Apakah Keotentikan al Qur’an Sama dengan Kitab Suci Lain?

Mei 15, 2012 § Tinggalkan komentar

Ada anggapan bahwa kitab suci selain al Qur’an itu otentik, atau setidaknya ada anggapan bahwa setiap agama punya kitab suci yang kedudukannya sama. Saya tidak tahu apakah anggapan tersebut muncul berdasarkan argumentasi ataukah sekadar karena ada kata suci yang melekat pada kata kitab itu. Nah saya akan membiarkan anggapan tersebut dengan memberikan fakta dan analisis mengenai tingkat keotentikan al Qur’an. Pada tulisan ini saya tidak membandingkan keotentikan al Qur’an dengan kitab suci lain secara langsung. Hal ini karena saya belum mempelajari secara khusus bagaimana kitab suci agama lain dibukukan. Saya hanya akan menyampaikan bekal penting ketika membandingkan keotentikan al Qur’an dengan kitab suci agama lain.

Pertama, Penghafalan al Qur’an telah dimulai sejak jaman Rasulullah hingga kini. Pada saat itu, para sahabat senantiasa menghafalkan al Qur’an dan memerintahkan anak dan istrinya untuk turuh menghafal al Qur’an. Rasulullah pun sering mengecek hafalan para sahabatnya. Fakta saat ini menunjukkan hal yang sama. Sangat mudah sekali ditemukan anak-anak berusia 15 tahun (bahkan kurang) yang hafidz al Qur’an (hafal seluruh isi al Qur’an). Kaum muslimin dari berbagai kalangan terus menerus menghafalkan al Qur’an. Hal ini wajar karena al Qur’an memberikan motivasi yang tinggi kepada para penghafal al quran.

Kedua, periwayatan al Qur’an adalah periwayatan yang mutawatir (diriwayatkan oleh orang banyak). Nabi Muhammad senantiasa menyampaikan al Qur’an di hadapan orang banyak baik ketika shalat atau pada ta’lim-ta’lim. Tidak ada riwayat yang menyatakan ada bagian-bagian tertentu yang disembunyikan. Tidak ada pula riwayat yang menyatakan bagian-bagian tertentu hanya diberikan pada orang-orang tertentu saja. Karena itu, bila ada perubahan sedikit saja pasti langsung diketahui banyak orang.

Ketiga, Al Qur’an ditulis dan disusun ketika Rasulullah masih hidup. Ketika wahyu turun Rasulullah memerintahkan para juru tulis al Qur’an untuk menulis dan menempatkannya dengan urutan tertentu. Setelah dituliskan Rasulullah meminta apa yang tertulis dibacakan kembali sehingga tidak mungkin ada kesalahan. Bahkan ada riwayat yang mengemukakan bahwa Rasulullah, dengan bimbingan wahyu, memperbaiki penulisannya. Yang dilakukan Zaid bin Tsabit pada masa Abu Bakar bukanlah penulisan al Qur’an dari hafalan. Yang dilakukan Zaid adalah penyalinan dari lembaran-lembaran yang ditulis di hadapan Rasulullah.

Keempat, pengumpulan al Qur’an pada masa Abu Bakar diketahui banyak orang. Pada masa itu Zaid dan Umar melakukan pengumpulan di masjid nabawi, tempat orang-orang berkumpul. Diriwayatkan juga bahwa Bilal berkeliling untuk mengumumkan pengumpulan al Qur’an. Karena itu dapat dipastikan tidak ada riwayat yang hilang. Ditambah lagi sebenarnya baik zaid atau pun umar diyakini telah hafal al Qur’an. Ada satu riwayat yang menunjukkan bahwa mereka mencari-cari teks ayat tertentu yang ditulis di hadapan Rasulullah, ayat yang telah mereka hafal.

Kelima, tuduhan adanya perubahan (tahrif) dalam al Qur’an biasanya merupakan persepsi yang tidak ada riwayatnya. Misalnya tuduhan bahwa Utsman mengubah al Qur’an adalah opini tanpa fakta langsung. Riwayat yang ada hanya menunjukkan bahwa Utsman memerintahkan penyalinan mushaf yang dipegang Hafshah dan bila ada perselisihan yang digunakan adalah dialek Quraish, tidak lebih. Terlalu jauh bila akhirnya kesimpulannya ada perubahan dalam al Qur’an. Kesimpulan paling jauh yang mungkin yaitu sab’ah ahruf (tujuh huruf/dialek) yang digunakan pada masa nabi tereduksi menjadi dialek Quraisy saja. Ini pun menjadi perdebatan para ulama.

Begitu pula alasan perbedaan Mushaf Utsman dengan mushaf kuno yang ditemukannya di Yaman oleh Puin, seorang orientalis. Tentu saja mushaf tersebut tidak bisa dijadikan rujukan karena tidak ada jalur periwayatannya. Tidak bisa kita terima bila mushaf Utsman yang mutawatir dibandingkan dengan mushaf kuno yang muncul dari ‘antah berantah’ (tanpa jalur periwayatan).

Keenam, Sampai saat ini al Qur’an masih menggunakan bahasa aslinya. Hal ini karena yang disebut kitab suci adalah yang berbahasa arab. Terjemahan al Qur’an sebaik apapun bukanlah kitab suci. Karena itu, kita tidak akan pernah menemukan terjemahan al Qur’an yang lengkap 30 juz tanpa bahasa arabnya. Kalaupun ada mungkin hanya satu atau beberapa ayat saja. Hal ini penting untuk menjaga otentisitas makna/maksud yang hendak disampaikan al Qur’an.

Al Qur’an pun selalu diterjemahkan dari bahasa aslinya. Tidak pernah ada penterjemah resmi yang menerjemahkan al Qur’an dari terjemahannya. Tidak ada yang menterjemahkan al Qur’an ke dalam bahasa Indonesia dari bahasa Inggris, misalnya. Dapat dipastikan langsung diterjemahkan dari bahasa Arab. Hal ini karena sebaik apapun terjemahan tetap saja merupakan pilihan kata-kata penerjemahnya. Bila suatu kitab suci diterjemahkan ke suatu bahasa bukan dari bahasa aslinya maka apa yang hendak disampaikan kitab suci tersebut bisa tereduksi atau tertambahi. Kalau saja bila bahasa aslinya masih ada tentu kita dapat memverifikasi terjemahan itu.

Dari enam poin di atas saya persilakan pembaca untuk memikirkan sejauh apa keotentikan kitab suci agama lain. Contoh: kalau dikaitkan dengan poin pertama apakah kitab suci lain mulai dihafal semenjak masih ada penyampainya? Poin kedua apakah kitab suci lain diriwayatkan secara mutawatir? Poin ketiga apakah kitab suci agama lain ditulis dan disusun ketika penyampainya masih hidup? Poin keempat apakah pembukuannya diketahui banyak orang sehingga memustahilkan penambahan dan pengurangan? Poin kelima apakah tidak ada perubahan dalam kitab suci lain? Dan terakhir apakah kitab sucinya masih berbahasa asli atau setidaknya apakah terjemahan yang mereka pegang diterjemahkan langsung dari bahasa aslinya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Apakah Keotentikan al Qur’an Sama dengan Kitab Suci Lain? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: