Batagor

Mei 26, 2012 § Tinggalkan komentar

Pada waktu-waktu tertentu, ibu saya pulang dengan membawa batagor. Ini karena tiap ibu saya dapat giliran mengisi ceramah di Jamika, ia pasti diberi oleh-oleh dari seorang ketua jamaah Persistri yang juga bos sebuah warung batagor. Ibu tersebut memang selalu membagi-bagikan batagor jualannya tiap pengajian di daerahnya.

Suatu waktu Ibu saya bertanya pada temannya itu, “Gimana sih ceritanya bisa sukses seperti ini?”

Teman ibu saya itu menjawab, “Kesuksesan sekarang itu penderitaan sepuluh tahun lalu.”

Sepuluh tahun lalu kehidupan ibu tersebut beserta keluarganya serba kekurangan. Rumahnya saat itu hampir rubuh. Tidak hanya itu, saudara2nya, yang dikaruniai kondisi lebih baik, bukannya membantu tapi mengejek-ngejeknya.

Ejekan itu semakin meningkat tatkala anak pertamanya memutuskan untuk masuk madrasah tsanawiyah. Ia ingin masuk ke sana karena ia punya sahabat baik yang pintar masuk kesana. Sahabatnya ini yang saya ceritakan di note yang berjudul khutbah nikah.

Saudara-saudaranya mengatakan, “Ngapain mesantren? Orang yang mesantren tuh ga akan kaya, ga akan bisa beli motor, ga akan bisa beli mobil.” Begitu kira-kira ejekan mereka. Untuk yang ini bukan hanya saudaranya yang tidak mendukung, tetapi suaminya juga tidak mendukungnya. Ia bahkan mengancam tidak akan membiayai bila tetap bersekolah di tsanawiyah.

Tetapi melihat keinginan anaknya yang kukuh, sang ibu memutuskan untuk menyekolahkan anaknya ke sana. Karena ayahnya tidak membiayai, sang ibu memutuskan untuk berjualan. Ia berjualan apa saja di warung yang ia buka di rumahnya, gorengan-gorengan, batagor dan yang sejenisnya. Seringnya sih tidak habis sehingga dagangannya itu malah dimakan sendiri.

Jalan mulai terbuka ketika anaknya yang kedua, yang juga memutuskan untuk sekolah di tsanawiyah, memutuskan untuk berjualan. Bahkan anak itu sudah meminta izin bolos kepada guru-gurunya di sana untuk bolos untuk berjualan. Ibunya sempat melarang jika harus sampai bolos. Tetapi si anak berkilah, jualan ini untuk membayar uang sppnya yang belum dibayar selama enam bulan.

Berbekal uang 20 ribu ia membeli “endog cakcak” dan berjualan di sekitar Jalan Moh. Toha. Endog cakcak itu sejenis gula-gula berbentuk telur yang ukurannya kecil-kecil. Dijual dengan bungkusan kecil-kecil.

Tiap berangkat dari rumahnya ia selalu membuat kaget keluarganya karena ia selalu berteriak-teriak. Sambil mengangkat kedua tangan ia berteriak, “Meuli motooooor!”, lalu menggerak-gerakkan kedua tangannya ke kiri ke kanan sambil berteriak, “maca kitaaaaaaaaab!”

Hari pertama berjualan, anak kedua itu pulang dengan tangan hampa. Tapi ia tidak patah semangat. Keesokan harinya ia pergi kembali dengan membawa cita-citanya, “Meuli motooooor! Maca kitaaaaaab!” Namun beberapa hari berjualan, ia harus pulang tetap dengan tangan hampa. Bahkan kaki anak tersebut sampai bengkak karena harus mendorong gerobak jualan dengan jarak yang jauh.

Ibunya lalu menyarankan kalau berjualan makanan untuk anak-anak, berjualanlah di tempat anak-anak bermain. “Coba jualan di pasar burung,” ujar ibunya. Tanpa patah semangat, dan tentunya dengan gaya seperti biasa, anak keduanya berangkat ke pasar burung. Benar saja. Petunjuk ibunya itu manjur. Dagangannya ludes. Ia untung besar.

“Ibu besok saya jualan lagi di sana,” ujar anak kedua itu, “tapi jualannya ditambah dengan peluit dan balon.” Hari itu ia kembali untung besar. Dalam sehari untungnya sampai seratus ribu rupiah.

“Maca kitaaaab! Meuli motooooor!”

Mulai dari sana usahanya berkembang. Dari keuntungan jualan, anaknya memberi modal tambahan bagi warung sang ibu sehingga warung itu mulai menjual beraneka ragam dagangan. Sang neneknya yang juga pernah ikut mengejek, diberi uang oleh sang anak. Dengan jualannya ia bisa memperbaiki rumahnya dan juga yang paling penting, beli motor. Mulailah keluarganya berubah sikap kepada mereka.

Setelah pengalaman panjang ternyata batagornya lah yang paling laku dan bisa mengantarkan mereka menjadi orang yang berada. Terlebih semenjak masuk ke sebuah acara wisata kuliner di televisi. Dari berjualan batagor itu ia bisa memperbaiki rumahnya, naik haji, bahkan memiliki mobil. Tidak cuma itu, artis-artis kadang suka ada yang bertandang ke sana. Malah pernah dede yusuf datang membeli batagor 10 kotak.

Sekarang, mereka sudah menyewa tempat yang harganya 70 juta untuk dua tahun. Teman ibu saya bilang, “Ini baru beberapa bulan, tapi sewa tempat seharga 70 juta itu sudah terbayar. Sekarang tinggal untungnya aja.”

Kuncinya menurut ibu saya, sang ibu beserta kedua anaknya itu sangat gigih dalam berusaha. Tidak peduli dengan cercaan dan hinaan orang. Dan yang paling penting ketika mereka menghadapi kesulitan yang berat, mereka tidak menghadapinya sendiri. Mereka meminta pertolongan dari Allah. Bagi mereka, setiap masalah akan mudah dipecahkan bila mereka shalat tahajud.[]

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

What’s this?

You are currently reading Batagor at إرفان حبيبي.

meta

%d blogger menyukai ini: