Bisakah Hadits Dipercaya?

Mei 19, 2012 § Tinggalkan komentar

Dalam sebuah diskusi saya pernah mengatakan bahwa saya tidak percaya sejarah. Lalu teman saya bertanya, kalau begitu artinya saya tidak percaya hadits dong? Kan hadits juga sejarah, ujarnya. Saya katakan bahwa hadits itu ada riwayatnya dan bisa diketahui shahih-dhaifnya. Hadits dhaif saja yang tidak dijadikan hujjah (landasan/dasar argumentasi) oleh umat Islam diketahui siapa perawinya. Sedangkan sejarah tidak bisa diketahui siapa saja periwayatnya.

Kaitan tulisan ini dengan tulisan sebelumnya pada seri nabi adalah untuk membuktikan bahwa hadits bisa dipercaya dan landasan argumentasi mengenai kehidupan nabi Muhammad. Jadi seorang Muhammad yang diagung-agungkan umat Islam bukanlah tokoh fiktif yang hanya ada dalam dongeng tapi ia nyata dalam kehidupan.

Penulisan hadits
Salah satu alasan mengapa hadits dianggap kurang terjaga otentisitasnya adalah perintah Nabi sendiri untuk tidak menulis darinya selain al Qur’an. Hal ini mengakibatkan penulisan hadits jadi terlambat dan baru dimulai abad ketiga hijriyah. Rasulullah bersabda,

“Janganlah kalian menulis sesuatu pun dariku selain Al-Qur`an. Barangsiapa yang menulis sesuatu dariku selain Al-Qur`an, maka hendaklah dia menghapusnya.” (HR. Ahmad, Muslim, dan Ad-Darimi dari Abu Said Al-Khudri)

Anggapan hadits baru muncul baru pada abad ketiga hijriyah bisa jadi muncul karena hanya berpatok kepada kitab Shahih Al-Bukhari (w. 256 H), Shahih Muslim (w. 262 H). Kenyataannya penulisan hadits sudah dimulai sejak zaman nabi. Ada beberapa hadits yang secara gamblang memperbolehkan bahkan menyuruh sahabat-sahabat tertentu menulis hadits.

Diriwayatkan dari Abdullah bin Amru bin Al-Ash, beliau berkata, “Dulu saya selalu menulis setiap perkataan yang saya dengar dari Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam karena ingin menjaganya. Tetapi orang Quraisy melarang saya. Mereka mengatakan bahwa Rasul juga manusia biasa yang bisa marah dan gembira. Lalu, saya pun sementara menahan diri untuk tidak menulis hadits, hingga saya sampaikan hal ini kepada Rasulullah. Maka, beliau pun memberikan isyarat dengan jari telunjuknya ke arah mulutnya seraya bersabda,

“Tulislah! Demi Yang jiwaku berada di Tangan-Nya, tidak ada yang keluar darinya kecuali kebenaran.” (HR. Abu Dawud)

Imam Ibnu Hajar menjelaskan berbagai kemungkinan kompromi pemahaman antara hadits-hadits tersebut. Pertama, larangan hanya berlaku selama al Qur’an turun agar tidak tercampur dengan yang lainnya. Kedua, larangannya berarti tidak boleh menulis al Qur’an dan informasi lainnya dalam satu kertas. Ketiga, hadits-hadits yang membolehkan menghapus hadits-hadits yang melarang karena hadits yang membolehkan muncul kemudian. Keempat, larangan ditujukan bagi mereka yang kuat hafalannya sedangkan izin diberikan kepada mereka yang dikhawatirkan akan lupa.

Dr Muhammad Musthafa al A’zhami menghitung jumlah sahabat yang terlibat menulis hadits termasuk di antaranya yang meninggalkan tulisan yang masih bisa dilacak. Total semuanya mencapai 52 orang. Dengan kebolehan menulis hadits dihasilkanlah shahifah-shahifah (lembaran-lembaran) oleh para sahabat, di antaranya: Ash Shahifah ash Shadiqah Abdullah ibn Amr ibn al Ash, Ash Shahifah ash Shahihah Hamman ibn Muhabbih, Shahifah Ali bin Abi Thalib, Shahifah Amr bin Hazm, Shahifah Jabir ibn Abdullah al Anshariy, shahifah Sa’ad bin Ubaddah dan Shahîfah Samurah bin Jundub.

Penghafalan hadits
Jika kemungkinan yang tepat menurut opsi Ibnu Hajar di atas adalah poin yang nomor empat, maka ini menunjukkan Rasulullah menginginkan para sahabat menghafalkan hadits dan tidak bergantung kepada tulisan. Karenanya, larangan Rasulullah menulis tidak otomatis berimplikasi hilangnya hadits.

Pentingnya pentingnya posisi hafalan tersebut sampai-sampai Rasulullah mendoakan Abu Hurairah. Zaid bin Tsaabit ia berkata : ‘Aku, Abu Hurairah, dan seorang yang lain pernah berada di sisi Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam. Beliau bersabda : ‘Berdoalah kalian’.Aku dan temanku pun berdoa, sementara Nabi mengaminkannya. Kemudian Abu Hurairah berdoa : ‘Ya Allah, sesunguhnya aku memohon kepada-Mu semisal apa yang dimohonkan oleh dua orang shahabatku ini. Dan aku memohon kepada-Mu ilmu yang tidak pernah aku lupakan’. Nabi mengaminkannya. Kami pun berkata : ‘Dan kami pun memohon seperti itu juga wahai Rasulullah’. Beliau menjawab : ‘Anak dari suku Daus itu telah mendahului kalian berdua’[Hadits hasan riwayat al Hakim]

Dengan doa Rasulullah, yang tentunya mustajab, jumlah hadits yang dihafal Abu Hurairah tercatat mencapai 1336 buah menurut Dr. Dliyaaurrahmaan Al-A’dhamiy. Jumlah hadits tersebut dihitung dari musnad Abu Hurairah dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal dan ditambah dengan hadits dalam kutub as-sittah. Dan terdapat hadits serupa yang intinya Rasulullah, dengan izin Allah, telah menghilangkan lupa dari Abu Hurairah.

Pada masa berikutnya, para sahabat berpesan kepada tabiin yang belajar kepada mereka untuk menghafalkan hadits bahkan menolak untuk menuliskannya. Imam Ibnu Hajar menggambarkan, ”Sekelompok sahabat tidak suka penulisan hadits dan lebih suka bila orang meriwayatkan dari mereka dengan cara menghafal, seperti cara yang dulu mereka gunakan.” Begitu pula yang terjadi pada masa-masa selanjutnya, para tabiin dan tabiut tabiin menjaga hadits dengan hafalan mereka.

Tradisi hafalan ini memang sudah berlangsung lama sebelum kedatangan nabi Muhammad. Pada masa jahiliah, para penyair arab pergi ke pasar sastra (suuq al adab) untuk membacakan syair dalam bentuk kumpulan bait syair (qashidah). Mereka bisa langsung menghafalnya dengan sekali dengar. Bangsa arab sangat membanggakan hafalan dan kekuatan ingatan mereka.

Pembukuan hadits
Pembukuan hadits secara besar-besaran dimulai pada penghujung abad pertama hijriyah pada masa Khalifah Umar bin Abdul Aziz (w. 99 H). Upaya ini sebenarnya merupakan upaya lanjutan dari pekerjaan yang telah dilakukan ayahnya Khalifah Abdul Aziz bin Marwan (w. 85 H). Khalifah Abdul Aziz bin Marwan pernah memerintahkan Katsir bin Murrah al Hadhrami, seorang tabiin, untuk menuliskan apa yang ia dengar dari para sahabat Rasulullah. Khalifah Umar bin Abdul Aziz, yang masih termasuk generasi tabi’in, memerintahkan semua gubernurnya di seluruh wilayah Islam untuk mengumpulkan hadits-hadits Nabi. Beliau khawatir akan hilangnya ilmu dengan wafatnya para ulama.

Abu Bakar Muhammad bin Amru bin Hazm (w. 98 H) atas perintah Khalifah Umar bin Abdul Aziz, membukukan hadits-hadits Nabi yang ada pada Amrah binti Abdirrahman dan Al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakar. Keduanya paling dipercaya dalam masalah hadits yang bersumber dari Aisyah, shahabiyah yang terbanyak meriwayatkan hadits. Tentu saja karena beliau merupakan istri nabi.

Imam Muhammad bin Syihab Az-Zuhri (58 H – 124 H), seorang tabi’in penghafal hadits, menyambut baik perintah Umar bin Abdil Aziz untuk membukukan hadits. Dia pun mengumpulkan hadits-hadits Nabi yang sudah dia tulis dan hafal, lalu dia letakkan dalam satu buku. Bisa dikatakan, jerih payah Ibnu Syihab ini adalah awal dari aktivitas penyusunan dan pembukuan hadits. Hadits yang diriwayatkan oleh Imam az Zuhri ini mencapai 2.200 hadits. Para ulama mengatakan, “Kalau bukan karena Az-Zuhri, sungguh akan banyak Sunnah yang hilang.”

Pada abad-abad berikutnya khususnya abad ketiga hijriyah mulailah bermunculan karya karya besar di bidang hadits dengan fondasi yang lebih kokoh. Pada masa itu lahir kitab hadits yang enam (kutub as sittah) yaitu: Shahih Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Tirmidzi, Sunan Abu Daud, Sunan Nasa’i dan Sunan Ibnu Majah.

Pemilahan hadits
Pasca terbunuhnya Khalifah Utsman terbentuklah kelompok-kelompok sempalan dan kebohongan atas Rasulullah. Lahirnya hadits-hadits palsu melahirkan kritik dan pemilahan kepada hadits. Sejak saat itu para ulama selalu bertanya mengenai sanad suatu hadits. Abdullah bin Mubarak mengatakan, “Sanad bagiku termasuk bagian dari agama. Jika sanad tidak ada, niscaya orang akan berkata sesuka hatinya”.

Dikisahkan Umar bin Musa bertemu dengan Ufair bin Ma’dan Al-Kula’i di masjid. Lalu, Umar menyebutkan beberapa hadits dari seseorang yang dia katakan sebagai syaikh yang saleh.
Ufair berkata, “Siapa yang engkau maksud dengan syaikh yang saleh ini? Beri tahukan kepada kami siapa namanya, mungkin kami mengenalnya.”
Umar, “Dia adalah Khalid bin Ma’dan.”
Ufair, “Pada tahun berapa engkau bertemu dengannya?
Umar, “Pada tahun seratus delapan.”
Ufair, “Di mana engkau bertemu dengannya?”
Umar, “Di Perang Armenia.”
Maka, Ufair pun berkata, “Takutlah engkau kepada Allah, ya Syaikh! Janganlah engkau berbohong. Khalid bin Ma’dan itu meninggal tahun seratus empat. Bagaimana mungkin engkau bertemu dengannya empat tahun setelah dia meninggal? Aku tambahkan lagi, sesungguhnya Khalid bin Ma’dan sama sekali tidak pernah ikut Perang Armenia. Perang yang dia ikuti adalah Perang Romawi!”

Para ulama pada masa itu bekerja dengan giat membersihkan hadits dari hadits palsu, yang sebenarnya tidak bisa disebut sebagai hadits. Pemilahan tersebut bahkan bisa membedakan mana hadits yang kuat (shahih) dan mana hadits yang lemah (dhaif).

Adapun hadits yang kuat para ulama sepakat harus memenuhi lima syarat, walaupun mereka berbeda pada penerapannya. Syarat syarat tersebut yaitu: bersambung sanadnya (tiap rawi dapat saling bertemu dan menerima langsung dari yang memberi hadits), diriwayatkan oleh periwayat yang ‘adil (rawi selalu memelihara ketaatan dan menjauhi perbuatan maksiat), diriwayatkan oleh periwayat yang dhabit (kuat ingatannya), terhindar dari syaz (tidak ada bertentangan dengan al Qur’an atau hadits yang yang maqbul), dan terhindar dari ‘illat(kecacatan hadits).

Pertentangan antarhadits
Ada yang meragukan otentisitas hadits karena antarhadits terdapat pertentangan. Pada dasarnya seharusnya tidak ada pertentangan antarhadits karena hadits merupakan wahyu juga. Jika pertentangan itu terjadi antara hadits shahih dan hadits dhaif, masalah ini sederhana saja. Artinya hadits shahih itu benar dan hadits dhaif itu salah. Hal ini karena hadits dhaifsejak awal tidak bisa dijadikan sebagai hujjah. Kalaupun dianggap ada, yang terjadi sebenarnya hanya rendahnya kemampuan kita untuk menangkap maksud hadits yang dianggap bertentangan itu.

Lebih lanjut para ulama sebenarnya memiliki cara untuk memahami hadits-hadits yang dianggap bertentangan. Pertama, menjama’ (mengkompromikan) hadits. Contoh menjama’ hadits ini sama dengan penjelasan Ibnu Hajar tentang masalah penulisan hadits di atas. Kedua, bila menjama’ hadits tidak bisa dilakukan maka dilakukan tarjih (mengunggulkan salah satunya). Misalnya, bila ada pertentangan hadits yang berbicara masalah kerumahtanggaan antara sahabat dan istri nabi, tentu hadits dari istri Nabi didahulukan. Bukan berarti haditsnya salah atau sahabatnya berbohong, tapi sahabat tersebut hanya mengungkapkan apa yang ia tahu sedangkan istri nabi tentu yang paling tahu.

Urgensi Pemeliharaan hadits
Umat Islam pada masa itu sangat perhatian terhadap pemeliharaan hadits. Mereka rela mengorbankan apapun untuk mendapatkan hadits. Dalam Shahih al-Bukhari dijelaskan, Jabir bin Abdullah al-Anshari menempuh perjalanan sebulan untuk menemui Abdullah bin Unais al-Juhani, hanya untuk mendapatkan sebuah hadits. Dia juga menjumpai gubernur Mesir, Maslamah bin Mukhlad untuk sebuah hadits. Begitu pula, seorang tokoh kenamaan Abu Ayyub al-Anshari menemui ‘Uqbah bin Amir hanya untuk mendengarkan sebuah hadits.

Ada lagi ungkapan Abu Hati ar-Razi yang diceritakan Imam adz-Dzahabi dalam Tazkiratul Huffaz, “Pertama kali aku memasuki Bahrain dan menetap selama tujuh tahun, dan aku berjalan kaki sejauh lebih dari seribu farsakh (kurang lebih 8.000 km). Aku pergi dari Bahrain ke Mesir dengan berjalan kaki, begitu pula aku pergi ke Ramlah, lalu ke Tarsus. Perjalananku ini menghabiskan waktu dua puluh tahun”.

Mungkin ada yang heran, “Mengapa umat Islam pada masa itu mau mengorbankan banyak hal bahkan menempuh perjalanan ribuan kilometer demi mengumpulkan hadits?” Atau “Apa sih alasan mereka sampai begitu ngotot mendapatkan hadits?” Kebingungan ini diperparah juga dengan sikap beberapa oknum “ulama” saat ini, terutama dari JIL, yang mereduksi Islam menjadi hanya nilai-nilai saja. Mekanisme pelaksanaan bisa disesuaikan dengan zamannya. Padahal Islam telah diturunkan secara lengkap baik nilai maupun mekanisme. *

Ashhabus Sunan meriwayatkan bahwa seorang nenek datang kepada Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. untuk menuntut hak warisnya. Abu Bakar menjawab: “Saya tidak mendapati hakmu dalam Al-Qur’an maka pulanglah dulu, dan tunggulah hingga aku menanyakannya kepada para sahabat Rasulullah.” Kemudian al-Mughirah bin Syu’bah mengatakan kepada Abu Bakar: “Suatu ketika aku pernah menjumpai Rasulullah memberikan hak seorang nenek seperenam.” Mendengar pernyataan al-Mughirah itu Abu Bakar kemudian memanggil nenek tadi dan memberinya seperenam.

Jika Islam hanya berupa nilai-nilai saja, seperti keadilan, Abu bakar tidak perlu repot untuk menanyakan bagaimana aturan perwarisan itu. Beliau tinggal mengatakan “Dulu kan zaman Rasulullah, sekarang kan zamannya sudah berbeda, yang penting adil.” Kenyataannya perubahan zaman itu hanya perubahan teknologi saja, tidak lain. Karena itu, tidak dibutuhkan ada perubahan hukum. Dengan kesadaran tersebut, berlomba-lombalah umat Islam menjaga sumber-sumber agama mereka baik al Qur’an maupun as sunnah.

“Telah aku tinggalkan kepada kalian dua perkara, dimana jika kalian berpegang teguh kepada keduanya, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya. Yaitu Kitab Allah (Al Qur’an) dan Sunnah Nabi-Nya.” (HR. Malik dan Hakim)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Bisakah Hadits Dipercaya? at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: