahami sejarah kita harus mampu membedakan antara fakta sejarah dan interpretasi sejarah. Interpretasi sejarah bisa ditarik kesana kemari, menjadi indah dan menarik atau buruk dan memuakkan, tergantung asumsi awal yang diinginkan pembaca sejarah. Dengan asumsi awal masing-masing setiap kelompok akan mencari pembenaran terhadap interpretasi sejarah yang mereka inginkan.

Dengan persepsi sejarah yang suudzan, para musuh Islam bisa menyimpulkan bahwa seluruh kehidupan nabi Muhammad itu salah dan jelek. Begitu pula sebaliknya, umat Islam dengan persepsi sejarah yang husnudzan akan mudah menerima penjelasan di balik semua peristiwa tersebut. Hal ini sesuai dengan istilah “sejarah dibaca sesuai keinginan pembacanya”.

Saya akan memberikan sedikit contoh penjelasan sederhana tentang klaim-klaim suudzan di atas:

Tentang perampok, apakah nabi Muhammad merampas harta penduduk? Tidak, harta yang beliau ambil adalah harta yang dibawa ke medan perang. Hal ini lumrah dalam setiap peperangan. Apakah tentara yang kalah perang membawa pulang senjata dan harta yang ia bawa? Lagi pula jika yang diinginkan adalah kekayaan, Muhammad tidak perlu jadi nabi. Para sahabat tidak perlu masuk Islam. Mereka sudah kaya sebelum masuk Islam. Mereka justru meninggalkan harta mereka ketika berhijrah ke madinah.

Tentang gila seks, jika memang nabi Muhammad gila seks dia bisa melakukannya sebelum dia diangkat menjadi nabi tetapi sepanjang usianya sampai Khadijah wafat beliau hanya punya satu istri. Lalu tentu nabi Muhammad akan memilih wanita-wanita muda untuk ia nikahi, kenyataannya beberapa di antaranya janda. Tentang pedofil, bisa dijawab dengan jika nabi Muhammad pedofil seharusnya kesebelas perempuan yang dia nikahi berusia dini, nyatanya hanya Aisyah. Sekali lagi tidak masuk akal, bila hasrat seksual yang tinggi mendorong Muhammad mengklaim dirinya sebagai nabi. Saat itu beristri banyak atau menikahi perempuan di bawah umur adalah hal yang lumrah.

Tentang pembantai, apakah nabi Muhammad selalu membantai setiap suku yahudi? Tidak. Suku tersebut dihukum karena telah berkali-kali berkhianat dengan pengkhianatan yang sangat berbahaya bagi eksistensi umat dan negara Islam yang baru berdiri.

Bila kita teliti, demi kesimpulan akhir Muhammad adalah seorang penjahat, mereka sering kali menggunakan hadits yang dhaif daripada hadits yang sudah jelas keshahihannya. Contoh kasus mengenai pernikahan Muhammad dengan Zainab. Ali sina mengatakan Muhammad tertarik dengan Zainab karena tidak sengaja melihat pakaian Zainab yang tersingkap. Hadits ini banyak menerima kritikan dan disebut sebagai hadits dhaif. Dan agaknya sulit menerima kesimpulan nabi Muhammad baru menyadari kecantikan Zainab, padahal mereka berdua tumbuh bersama. Zainab adalah anak bibi nabi Muhammad.

Cerita ini ditampilkan dalam buku tersebut, namun demi kesimpulan bahwa nabi Muhammad adalah maniak seks, Ali Sina tidak menampilkan hadits-hadits sahih seputar pernikahan Zaid dengan Zainab. Fakta pernikahan Zaid dan Zainab diinisiasi oleh Muhammad, fakta bahwa pernikahan mereka berdua tidak harmonis, dan fakta bahwa Zaid berulang kali meminta izin bercerai yang selalu nabi Muhammad tolak tidak ditampilkan.

Bila sudah benci memang sulit menerima kenyataan. Setidaknya seharusnya semua riwayat dikumpulkan lalu diambil kesimpulan. Tidak boleh mengambil kesimpulan dari suatu hadits tanpa mempertimbangkan hadits lain. Apalagi hadits tersebut sudah terbukti dhaif. Montgomery Watt, seorang uskup sekaligus ahli biografi kontemporer tentang Muhammad, mengatakan: “Tidak ada tokoh besar sejarah yang mendapat apresiasi sedemikian menyedihkan kecuali Muhammad. Sebagian besar penulis Barat cenderung mempercayai yang terburuk tentang Muhammad, dan jika interpretasi yang tak menyenangkan, namun kelihatan masuk akal, mereka cenderung menerimanya sebagai fakta”.

Standar penilaian
Pada dasarnya, kita tidak dapat menilai sejarah hidup nabi Muhammad. Standar apakah yang akan kita gunakan? Fakta bahwa sejarah merupakan sesuatu yang netral membuat Ali Sina harus memberikan standar untuk untuk menilai sejarah hidup nabi Muhammad. Standar itu namanya Golden Rule. Inti dari golden rule ini adalah perlakukan orang lain sebagaimana kita ingin diperlakukan. Golden Rule ini menyerahkan penilaian baik dan buruk kepada pertimbangan manusia semata. Padahal manusia sejatinya tidak bisa menentukan baik dan buruk.

Jika kita dalami setiap orang memiliki penilaian yang tidak sama terhadap baik dan buruk. Hal ini karena ketika manusia memberi penilaian baik dan buruk, pastilah dasar penilaian tersebut adalah masalah suka tidak suka terhadap sesuatu. Sedangkan tiap orang memiliki penilaian suka tidak suka yang berbeda satu sama lainnya. Karena itu, setiap tempat, suku, dan bangsa memiliki nilai moral, etika dan logika masing-masing yang berbeda satu sama lainnya.

Di antara perbedaan penilaian terhadap baik dan buruk itu, Tuhan mengutus nabi untuk membawa pendapat Tuhan tentang baik dan buruk. Landasan baik dan buruk juga bukan suka tidak suka manusia. Melainkan suka tidak suka Tuhan. Karena itu, sejarah hidup nabi Muhammad bukanlah untuk kita nilai baik dan buruk. Justru sebaliknya sejarah hidup nabi Muhammad haruslah dijadikan standar nilai untuk kita.

Dalam buku tersebut Ali Sina telah sebenarnya menyinggung salah satu bantahan terhadap Golden Rulenya, yaitu bahwa nabi Muhammad justru membawa nilai baru yang berbeda dengan nilai kebanyakan orang. Sayangnya dalam buku tersebut Ali Sina tidak membantah kembali jawaban ini. Ia hanya mengomentari bantahan ini dengan mengatakan Islam tidak menganggap ada nilai moral, etika, dan logika.

Sejarah hidup nabi Muhammad sebagai rujukan fiqih
Sebagai standar nilai baru dan berbeda, sejarah hidup nabi Muhammad yang berupa perkataan, perbuatan dan diamnya justru menjadi rujukan fikih umatnya. Sebagai contoh kasus pernikahannya dengan Aisyah. Ketika menemukan sejarah ini, seorang muslim tidak lantas latah mengatakan nabi Muhammad adalah seorang pedofil. Yang pertama ia lakukan adalah meneliti hadits yang mengatakan hal tersebut.

Bila hadits itu dhaif, artinya tidak dapat dipercaya dan sikap seorang muslim adalah meninggalkannya. Sedangkan bila sahih harus kita jadikan sebagai rujukan fikih. Saya menemukan ada yang mendhaifkan ada pula yang menshahihkan hadits tersebut. Saya tidak akan ikut perdebatan tersebut. Yang pasti, kita tidak boleh menolak matan (isi) suatu hadits yang kita rasa bertentangan dengan kebiasaan kita bila terbukti hadits tersebut sahih.

Penutup
Kembali pertanyaan awal kita, apakah Muhammad layak menjadi nabi? Tentu saja layak. Beliau adalah manusia yang dipilih oleh Allah. Kita mungkin menemukan ada tingkah laku atau ajaran nabi Muhammad yang bertentangan dengan nilai-nilai kekinian, tapi hal tersebut tidak bisa menjadi ukuran. Hal yang membuat kita yakin bahwa Muhammad adalah seorang utusan tuhan adalah karena beliau membawa al Qur’an yang menjadi mukjizat atau bukti dari Allah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apakah Muhammad Layak Menjadi Nabi? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: