Debat Mengenai Agama dan ‘Logika Berserah Diri’

Mei 24, 2012 § 2 Komentar

oleh: Hamza Tzortzis

Bulan lalu saya berpartisipasi dalam debat bertajuk ‘Dialogue With Islam’ dengan penulis dan filsuf terkenal Dr. Nigel Warburton. Bahasan debatnya adalah “Apakah Agama mendorong kebaikan atau kejahatan?”. Secara umum, saya pikir debat tersebut adalah pengalaman berharga.

Bagian saya adalah menyajikan agama, khususnya Islam, sebagai dorongan ‘kebaikan’. Saya mulai dengan menyajikan agama sebagai sebuah fenomena sosial, dengan cara ini kebanyakan penonton humanis/ateis yang tidak percaya landasan intelektual agama apapun, harusnya bisa menerima. Sesuai pertanyaan pembuka yang diajukan moderator, saya mulai berbicara tentang agama secara umum. Saya menghindari membahas keberadaan Tuhan atau upaya menunjukkan kompatibilitas intelektual dengan agama dan akal. Saya fokus pada pemahaman keyakinan agama itu sendiri dan bagaimana hal ini berkaitan dengan world view dan akibatnya terhadap perilaku individu dan sosial. Semua ini adalah topik diskusinya.

Karena beranggapan debat ini bisa memicu emosi, saya sengaja fokus pada bahan penelitian akademik dan tidak bergantung pada pengalaman subyektif saya sendiri. Saya langsung memaparkan jurnal psikologi, sosiologi dan filsafat pada studi agama dan religiusitas. Yang membuat saya heran, ternyata sangat sulit menemukan penelitian kontemporer yang menunjukkan agama dan pengikutnya menjadi dorongan berbuat ‘kejahatan’.

Nyatanya penelitian kontemporer memberi kesimpulan yang berlawanan. Menurut penelitian, agama meningkat kebahagiaan, kesehatan mental dan fisik. Tidak cukup sampai di situ, penelitian juga menunjukkan agama mencegah kejahatan, meningkatkan tingkat kedermawanan dan kepedulian. Ada begitu banyak penelitian di luar sana, beberapa contoh misalnya:

  • Pada tahun 2001 Schnittker dalam “Journal for the scientific study of religion” memeriksa data set 2.836 orang dewasa dari populasi umum dan ia menemukan agama tidak memiliki hubungan yang signifikan dengan depresi. Dia juga menemukan religiusitas adalah penyangga bagi tekanan mental.
  • Pada tahun 2002 Smith, McCullough dan Poling, dalam jurnal mereka “A meta analytic review of the religiousness-depression association: evidence for main effects and stress buffering effects” dilakukan analisis lebih dari 200 studi sosial dan menemukan religiusitas yang cukup tinggi memprediksi risiko rendah depresi, penyalahgunaan obat-obatan dan lebih sedikit upaya bunuh diri.
  • Pada tahun 2002 Bryan Johnson dan koleganya dari Centre for Research on Religion and Urban Civil Society, Universitas Pennsylvania, meninjau 498 penelitian yang diterbitkan. Mereka menyimpulkan sebagian besar studi menunjukkan korelasi positif antara komitmen agama dalam tingkat yang lebih tinggi bagi kesejahteraan dan harga diri, dan tingkat yang lebih rendah bagi hipertensi, depresi dan kenakalan kriminal.
  • Dalam Handbook of Religion and Health, yang diedit Harold Koenig, Michael McCullough dan David Larson, para penulis meninjau 2.000 percobaan yang dirancang menguji hubungan antara agama dan berbagai kondisi medis seperti penyakit jantung, kanker dan depresi. Hasil keseluruhan adalah orang-orang beragama cenderung hidup lebih lama dan memiliki hidup sehat secara fisik. Kaum muda memiliki tingkat signifikan lebih rendah dari penyalahgunaan obat dan alkohol, kenakalan kriminal dan mencoba bunuh diri.
  • Bahkan di Cina yang secara resmi bukan negara agama, sebuah studi baru-baru ini oleh Paul Badham dan Xinzhong Yao untuk Ian Ramsey Centre di Universitas Oxford, melaporkan mayoritas dari mereka yang merasakan pengalaman keagamaan memiliki dampak positif pada kehidupan mereka.
  • Pada tahun 2000, Ilmuwan dan Profesor Politik, Robert Putnam menyurvei 200 organisasi relawan menunjukkan ada hubungan positif antara religiusitas dan keanggotaan organisasi relawan.
  • The Index of Global Philanthropy, 2007 menyatakan: “Orang beragama lebih dermawan daripada yang tidak agama, mereka tidak hanya memberikan kepada jemaat sendiri, tetapi juga –terlepas dari pendapatan, wilayah, kelas sosial, dan variabel demografis lain– jauh lebih dermawan di sumbangan sekuler dan informal.”

Saya mengakhiri presentasi saya dengan mengatakan bahwa Islam, dengan menggunakan ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad, mencapai hal di atas, dan yang terpenting adalah bagaimana Islam mencapai masyarakat yang kohesif/bersatu (Saya menulis panjang lebar tentang ini di blog ini, jadi tidak diulas lebih jauh). Saya menyimpulkan dengan mengatakan agama mencapai hal-hal ini, karena agama memberikan dorongan atas kebaikan.

Argumentasi pihak humanis mengecewakan saya. Argumen utamanya hanya pengalaman pribadi tanpa penelitian objektif. Tidak ada bukti atau pembenaran atas klaim yang dibuat. Dr. Warburton menanggapi kekecewaan saya dengan mengatakan penelitian tidak berarti apa-apa, dan seseorang penonton menyatakan ada penelitian yang membantah klaim saya. Saya menunggu penjelasan penelitian itu dan alasan mengapa usaha saya dianggap sebagai tidak relevan, tapi saya tidak mendengar apa-apa, selama atau setelah perdebatan.

Bukankah kebiasaan humanis dan ateis menuduh umat beragama tidak objektif dan tidak menggunakan akal? Berdasarkan pengalaman ini saya jadi kesulitan memahami mengapa mereka bisa membuat klaim seperti itu.

Tapi di awal saya sampaikan bahwa debat tersebut adalah pengalaman berharga. Alasannya karena saya belajar banyak tentang mentalitas sebagian orang yang menolak agama dari pernyataan seorang penonton. Ia mengatakan sesuatu seperti ini, “Kami tidak ingin berserah diri, berserah diri itu berbahaya dan terbelakang”. Saya memikirkan ini sebentar dan memberikan jawaban. Sejak itu, saya menyebutnya ‘logika berserah diri’.

Kata logika berasal dari kata Yunani, dan dalam filsafat, ilmu logika mempelajari prinsip-prinsip penalaran dan penyimpulan yang sahih. Logika sangat penting karena penggunaannya memungkinkan kita secara efektif menyampaikan dan menolak suatu argumen. Sekarang dalam konteks berserah diri kepada Allah, saya gunakan logika sebagai berikut:

1. Berserah diri kepada Yang Mahatinggi lebih rasional daripada berserah diri kepada manusia
2. Islam mengharuskan manusia berserah diri kepada Yang Mahatinggi
3. Karena itu, Islam lebih rasional

Saya merasa logika ini hampir tak terbantahkan. Satu-satunya cara menanggapi argumen ini adalah membahas asumsi-asumsinya. Dalam hal ini asumsinya adalah,

1. Sesuatu Yang Mahatinggi (yakni Tuhan) ada
2. Yang Mahatinggi ini mengharuskan kita tunduk kepada-Nya

Saya melanjutkan dengan mengatakan kita harus mengalihkan perdebatan ke keberadaan Tuhan dan mukjizat Al Qur’an, karena jika dapat dibuktikan Tuhan itu ada dan Al Qur’an adalah mukjizat, dengan kata lain, datang dari Allah, para humanis juga harus berserah diri (karena Al Qur’an menyuruh kita berserah diri kepada Allah). Namun moderator, Dr. Mark Vernon, memotong dan mengingatkan saya bahwa itu bukanlah topik debatnya.

Saya setuju, tapi hal itu menyisakan pikiran bahwa umat Islam tidak harus menjawab banyak pertanyaan, seperti “Mengapa kamu tidak makan daging babi?”, “Mengapa kamu puasa?”, “Mengapa kamu shalat lima kali sehari?”. Yang harusnya kita katakan adalah “Karena Tuhan menyuruh begitu” dan jika orang tersebut mengerutkan kening atau menganggap kita gila?, kita harus menjelaskan kepada mereka tentang ‘logika berserah diri’ sebab lebih rasional berserah diri.

Jika mereka bertanya lebih jauh dan mengupas landasan intelektual dengan menyorot asumsi kita, yaitu keyakinan kita bahwa tuhan ada dan Al Qur’an adalah mukjizat, yang harus kita semua lakukan adalah menjelaskannya kepada mereka.[]

§ 2 Responses to Debat Mengenai Agama dan ‘Logika Berserah Diri’

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Debat Mengenai Agama dan ‘Logika Berserah Diri’ at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: